Arindam Bhattacharyya, seorang eksekutif periklanan yang berbasis di Jakarta, mendapat pengalaman yang mengubah pandangannya pada 2024.
Saat itu, orang tuanya yang tinggal di Kolkata, India, sedang berkunjung ke tempatnya ketika sang ayah mengalami masalah kesehatan serius. Bhattacharyya berhasil mendapatkan perawatan medis untuk ayahnya. Namun, ketika tiba waktunya orang tuanya kembali ke India, ia dihadapkan pada pertanyaan yang juga dialami banyak warga India: bagaimana merawat orang tua ketika tidak bisa mendampingi mereka secara langsung?
Menurut Dana Kependudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFPA), jumlah penduduk dunia berusia 60 tahun ke atas diproyeksikan meningkat dua kali lipat, dari 2020 hingga 2050, menjadi 2,1 miliar jiwa. India diperkirakan mengalami tren serupa. Pada 2050, satu dari setiap lima penduduk India diperkirakan berusia di atas 60 tahun, atau hampir 21% dari total populasi.
Hingga beberapa dekade lalu, pembahasan mengenai perawatan lansia di India masih sangat terbatas karena keluarga dianggap akan mengambil tanggung jawab tersebut. Hal itu dicatat dalam laporan UNFPA berjudul Caring for Our Elders: Institutional Responses India Ageing Report 2023.
Namun, kondisi tersebut semakin kompleks akibat sejumlah faktor, termasuk berkurangnya jumlah keluarga besar yang tinggal bersama. Ketika generasi muda pindah dan tinggal jauh dari keluarga, sementara infrastruktur sosial untuk mendukung para lansia masih terbatas, kesenjangan layanan perawatan semakin melebar, menurut para pakar.
Sebagian pihak justru melihat kondisi ini sebagai peluang bisnis.
Lembaga kajian pemerintah India, NITI Aayog, memperkirakan nilai industri perawatan lansia di negara tersebut mencapai sekitar US$7 miliar (sekitar Rp115,5 triliun). Industri ini diperkirakan akan berkembang pesat dan membuka peluang besar bagi perusahaan layanan kesehatan.
Sejumlah perusahaan rintisan atau startup telah mulai memasuki sektor tersebut. Mereka menawarkan berbagai layanan, mulai dari hunian khusus lansia, perawatan di rumah, hingga layanan berbasis teknologi. Meski bertujuan membantu orang lanjut usia menjalani kehidupan yang lebih mandiri, pelanggan utama perusahaan-perusahaan ini sering kali justru merupakan anak-anak dari para lansia yang mereka layani.
Bhattacharyya mengatakan kini dirinya mengandalkan dua startup untuk memantau kondisi kesehatan orang tuanya, mengoordinasikan perawatan, serta mengatur bantuan medis dalam keadaan darurat.
“Layanan ini sangat membantu, tetapi saya tetap memantau semuanya secara ketat dari Jakarta,” ujarnya.
Salah satu sektor yang mengalami peningkatan permintaan adalah hunian khusus lansia yang dikelola secara profesional. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh meningkatnya pendapatan dan perubahan struktur keluarga. Namun, sejumlah pakar menilai permintaan pasar jauh lebih besar dibandingkan ketersediaan fasilitas.
Perusahaan seperti Manasum Senior Living, Primus Senior Living, Ananta Living, dan Vedaanta Senior Living mulai membangun proyek khusus untuk hunian dan perawatan lansia. Minat terhadap sektor ini juga meningkat di kalangan pengembang properti konvensional.
Perusahaan manajemen properti Colliers International Group memperkirakan kebutuhan hunian khusus lansia di India saat ini mencapai sekitar 2 hingga 2,2 juta unit. Namun, jumlah unit yang tersedia baru sekitar 25.000.
Anantharam Varayur, mantan eksekutif teknologi yang turut mendirikan Manasum Senior Living, memutuskan terjun ke bisnis tersebut setelah melihat banyak lansia di India menjalani kehidupan yang lebih terbatas dibandingkan orang-orang seusia mereka di Amerika Serikat.
Pada 2015, ketika pertama kali membuka stan promosi dalam sebuah acara komunitas besar warga India di Amerika Serikat, ia berharap dapat menarik minat generasi muda India yang sudah mengenal konsep hunian khusus lansia. Namun, hampir tidak ada pengunjung yang datang untuk bertanya.
Varayur menilai kondisi tersebut disebabkan stigma yang melekat pada keputusan menitipkan anggota keluarga lanjut usia di panti jompo, sebagaimana fasilitas tersebut secara tradisional dikenal di India.
Namun, situasi kini telah berubah. Perusahaannya sudah mengoperasikan 900 unit, sebagian besar berada di Bengaluru dan Goa. Manasum juga berencana meningkatkan kapasitasnya menjadi 10.000 unit pada 2030, termasuk melalui pembangunan proyek hunian mewah.
Perusahaan tersebut menerima permintaan informasi dari berbagai kalangan, mulai dari lansia yang anak-anaknya tinggal di luar negeri, pasangan dengan anak dewasa berkebutuhan khusus, orang lanjut usia yang hidup sendiri, hingga generasi muda yang mulai merencanakan kebutuhan mereka pada masa tua.
Meski demikian, banyak lansia lainnya tetap memilih tinggal di rumah atau apartemen keluarga mereka sendiri dan hanya membutuhkan bantuan tambahan.
Dahulu, tenaga pendamping dan perawat dianggap sebagai pelengkap bagi anggota keluarga yang bertugas merawat lansia. Kini, mereka semakin sering mengambil alih peran sebagai pengasuh utama.
Pasar yang sebelumnya terfragmentasi dan hanya melayani wilayah tertentu melalui agen-agen kecil kini mulai berkembang dengan hadirnya perusahaan yang menyediakan layanan perawatan rumah secara menyeluruh dan memanfaatkan teknologi untuk memperluas jangkauan. Beberapa di antaranya adalah Emoha Elder Care Services, Care24, dan KITES Senior Care.
Namun, karena industri perawatan lansia berkaitan erat dengan kebutuhan pribadi dan hubungan emosional, menemukan tenaga kerja yang tepat sekaligus mempertahankan mereka menjadi tantangan besar.
“Kegagalan memberikan pelatihan yang memadai kepada tenaga kerja akan menyebabkan kekurangan tenaga terampil yang semakin parah di tengah meningkatnya permintaan,” demikian peringatan dalam laporan perusahaan pemeringkat CareEdge.
Tantangan tersebut tidak hanya berkaitan dengan keterampilan. Para pengasuh juga harus melalui proses pemeriksaan latar belakang secara menyeluruh dan mendapatkan pelatihan khusus untuk mendampingi kelompok masyarakat yang rentan menjadi korban penipuan, kejahatan finansial, serta berbagai bentuk eksploitasi lainnya.
NITI Aayog telah mengakui persoalan tersebut dan menyoroti perlunya kebijakan nasional mengenai layanan pengasuhan. Kebijakan ini diharapkan dapat membangun ekosistem perawatan lansia yang profesional dan inklusif di India.
Para pengusaha juga mulai mencari cara untuk memenuhi kebutuhan sosial dan emosional para lansia.
Pada 2022, investasi mantan ketua Tata Group, Ratan Tata, di startup Goodfellows menarik perhatian luas masyarakat. Slogan perusahaan tersebut menggambarkan layanan yang ditawarkan, yakni “Everything Grandkids Do!” atau “Semua yang Dilakukan Cucu”.
Pendiri Goodfellows, Shantanu Naidu, mengatakan perusahaannya tidak bertujuan menggantikan peran keluarga. Sebaliknya, mereka ingin mengisi kekosongan melalui layanan pendampingan oleh anak-anak muda yang penuh semangat dan memiliki empati. Para pendamping menemani lansia menghabiskan waktu berkualitas bersama atau sekadar membantu mereka menggunakan teknologi.
Jika startup Naidu mengandalkan kecerdasan emosional manusia, sejumlah pengusaha lainnya memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mengatasi persoalan dalam kehidupan sehari-hari.
Di Bengaluru, perusahaan seperti Kubo Care dan NoBlink.ai menggabungkan layanan pemantauan berbasis AI dengan perangkat radar yang dipasang di dinding rumah. Teknologi tersebut digunakan untuk memantau pergerakan penghuni dan mengirimkan peringatan kepada layanan darurat jika seseorang pingsan atau terjatuh.
Prajith Nair, salah satu pendiri NoBlink.ai, mengatakan perusahaannya ingin mengembangkan layanan dalam skala besar agar dapat tersedia dengan biaya yang ekonomis dan terjangkau.
Ia mengatakan perusahaan saat ini menjual sistem tersebut kepada pengelola hunian lansia dengan harga 13.500 rupee India (sekitar Rp2,5 juta) per perangkat. Selain itu, pengguna dikenakan biaya pemantauan bulanan mulai dari 50 rupee (sekitar Rp9.300) per kamar.
Harga tersebut sekitar sepersepuluh dari biaya sejumlah produk sejenis di luar negeri.
Namun, meskipun banyak startup berupaya menawarkan harga yang kompetitif, keterjangkauan layanan masih menjadi persoalan besar.
Varayur mengatakan pembelian unit hunian khusus lansia dengan satu kamar tidur, ruang keluarga, dan dapur dapat menelan biaya hingga 6 juta rupee India (sekitar Rp1,1 miliar). Penghuni juga harus membayar biaya tambahan untuk pemeliharaan dan makanan. Besarnya biaya dapat bervariasi tergantung fasilitas yang dipilih.
Permintaan terhadap hunian tersebut memang tinggi, tetapi harganya masih berada di luar jangkauan sebagian besar lansia di India.
NITI Aayog menyebutkan bahwa 78% penduduk lanjut usia di India tidak memiliki dana pensiun. Kondisi ini dapat membatasi kemampuan mereka untuk mengakses layanan perawatan tersebut.
Rumah tangga yang memiliki setidaknya satu anggota lanjut usia juga tercatat memiliki pendapatan per kapita bulanan lebih rendah, yakni sekitar 3.568 rupee India (sekitar Rp660.000), dibandingkan 4.098 rupee (sekitar Rp758.000) pada rumah tangga tanpa anggota lansia.
Karena itu, para pakar menilai startup tidak bisa menjadi satu-satunya solusi untuk mengatasi persoalan perawatan lansia.
Jepang telah menangani tantangan populasi menua melalui kombinasi asuransi perawatan jangka panjang, fasilitas perawatan publik, program interaksi sosial, serta sistem dukungan berbasis komunitas.
Sementara itu, China yang merupakan negara tetangga India juga telah bertahun-tahun menghadapi persoalan populasi menua. Pemerintahnya meluncurkan berbagai kebijakan untuk mendorong generasi muda menikah dan meningkatkan angka kelahiran di tengah menyusutnya jumlah tenaga kerja.
Awal tahun ini, Kerala menjadi negara bagian pertama di India yang mengesahkan undang-undang penting mengenai warga lanjut usia. Regulasi tersebut berfokus pada hak untuk mendapatkan layanan perawatan yang terjangkau, bantuan hukum, inklusi digital, serta ruang publik yang aman.
Para pakar industri menilai India masih memiliki waktu sebelum mencapai titik kritis dalam perubahan demografinya. Namun, merawat jutaan tambahan penduduk lanjut usia akan membutuhkan sistem dukungan yang kuat.
Ekosistem bisnis yang menyediakan berbagai layanan bagi warga lanjut usia dinilai dapat berperan penting dalam menjembatani kesenjangan tersebut.
