Maskapai berbiaya rendah Spirit Airlines pada Sabtu mengumumkan telah resmi menghentikan operasinya setelah bertahun-tahun mengalami kesulitan keuangan, dengan lonjakan biaya bahan bakar akibat perang Iran disebut sebagai pukulan terakhir.
Perusahaan menyatakan telah melakukan “upaya luas dan komprehensif untuk merestrukturisasi bisnis” setelah dua kali mengajukan kebangkrutan pada 2024 dan 2025. Namun, mereka menambahkan bahwa “kenaikan harga bahan bakar yang mendadak dan berkelanjutan dalam beberapa pekan terakhir pada akhirnya tidak menyisakan pilihan lain.”
Maskapai tersebut memberi tahu pelanggan bahwa seluruh penerbangan telah dibatalkan, dan proses pengembalian dana sedang dilakukan. Penumpang juga diminta untuk memesan ulang penerbangan melalui maskapai lain.
Spirit Airlines didirikan pada 1983 dengan nama Charter One Airlines sebagai operator tur charter. Perusahaan berganti nama menjadi Spirit pada 1992, bertransformasi menjadi maskapai penumpang dan pelopor perjalanan udara berbiaya rendah dengan layanan minimal demi tarif dasar yang murah. Pada 2025, maskapai ini mengangkut sekitar 30 juta penumpang—turun tajam dari puncaknya yang melampaui 44 juta penumpang pada 2023 dan 2024.
Presiden Donald Trump dan pemerintahannya sempat mengusulkan bailout federal sebesar 500 juta dolar AS untuk maskapai yang berbasis di Florida tersebut. Namun, para pemegang obligasi gagal mencapai kesepakatan terkait restrukturisasi yang dapat menyelamatkan perusahaan dengan dana tersebut.
Mengapa Spirit tutup?
Spirit sebenarnya telah mengalami kesulitan keuangan jauh sebelum perang Iran dimulai. Namun, krisis energi global yang dipicu oleh penutupan dan kontrol Iran atas Selat Hormuz—jalur yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia—mempercepat kejatuhan perusahaan.
Dave Davis, Presiden sekaligus CEO Spirit, menyebut “kenaikan harga bahan bakar yang mendadak dan berkelanjutan dalam beberapa pekan terakhir” sebagai alasan utama penutupan.
“Mempertahankan bisnis ini membutuhkan ratusan juta dolar tambahan likuiditas yang tidak dimiliki Spirit dan tidak dapat kami peroleh,” ujarnya dalam pernyataan resmi. “Ini sangat mengecewakan dan bukan hasil yang diinginkan oleh siapa pun di antara kami.”
Menurut analis J.P. Morgan yang dikutip Wall Street Journal, jika harga bahan bakar tetap tinggi, biaya Spirit bisa meningkat hingga 360 juta dolar AS pada akhir tahun.
Penutupan ini terjadi setelah bertahun-tahun maskapai besar menyesuaikan diri untuk bersaing dengan model hemat biaya Spirit. Program loyalitas, kartu kredit bermerek, kemitraan korporasi, serta berbagai keuntungan bagi penumpang setia di maskapai besar seperti Delta dan American berhasil menarik pelancong yang sensitif terhadap harga menjauh dari Spirit.
Menteri Transportasi Sean Duffy membantah bahwa penutupan Spirit sepenuhnya disebabkan oleh perang Iran dalam konferensi pers Sabtu.
“Spirit sudah berada dalam kondisi sangat sulit jauh sebelum perang dengan Iran,” kata Duffy. “Model bisnis mereka tidak berjalan. Mereka tidak mampu mencapai kesehatan fiskal. Jadi ini bukan pemicu utama. Perang bukanlah penyebab utama bagi Spirit.”
Duffy justru menyalahkan pemerintahan Joe Biden dan mantan Menteri Transportasi Pete Buttigieg setelah Departemen Kehakiman menggugat untuk memblokir rencana merger Spirit dengan JetBlue pada 2023. Pemerintahan Biden berargumen bahwa merger tersebut dapat menyebabkan puluhan juta penumpang menghadapi tarif lebih tinggi dan pilihan yang lebih sedikit.
Upaya Trump menyelamatkan Spirit
Dalam beberapa pekan terakhir, Trump mengusulkan kemungkinan bailout bagi Spirit, dengan skema federal senilai 500 juta dolar AS yang berpotensi membuat pemerintah memiliki hingga 90% saham maskapai tersebut.
Ia mengatakan bahwa dirinya “ingin ada pihak yang membeli Spirit, ini menyangkut 14.000 lapangan kerja,” serta menyebut “mungkin pemerintah federal harus membantu.”
Namun, gagasan tersebut memicu kekhawatiran dari Partai Republik maupun Demokrat, yang mempertanyakan apakah pengambilalihan Spirit merupakan penggunaan dana pajak yang tepat.
“Pemerintah tidak tahu apa-apa soal menjalankan maskapai berbiaya rendah yang gagal,” ujar Senator Partai Republik Ted Cruz melalui platform X pada April.
Dalam pernyataannya, Davis tetap mengucapkan terima kasih kepada pemerintah “atas upaya luar biasa dalam mencoba mempertahankan lapangan kerja dan layanan di seluruh negeri.”
Sementara itu, Duffy dan Departemen Perhubungan menyatakan bahwa maskapai lain kini membatasi harga tiket bagi pelanggan Spirit yang ingin memesan ulang penerbangan.
Apakah maskapai murah lain juga terancam?
Sejak dimulainya serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari, harga bahan bakar jet di Amerika Serikat melonjak hampir 70%, menurut Argus U.S. Jet Fuel Index.
Krisis ini berdampak luas pada maskapai dan penumpang, mendorong kenaikan harga dan menciptakan ketidakpastian perjalanan.
Kenaikan biaya ini juga dirasakan langsung oleh konsumen, karena maskapai berupaya menyeimbangkan biaya melalui peningkatan harga tiket dan biaya bagasi. Menurut mesin pencari perjalanan Kayak, rata-rata tarif penerbangan internasional dari Amerika Serikat naik sekitar 37% sejak perang dimulai.
Maskapai kecil di seluruh dunia kini menghadapi keputusan yang lebih sulit akibat margin keuntungan yang lebih tipis. Pada pertengahan April, maskapai liburan asal Meksiko, Magnicharters, membatalkan seluruh penerbangan selama dua pekan, menyebabkan sejumlah wisatawan terlantar di destinasi populer seperti Cancún, Mérida, dan Huatulco.
Sementara itu, Ryanair—maskapai terbesar di Eropa—mengatakan sedang mempertimbangkan pengurangan rute. Langkah serupa juga dipertimbangkan oleh sejumlah maskapai lain di Eropa dan Asia seperti Vietnam Airlines, AirAsia, dan Scandinavian Airlines, yang semuanya menyebut kenaikan harga bahan bakar jet sebagai faktor utama.
