Close Menu

    Subscribe to Updates

    Dapatkan informasi terbaru dari mayoritas.com

    Apa yang Viral?

    Teror Hantavirus di Tengah Laut: Wabah Mematikan Ubah Kapal Pesiar Impian Jadi Mimpi Buruk

    09/05/2026

    Bayinya Diambil Dua Jam Setelah Lahir, Perempuan Greenland Menang Gugatan Besar Lawan Denmark

    09/05/2026

    Serangan Siber Canvas Picu Kekacauan di Ribuan Sekolah dan Kampus AS, Data Jutaan Pengguna Terancam Bocor

    09/05/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Home
    • POLITIK
      • Politik Amerika
      • Politik Asia
      • Politik Dunia
      • Politik Eropa
      • Politik Nasional
      • Politik Timur Tengah
    • Nasional

      Teror Hantavirus di Tengah Laut: Wabah Mematikan Ubah Kapal Pesiar Impian Jadi Mimpi Buruk

      09/05/2026

      Bayinya Diambil Dua Jam Setelah Lahir, Perempuan Greenland Menang Gugatan Besar Lawan Denmark

      09/05/2026

      Serangan Siber Canvas Picu Kekacauan di Ribuan Sekolah dan Kampus AS, Data Jutaan Pengguna Terancam Bocor

      09/05/2026

      Bayi-Bayi Meninggal karena Orang Tua Menolak Suntikan Vitamin K Saat Lahir

      09/05/2026

      Trump Disebut Setujui Pemecatan Bos FDA di Tengah Kekacauan Internal dan Tekanan Politik

      09/05/2026
    • TEKNOLOGI

      Serangan Siber Canvas Picu Kekacauan di Ribuan Sekolah dan Kampus AS, Data Jutaan Pengguna Terancam Bocor

      09/05/2026

      Pentagon Buka Arsip Rahasia UFO, Dokumen Baru Ungkap Penampakan Misterius Selama Puluhan Tahun

      09/05/2026

      Shell Diserang Aktivis Iklim Usai Raup Profit ‘Durian Runtuh’ dari Perang Iran

      07/05/2026

      Krisis Tenaga Kerja, Industri Sampah Beralih ke Robot: Solusi atau Ancaman Baru?

      05/05/2026

      Ledakan Dahsyat Pabrik Kembang Api di Hunan Tewaskan 26 Orang, Puluhan Luka-Luka

      05/05/2026
    • Hiburan
    • Belanja Sekarang
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    Mayoritas.com
    Langganan Sekarang
    TOPIK PANAS
    • Olahraga
    • Ekonomi & Pasar
      • Bisnis
      • Ekonomi
      • Keuangan
    • Wisata & Kuliner
    • Belanja Sekarang
    Mayoritas.com
    Home»Teknologi»Gadget»3 Alasan Mengapa Sering Terjadi Kasus Kebocoran Data Di Indonesia Menurut Ahlinya
    Gadget

    3 Alasan Mengapa Sering Terjadi Kasus Kebocoran Data Di Indonesia Menurut Ahlinya

    joveBy jove31/08/2024No Comments3 Mins Read2 Views
    Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    MAYORITAS.COM – Pelanggaran data massal yang sering terjadi di Indonesia disebabkan kurangnya sanksi tegas terhadap lembaga publik/pemerintah, rendahnya kesadaran dan prioritas, serta lemahnya infrastruktur keamanan siber.

    Berdasarkan data Databoks, sebagian besar insiden pelanggaran data terjadi di sektor publik/pemerintah, dengan 69% atau 71 insiden terjadi pada tahun 2023. Dalam kejadian terbaru, 4,7 juta data Aparatur Sipil Negara (ASN) bocor dari Badan Kepegawaian Negara (BKN) dan dijual di forum pembobolan.

    Faktanya, tidak ada sistem TI yang kebal dari risiko pembobolan data dan serangan siber, kata Muhammad Nidal, peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), dalam keterangan tertulisnya.

    “Namun, dalam konteks Indonesia, tingginya frekuensi pelanggaran data, terutama di lembaga pemerintah, setidaknya disebabkan oleh tiga hal: lemahnya infrastruktur siber, diberlakukannya peraturan perlindungan data pribadi (PDP); kalangan pemilik data dan pakar siber,” lanjutnya.

    Menurut dia, upaya pemerintah selama ini masih pada tingkat hulu, yakni pada tingkat pencegahan dan pengembangan kebijakan. Beberapa arahan terkait antara lain Keputusan Presiden (Perpres) Nomor 82 Tahun 2022 tentang Perlindungan Infrastruktur Informasi Penting, Strategi Nasional Keamanan Siber (SKSN), dan Keputusan Presiden Nomor 47 Tahun 2023 tentang Penanggulangan Krisis Siber.

    Selain itu, UU Nomor 1 Tahun 2024 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, UU Nomor 27 Tahun 2022 tentang PDP, PP Nomor 71 Tahun 2019 tentang Sistem dan Transaksi Elektronik pada tingkat sektoral lainnya serta implementasi kebijakannya.

    Sayangnya, implementasi di lapangan masih terhambat oleh kurangnya respons dan akuntabilitas yang cepat dan efektif ketika pelanggaran data terjadi di infrastruktur penting, kata Nidal. Secara terpisah, dalam konteks ketahanan siber nasional, ia berpendapat diperlukan investasi besar untuk meningkatkan keterampilan para ahli siber nasional, khususnya di instansi pemerintah seperti Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Badan Siber Nasional (BSSN)

    “Selanjutnya, mekanisme penyelesaian yang terstandarisasi antar kementerian/lembaga perlu ditetapkan dan/atau diperbarui, dan otoritas antarlembaga, termasuk tingkat koordinasi antarlembaga, sehingga masyarakat tahu ke mana harus melaporkan hal ini,” kata Nidal.

    Badan PDP Meski Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (PDP) sudah disahkan, namun teknis pelaksanaan implementasi penuh seluruh ketentuan undang-undang tersebut harus menunggu hingga Oktober tahun ini, jika tidak semua peraturan turunannya akan diterbitkan, ujarnya.

    Saat ini, belum ada badan PDP yang dibentuk untuk menegakkan sanksi PDP. “Mengingat tingginya angka kejadian pembobolan data dan untuk menjaga kepercayaan masyarakat terdampak, maka pembentukan lembaga PDP harus menjadi prioritas,” ujarnya.

    Terkait aturan sanksi turunan Peraturan PDP, masih dilakukan pembahasan di tingkat regulator (Kemenkominfo) mengenai bentuk sanksi yang tepat bagi penyelenggara sistem elektronik publik jika terjadi pelanggaran. Pasal 12 UU PDP mengatur bahwa individu yang memiliki data pribadi berhak menuntut dan menerima ganti rugi atas pelanggaran data pribadinya.

    Namun belum ditentukan siapa saja yang bisa mengajukan klaim, dan mekanisme spesifiknya masih menunggu aturan PP yang dihasilkan. Badan PDP yang nantinya akan dibentuk akan membantu memberikan jalur pengaduan dan bantuan bagi mereka yang ingin mengajukan gugatan.

    “Lembaga pemerintah mungkin merasa mereka tidak memiliki kewajiban hukum untuk mengambil tindakan pencegahan yang lebih serius, bahkan ketika tidak ada konsekuensi pidana atau perdata yang signifikan,” katanya.

    “Paradigma ini perlu diubah, dan masyarakat sipil perlu meminta pertanggungjawaban pemerintah atas pelanggaran data yang terjadi di lembaga pemerintah,” kata Nidal.

    Sebelumnya, Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika (Wamenkominfo) Nezar Patria mengatakan, aturan mengenai lembaga tersebut sedang dikembangkan. “Itu sedang kita bahas dan masih kita bahas PPnya.

    Tinggal persoalannya apakah dia akan melapor ke Cominfo atau langsung ke lembaga ini Pak Presiden,” ujarnya, Agustus lalu, di Jakarta .

    Direktur Aplikasi Informatika Kominfo Hokki Situnkil mengatakan, lembaga PDP setidaknya tunduk pada dua peraturan, yaitu peraturan pemerintah dan peraturan presiden.

    “Oktober adalah batas waktu dan perintah eksekutif dapat diserahkan kepada partai.” Keduanya akan dilaksanakan secara paralel dan akan ada otoritas pelindung sesuai dengan kewajiban hukum, ujarnya di Jakarta, Jumat, 9 Agustus.




    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    jove
    • Website

    Related Posts

    Gadget

    Serangan Siber Canvas Picu Kekacauan di Ribuan Sekolah dan Kampus AS, Data Jutaan Pengguna Terancam Bocor

    09/05/2026
    Hiburan

    Pentagon Buka Arsip Rahasia UFO, Dokumen Baru Ungkap Penampakan Misterius Selama Puluhan Tahun

    09/05/2026
    Ekonomi

    Shell Diserang Aktivis Iklim Usai Raup Profit ‘Durian Runtuh’ dari Perang Iran

    07/05/2026
    Bisnis

    Krisis Tenaga Kerja, Industri Sampah Beralih ke Robot: Solusi atau Ancaman Baru?

    05/05/2026
    Bencana

    Ledakan Dahsyat Pabrik Kembang Api di Hunan Tewaskan 26 Orang, Puluhan Luka-Luka

    05/05/2026
    Ekonomi & Pasar

    Spirit Airlines Gulung Tikar, Krisis BBM Akibat Perang Iran Jadi Pemicu, Maskapai Murah Lain Terancam Menyusul

    04/05/2026
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Langganan Berita

    Dapatkan berita olahraga terkini dari NewsSite tentang dunia, olahraga, dan politik.

    Pilihan Editor

    Teror Hantavirus di Tengah Laut: Wabah Mematikan Ubah Kapal Pesiar Impian Jadi Mimpi Buruk

    09/05/2026

    Bayinya Diambil Dua Jam Setelah Lahir, Perempuan Greenland Menang Gugatan Besar Lawan Denmark

    09/05/2026

    Serangan Siber Canvas Picu Kekacauan di Ribuan Sekolah dan Kampus AS, Data Jutaan Pengguna Terancam Bocor

    09/05/2026

    Bayi-Bayi Meninggal karena Orang Tua Menolak Suntikan Vitamin K Saat Lahir

    09/05/2026
    Info Terbaru

    Apa Itu Lifestyle Sedentary? Menimbulkan Banyak Penyakit Hingga Dapat Terkena Kanker

    20/01/2021

    Pebasket Zhang Ziyu Setinggi 220M Menarik Perhatian Usai Mengalahkan Tim U-18 Indonesia

    15/01/2021

    Kronologi Atlet Bulu Tangkis China Zhang Zhi Jie Meninggal Di Ajang AJC 2024

    15/01/2021
    Advertisement
    LOGO_FOOTER_MAYORITAS
    Facebook X (Twitter) Pinterest Vimeo WhatsApp TikTok Instagram

    News

    • Ekonomi & Pasar
    • Olahraga
    • Opini
    • Otomotif
    • Wisata Kuliner
    • Video Unggulan
    • Kesehatan

    Company

    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Hak Cipta
    • Disclaimer
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Panduan Kebijakan

    Layanan

    • Toko
    • Customer Support
    • Karir
    • Tentang kami
    • Hubungi Kami
    • Akses login

    Langganan Updates

    Dapatkan informasi terkinni seputar fakta informasi dunia, anda bisa berlangganan melalui email anda

    © 2026 Mayoritas.com
    • Privacy Policy
    • Term of Service
    • Contact us

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.