Raksasa energi Shell melaporkan laba yang melampaui ekspektasi sebesar US$6,9 miliar atau sekitar Rp112 triliun setelah para trader minyaknya meraup keuntungan besar dari lonjakan harga energi selama perang Iran. Kondisi itu memicu kemarahan para aktivis iklim.

Perusahaan minyak dan gas terbesar di Eropa tersebut mencatat lonjakan laba kuartal pertama sebesar 115 persen dibandingkan laba US$3,2 miliar pada tiga bulan terakhir 2025.

Keuntungan itu jauh melampaui proyeksi analis pasar yang memperkirakan laba sebesar US$6,4 miliar. Angka tersebut juga naik 24 persen dibandingkan laba US$5,6 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

CEO Shell, Wael Sawan, mengatakan laba perusahaan diperoleh berkat “fokus tanpa henti terhadap kinerja operasional di tengah kuartal yang ditandai gangguan luar biasa di pasar energi global”.

Gangguan arus minyak dan gas melalui Selat Hormuz membuat harga minyak dunia melonjak dari sekitar US$61 per barel pada Januari menjadi setinggi US$119 pada akhir Maret dan kembali naik pada akhir April.

Harga minyak sempat turun di bawah US$100 per barel pada Rabu setelah muncul harapan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Meski demikian, harga pasar masih lebih dari 50 persen lebih tinggi dibanding tahun lalu. Pada Kamis, minyak Brent kembali naik 0,3 persen menjadi US$101 per barel.

Kenaikan harga minyak juga membantu BP melaporkan laba kuartal pertama sebesar US$3,2 miliar pekan lalu, lebih dari dua kali lipat dibanding US$1,38 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Perusahaan itu menyebut “perdagangan minyak yang luar biasa” sebagai faktor utama di balik laba kuartalan tertinggi mereka sejak 2023. Pernyataan tersebut langsung memicu reaksi keras kelompok kampanye iklim dan seruan untuk memperketat pajak keuntungan besar atau windfall tax terhadap industri bahan bakar fosil.

Lonjakan laba Shell kembali memunculkan tuntutan agar pemerintah mengenakan pajak tambahan untuk membantu rumah tangga yang paling terdampak kenaikan biaya hidup.

Danny Gross, aktivis iklim dari Friends of the Earth, mengatakan perusahaan bahan bakar fosil sedang menikmati keuntungan besar di saat masyarakat justru tertekan oleh kenaikan harga energi.

“Raksasa bahan bakar fosil sedang mengantongi keuntungan mengerikan sementara para pengendara tercekik harga bensin dan rumah tangga bersiap membayar tagihan energi yang lebih mahal,” ujarnya.

“Sistem energi yang bergantung pada bahan bakar fosil mengalihkan uang dari masyarakat biasa kepada kelompok kaya dan berkuasa.”

Menurut Gross, solusi yang dibutuhkan adalah memperkuat windfall tax atas keuntungan yang dianggap tidak dapat dibenarkan tersebut dan mempercepat transisi menuju energi terbarukan domestik.

“Langkah itu akan menurunkan tagihan energi, memperkuat keamanan energi Inggris, dan melindungi masyarakat dari lonjakan harga energi di masa depan,” katanya.

Direktur eksekutif kelompok kampanye iklim 350.org, Anne Jellema, juga mengecam lonjakan laba Shell.

“Ketika masyarakat di seluruh dunia berjuang menghadapi biaya energi yang melonjak, Shell justru meraup miliaran dolar keuntungan tambahan. Krisis yang menghasilkan keuntungan besar ini juga mendorong jutaan orang semakin dekat pada kelaparan dan kesulitan hidup,” ujarnya.

Ia mendesak pemerintah segera mengenakan pajak atas keuntungan berlebih perusahaan energi dan menggunakan dana tersebut untuk melindungi rumah tangga rentan serta memperluas penggunaan energi terbarukan yang lebih murah.

Di tengah lonjakan laba tersebut, produksi minyak dan gas Shell justru turun 4 persen dibanding kuartal sebelumnya akibat konflik di Timur Tengah.

Perusahaan mengatakan proses perbaikan kerusakan akibat serangan terhadap salah satu fasilitas produksi di kompleks gas Pearl milik Shell di Qatar pada Maret diperkirakan memakan waktu sekitar satu tahun. Serangan itu menyebabkan penghentian produksi di fasilitas tersebut.

Share.
Leave A Reply