Kepala Eksekutif Hong Kong, John Lee, menyampaikan permintaan maaf atas kebakaran besar yang melanda kompleks apartemen tahun lalu dan menewaskan 168 orang.
Dalam konferensi pers pada Kamis, Lee berjanji akan melakukan reformasi besar-besaran terhadap sejumlah lembaga pemerintah untuk memastikan tragedi serupa tidak terulang.
Laporan komite independen yang dirilis pemerintah dalam konferensi pers tersebut menyimpulkan bahwa kebakaran dipicu oleh “pelanggaran” yang dilakukan pihak swasta serta “kegagalan selama puluhan tahun” oleh lembaga-lembaga pemerintah.
Kebakaran besar yang melanda Wang Fuk Court pada November 2025 itu menjadi yang paling mematikan di Hong Kong dalam beberapa dekade terakhir. Puluhan orang telah ditangkap atas dugaan pembunuhan akibat kelalaian, penipuan, atau korupsi.
Mengawali konferensi pers pada Kamis, John Lee mengatakan dirinya “sangat berduka” atas tragedi tersebut. Atas nama pemerintahannya, ia menyampaikan permintaan maaf kepada para korban dan seluruh warga kota.
“Saya meminta maaf kepada para korban serta seluruh penduduk kota,” ujarnya.
Lee kemudian berdiri dan membungkukkan badan sebagai bentuk permintaan maaf, diikuti sejumlah pejabat tinggi pemerintah lainnya.
Dalam kesempatan yang sama, Lee mengumumkan bahwa Sekretaris Perumahan Hong Kong, Winnie Ho, telah mengundurkan diri sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kebakaran tersebut.
Laporan komite independen menyebutkan bahwa kebakaran kemungkinan besar bermula dari “sumber bara yang menyala, kemungkinan puntung rokok”, yang kemudian membakar “material kertas” di kompleks apartemen tersebut. Saat kejadian, bangunan itu sedang menjalani renovasi besar-besaran.
Pejabat pemerintah mengatakan pihaknya kemungkinan akan mulai menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan drone yang dilengkapi kamera inframerah untuk mendeteksi serta mengidentifikasi orang-orang yang merokok di lokasi konstruksi.
Laporan tersebut juga menemukan bahwa perusahaan konstruksi yang bertanggung jawab atas renovasi menggunakan material bangunan di bawah standar dan menerapkan prosedur kerja yang tidak aman.
Pelanggaran itu mencakup penggunaan jaring perancah yang tidak tahan api serta penutupan jendela menggunakan papan busa yang mudah terbakar dalam jangka waktu lama.
Menurut laporan tersebut, perusahaan-perusahaan terkait juga menggunakan informasi palsu dalam dokumen untuk “seolah-olah mematuhi” peraturan yang ditetapkan regulator.
Komite menyatakan bahwa kontraktor utama dan konsultan proyek renovasi, bersama sejumlah individu yang terlibat, layak menerima “kecaman paling keras” atas tragedi kebakaran tersebut.
Namun, komite menambahkan bahwa apabila berbagai lembaga pemerintah yang terlibat dalam proyek itu memiliki “rasa urgensi” dan memberikan “perhatian yang memadai” terhadap kemungkinan terjadinya pelanggaran, tindakan tersebut serta potensi bahaya kebakaran di Wang Fuk Court seharusnya dapat diperbaiki sebelum tragedi terjadi.
Laporan itu juga mengungkap adanya praktik “pelanggaran hukum dan aktivitas mencurigakan yang meluas, sistematis, serta telah berlangsung lama” di sektor konstruksi.
Selain itu, ditemukan praktik pengaturan tender dan berbagai bentuk pelanggaran oleh sejumlah pihak, termasuk individu yang memiliki hubungan dengan kelompok mafia setempat.
Lee mengatakan berbagai lembaga pemerintah yang terlibat dalam kasus tersebut akan menjalani penyelidikan. Sementara itu, sebuah unit di Biro Perumahan yang bertugas melakukan pemeriksaan independen akan diganti.
Lee juga berjanji akan menindak tegas praktik pengaturan tender, termasuk menjadikannya sebagai tindak pidana. Pemerintah juga berencana menerapkan hukuman penjara jangka panjang dan denda dalam jumlah besar bagi para pelakunya.
Wang Fuk Court dibangun pada 1980-an dan terletak di distrik Tai Po, wilayah timur laut Hong Kong. Kompleks tersebut dihuni sekitar 4.600 orang.
Hampir 40% penghuninya berusia 65 tahun atau lebih. Sebagian besar korban tewas dalam kebakaran tersebut merupakan warga lanjut usia.
Ribuan petugas pemadam kebakaran dikerahkan untuk mengendalikan kobaran api. Salah satu petugas yang terlibat dalam operasi tersebut, Ho Wai-ho, 37 tahun, meninggal dunia saat menjalankan tugas pemadaman.
Tragedi tersebut mengguncang dan menimbulkan kekhawatiran mendalam di Hong Kong, sebuah kota dengan kepadatan penduduk tinggi yang sebagian besar warganya tinggal di gedung-gedung bertingkat tua dengan kondisi serupa. Peristiwa itu juga memicu tuntutan publik agar pihak-pihak yang bertanggung jawab segera dimintai pertanggungjawaban.
