Mikroplastik tampaknya kini ada di mana-mana — mulai dari lautan dan udara, hingga air minum dan produk kosmetik. Para peneliti bahkan telah menemukan bukti keberadaan mikroplastik, serta nanoplastik yang berukuran lebih kecil, di berbagai bagian tubuh manusia.
Kini, para ilmuwan mulai meyakini bahwa partikel mikroskopis yang beterbangan di udara juga bisa ikut berkontribusi terhadap pemanasan global. Hal itu memunculkan pertanyaan besar: seberapa khawatirkah kita seharusnya?
Dari Ban Kendaraan hingga Pakaian Polyester
Mikroplastik adalah partikel sangat kecil berukuran kurang dari lima milimeter yang berasal dari pecahan atau peluruhan produk plastik.
Saat plastik rusak atau aus — misalnya ketika pakaian polyester dicuci atau ban kendaraan terkikis di jalan — partikel-partikel mikroskopis plastik akan terlepas ke lingkungan dan cukup ringan untuk terbawa udara.
Begitu berada di atmosfer, partikel ini dapat memengaruhi kondisi udara dengan berbagai cara.
“Partikel di udara bisa memengaruhi atmosfer dengan dua cara,” kata Fay Couceiro, profesor polusi lingkungan dari University of Portsmouth.
“Mereka bisa memantulkan sinar matahari kembali ke luar angkasa sehingga permukaan bumi menjadi lebih dingin, atau justru menyerap panas dan menghangatkan udara di sekitarnya, yang pada akhirnya ikut memanaskan planet.”
Diduga Ikut Memperparah Pemanasan Global
Sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Nature Climate Change pekan ini menemukan bahwa mikroplastik di udara — terutama partikel hitam dan berwarna gelap — tampaknya lebih banyak menyerap panas dibanding memantulkannya.
Artinya, mikroplastik berpotensi ikut berkontribusi terhadap pemanasan global.
Para peneliti memperkirakan mikroplastik di atmosfer menyumbang pemanasan global sekitar seperenam dari dampak karbon hitam atau jelaga, polutan yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil.
Meski demikian, dampaknya masih jauh lebih kecil dibanding gas rumah kaca utama seperti karbon dioksida dan metana.
“Mereka sebenarnya hanya sebagian sangat kecil dari keseluruhan polutan di udara,” kata Ian Mudway, profesor toksikologi lingkungan dari Imperial College London yang tidak terlibat dalam studi tersebut.
Namun, menurut para ahli, kecilnya kontribusi itu bukan berarti persoalan ini bisa diabaikan.
“Apakah kita perlu khawatir? Ya. Apakah kita harus panik? Tidak,” ujar Couceiro, yang juga tidak terlibat dalam penelitian baru tersebut.
“Kita belum punya cukup bukti untuk mengatakan bahwa seluruh plastik di planet ini harus dihilangkan. Tapi saya rasa kita memang perlu khawatir, membatasi paparan, dan mencegah situasinya menjadi lebih buruk.”
Dampak terhadap Tubuh Manusia Masih Misterius
Para ilmuwan mengakui masih banyak hal yang belum diketahui mengenai dampak mikroplastik terhadap kesehatan manusia.
“Butuh waktu lama untuk memisahkan mana dampak plastik dan mana dampak obesitas, usia, atau faktor lain dalam kehidupan kita,” kata Couceiro.
Namun, sejumlah temuan awal dinilai cukup mengkhawatirkan.
Penelitian kultur sel manusia menunjukkan konsentrasi mikroplastik yang tinggi dalam sel dapat memicu berbagai masalah, mulai dari peradangan hingga gangguan hormon.
Salah satu penelitian yang dikerjakan Couceiro juga meneliti dampak mikroplastik terhadap alga dan menemukan bahwa keberadaan partikel tersebut menyebabkan gangguan besar pada ekosistem.
“Pertumbuhan alga menurun, dan itu berdampak pada seluruh hewan yang bergantung padanya sebagai sumber makanan,” jelasnya.
“Kalau hewan memakan mikroplastik, partikel itu bisa menyumbat usus mereka, masuk ke insang dan membuat mereka kesulitan bernapas, atau zat kimianya bisa mengganggu hormon dan menyebabkan infertilitas.”
Menurut Mudway, fakta bahwa dampak penuh terhadap manusia belum dipahami sepenuhnya seharusnya bukan alasan untuk menunda tindakan.
“Fakta bahwa mikroplastik merusak lingkungan seharusnya sudah cukup membuat kita bertindak,” katanya.
“Tetapi kita selalu berusaha membuktikan bahwa itu juga berbahaya bagi manusia, karena itulah yang biasanya mendorong tindakan nyata.”
Bisakah Mikroplastik di Udara Dihilangkan?
Saat ini, menghilangkan mikroplastik dari atmosfer sepenuhnya masih mustahil dilakukan.
“Bahkan jika kita berhenti memproduksi plastik sekarang, penumpukan di lingkungan masih akan terus berlangsung untuk beberapa waktu,” kata Couceiro.
Namun, bagi masyarakat yang khawatir terhadap paparan mikroplastik, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan di rumah.
Sebuah studi menemukan bahwa filter udara HEPA berkualitas tinggi mampu menghilangkan lebih dari 99% nanopartikel di dalam ruangan.
Couceiro juga menyarankan masyarakat mulai mengurangi penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari.
“Mengurangi jumlah plastik di rumah akan mengurangi jumlah mikroplastik yang kita hirup,” ujarnya.
“Kita perlu menyikapinya secara masuk akal, tetapi bukti dampak buruknya sudah cukup banyak untuk membuat kita waspada.”
