Jio Platforms, raksasa telekomunikasi India yang didukung Meta dan Google, dijadwalkan mencatatkan saham perdananya di bursa pada Rabu.
Di tengah tekanan berat yang melanda pasar saham India, penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) senilai US$3,2 miliar atau sekitar Rp52,8 triliun ini menjadi yang terbesar dalam sejarah negara tersebut. Penawaran saham itu menarik minat besar dari manajer investasi global terkemuka, lembaga keuangan domestik, hingga investor ritel.
Permintaan saham bahkan melampaui jumlah yang ditawarkan hanya beberapa jam setelah masa pemesanan dibuka pada 21 Oktober.
Dimiliki oleh Mukesh Ambani, orang terkaya di Asia, Jio merupakan salah satu perusahaan paling berpengaruh di India. Sekitar 500 juta orang berlangganan layanan data selulernya yang murah. Namun, pertumbuhan pesat perusahaan tersebut juga diwarnai berbagai kontroversi.
Jio memasuki pasar telekomunikasi India yang padat pada 2016 dengan menawarkan tarif sangat murah, yang membuat jutaan warga India mulai menggunakan internet.
Namun, kehadirannya juga mengguncang industri telekomunikasi. Pasar yang sebelumnya dipenuhi 17 operator menyusut menjadi oligopoli yang hanya terdiri atas tiga pemain. Para kritikus menuduh Jio, dengan dukungan modal besar, melancarkan perang harga yang memaksa para pesaingnya keluar dari bisnis.
Belakangan, Elon Musk mengkritik Ambani dengan menyebutnya sebagai “bos sebenarnya India”. Musk menyiratkan bahwa Jio berusaha menghalangi masuknya Starlink ke pasar India. Reliance membantah tuduhan tersebut dan menyatakan terbuka terhadap persaingan dengan perusahaan milik Musk.
Terlepas dari pengawasan dan kritik yang dihadapinya selama satu dekade terakhir, paket data murah Jio menjadi fondasi revolusi digital India. Layanannya turut mendorong pertumbuhan ekonomi digital dan memperluas akses masyarakat terhadap pembayaran daring, layanan pesan-antar makanan, serta perdagangan elektronik di negara dengan perekonomian terbesar ketiga di Asia tersebut.
Dalam tiga tahun setelah peluncurannya, penggunaan data pelanggan meningkat hingga 50 kali lipat, sementara harga data anjlok.
Strategi diskon agresif itu membantu Jio mengumpulkan sekitar 553 juta pelanggan seluler pada 2026. Perusahaan tersebut juga memperkuat dominasinya di segmen lain, dengan menguasai 50 persen pasar internet pita lebar nirkabel dan lebih dari 40 persen pasar internet pita lebar tetap.
Menurut perusahaan sekuritas Emkay Global, Jio menangani 60 persen lalu lintas data nirkabel India dan memiliki basis pelanggan 5G terbesar di luar China. Emkay Global menyebut perusahaan tersebut sebagai “mesin digital India”.
Namun, para analis menilai pencatatan saham Jio dapat menjadi titik balik strategi penetapan harganya. Dalam proses IPO tersebut, pemegang saham pengendali akan melepas sekitar 3 persen kepemilikan mereka, dan perusahaan berpotensi mengakhiri era tarif yang sangat murah selama bertahun-tahun.
“Era ketika Jio menggunakan tarif murah sebagai senjata untuk merebut pangsa pasar mulai berakhir,” kata Nitya Shah, salah satu pendiri KamayaKya Wealth Management.
“Jio yang telah tercatat di bursa harus mempertanggungjawabkan kinerjanya kepada pemegang saham minoritas. Hal ini secara struktural mengurangi insentif perusahaan untuk terus menekan harga.”
Menurut perusahaan sekuritas Motilal Oswal, pertumbuhan Jio ke depan tidak lagi terutama bergantung pada penambahan pelanggan melalui paket diskon. Sebaliknya, perusahaan perlu meningkatkan pendapatan dari setiap pelanggan melalui peralihan ke jaringan 5G, penyesuaian tarif secara bertahap, serta perluasan layanan internet pita lebar nirkabel tetap ke rumah-rumah yang belum terjangkau jaringan serat optik.
Pencatatan saham Jio juga dapat membuka jalan bagi para pesaingnya untuk menaikkan tarif karena kekhawatiran terhadap persaingan harga dari operator yang lebih murah mulai berkurang.
“Pihak yang paling diuntungkan dari perubahan ini bisa jadi adalah Vodafone Idea,” kata Shah. “Ini merupakan momentum ketika operator dengan kondisi keuangan paling lemah mendapatkan dorongan paling kuat.”
Bagi konsumen India, kenaikan tarif lebih lanjut akan terjadi setelah industri telekomunikasi menaikkan harga secara luas beberapa tahun lalu. Para analis memperingatkan bahwa kenaikan harga berikutnya dapat memicu perpindahan pelanggan secara besar-besaran, terutama ketika konsumen yang sensitif terhadap harga beralih ke paket termurah yang tersedia.
Di tengah kemungkinan tagihan internet yang semakin mahal, IPO Jio menawarkan peluang investasi bagi mereka yang ingin mengambil keuntungan dari permintaan data di India yang terus meningkat. Perusahaan tersebut juga mengembangkan ekosistem layanan digital yang mencakup hiburan, komputasi awan, gim, dan layanan keuangan.
India kini menjadi konsumen data seluler terbesar kedua di dunia, didorong tarif yang lebih rendah dan meningkatnya penggunaan ponsel pintar.
Rata-rata penggunaan data bulanan setiap pelanggan Jio meningkat dari 28,7 GB pada 2024 menjadi 42,3 GB pada 2026, atau naik 52 persen dalam dua tahun. Sejumlah perkiraan menyebut penggunaan data tersebut dapat melonjak menjadi 65 GB per pelanggan setiap bulan pada akhir dekade ini seiring meningkatnya pendapatan yang dapat dibelanjakan masyarakat.
Tren ini akan mendukung pertumbuhan pendapatan rata-rata per pengguna atau average revenue per user (ARPU) Jio dalam jangka panjang.
“Penetrasi sebagian besar layanan digital di India masih jauh di bawah China dan Amerika Serikat. Artinya, masih terdapat ruang pertumbuhan yang signifikan,” menurut Emkay Global.
Lembaga pemeringkat Moody’s menilai pencatatan saham tersebut juga berpotensi meningkatkan transparansi dan memberikan “penilaian pasar yang lebih jelas” terhadap Jio. Saat ini, Jio masih menjadi bagian dari Reliance Industries, konglomerasi yang memiliki bisnis mulai dari pengolahan minyak hingga perdagangan ritel.
Di samping peran Jio yang semakin besar dalam perekonomian India, antusiasme terhadap IPO ini juga didorong oleh fakta bahwa penawaran saham tersebut merupakan yang pertama dari konglomerasi Reliance dalam lebih dari dua dekade.
Reliance memulai usahanya pada 1958 sebagai bisnis kecil perdagangan rempah-rempah dan benang poliester. Perusahaan itu kemudian berkembang ke sektor tekstil, petrokimia, pengolahan minyak, hingga akhirnya merambah bisnis ritel, telekomunikasi, dan layanan digital.
Reliance dikenal memiliki rekam jejak dalam menciptakan kekayaan bagi investor dalam jangka panjang dan memiliki reputasi legendaris di kalangan investor ritel.
Dhirubhai Ambani, pendiri kerajaan bisnis Reliance, disebut berperan penting dalam memopulerkan investasi saham pada 1980-an dan 1990-an. Ia membantu memperluas akses investasi saham yang sebelumnya lebih banyak dikuasai pedagang dan keluarga kaya.
Pada masa awal perkembangannya, Reliance membangun basis pemegang saham individu yang luas dengan menjadikan rapat umum tahunan sebagai acara besar. Pertemuan tersebut diisi pengumuman penting, pembagian dividen, dan perayaan kepemilikan saham oleh masyarakat.
Strategi itu secara bertahap membentuk basis investor yang sangat loyal. Banyak di antara mereka bahkan memiliki ikatan emosional yang kuat dengan perusahaan.
Meskipun harga saham Reliance Industries turun hampir 20 persen selama setahun terakhir, rekam jejak jangka panjang perusahaan tersebut masih menjadi sumber kepercayaan investor.
“Perusahaan ini secara konsisten memberikan imbal hasil tahunan rata-rata sekitar 30 persen selama 30 tahun,” kata Kranthi Bathini dari WealthMills Securities yang berbasis di Mumbai .
“Itulah sebabnya banyak orang berharap keajaiban yang sama dapat terulang melalui IPO Jio.”
