Wu Yize memasuki klub biliar TNT dengan sambutan layaknya seorang bintang rock.
Sorakan dan teriakan menggema di seluruh ruangan di kota Xi’an, China bagian barat.
Ia melambaikan tangan dengan malu-malu, menampilkan ekspresi khas pemuda 22 tahun yang belum terbiasa dengan ketenaran mendadak di negaranya sendiri.
Namun hal itu tidak mengurangi antusiasme mereka yang datang untuk melihat langsung sosok yang kini berada di puncak dunia.
Awal pekan ini, seorang pemain China memenangkan Kejuaraan Dunia Snooker untuk tahun kedua berturut-turut, dan pencapaian itu berhasil memikat perhatian negara tersebut.
Bukan hanya keberhasilan mempertahankan dominasi yang membuat kisah ini begitu besar. Publik juga terpesona oleh perjalanan bak dongeng seorang pemuda yang putus sekolah pada usia 16 tahun demi pindah ke Sheffield untuk mengejar mimpi menjadi pemain profesional.
Kini ia pulang ke tanah air sebagai pemain termuda kedua sepanjang sejarah yang berhasil meraih gelar juara dunia.
menanyakan kepada Wu bagaimana perasaannya melihat begitu banyak penggemar datang menyambutnya. Ia menjawab sambil tersenyum lembut: “Senang sekali merasakan kehangatan tanah air saya.”
Pemain snooker berwajah muda itu kemudian memperlihatkan beberapa pukulan andalannya di hadapan penonton yang berdecak kagum, termasuk saat bermain melawan salah satu penggemar, Liu Yi Fei. Ia sebelumnya memenangkan babak play-off di lokasi tersebut untuk mendapat kesempatan bermain bersama Wu.
Liu mengatakan kesuksesan Wu membuatnya semakin termotivasi meningkatkan kemampuannya sendiri, dan menurutnya China akan melahirkan lebih banyak pemain seperti dirinya di masa depan.
“Di China, semakin banyak orang bermain,” katanya. “Semakin banyak aula biliar dibuka, dan olahraga ini menjadi semakin populer.”
Diperkirakan sekitar 60 juta orang bermain biliar di China setiap tahun, tersebar di sekitar 300.000 aula seperti yang ada di Xi’an.
Negara itu kini terus melahirkan pemain snooker berkualitas tinggi. Saat ini, pemain China mencakup seperempat dari seluruh pemain di sirkuit profesional dunia.
Jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat dengan munculnya generasi muda baru.
Seorang bocah berusia delapan tahun mengatakan bahwa dirinya juga sudah cukup hebat bermain snooker.
“Suatu hari nanti saya ingin jadi juara seperti Wu Yize,” katanya.
Salah satu alasan ledakan popularitas snooker di China adalah karena olahraga ini masih relatif murah dimainkan di negara tersebut.
Hal itu menjadi keuntungan tersendiri bagi kota seperti Xi’an, yang — seperti sebagian besar wilayah China barat — belum menikmati tingkat perkembangan ekonomi sepesat kawasan tenggara negara itu.
Lebih jauh ke barat lagi, provinsi asal Wu, Gansu, yang dikenal dengan wilayah gurunnya, bahkan memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih rendah.
Fakta bahwa Wu berasal dari wilayah seperti itu semakin memperkuat kisah “dari nol menjadi bintang” yang melekat padanya.
Cerita tentang dirinya yang harus berbagi tempat tidur dengan sang ayah di apartemen tanpa jendela saat remaja di Sheffield membuat kemenangan ini terasa semakin manis, terutama setelah ia menyatakan akan menggunakan hadiah uangnya untuk menyediakan tempat tinggal bagi orang tuanya di Inggris agar mereka dapat terus mendukung kariernya.
Penggemar lain yang datang dari provinsi asal Wu dan menempuh perjalanan berjam-jam menggunakan kereta cepat menuju Xi’an juga membawa foto sang juara untuk ditandatangani.
Ia tampak sangat antusias.
“Saya tahu dia akan menjadi hebat. Sekarang saya semakin mengaguminya,” katanya.
