Seorang senator Filipina yang pernah mengawasi perang berdarah melawan narkoba di era mantan presiden Rodrigo Duterte berlindung di dalam gedung Senat Filipina beberapa jam sebelum International Criminal Court (ICC) membuka surat perintah penangkapannya.
Ronald Dela Rosa terlihat berlari masuk ke gedung Senat pada Senin ketika petugas mengejarnya. Ia berhasil lolos dari penangkapan dan kemudian ditempatkan dalam perlindungan Senat.
Polisi belakangan menyatakan mereka tidak akan menangkap Dela Rosa selama ia berada dalam pengawasan Senat.
Dela Rosa dituduh terlibat dalam pembunuhan sedikitnya 32 orang antara 2016 hingga 2018 sebagai “pelaku tidak langsung” dalam kampanye anti-narkoba Duterte, yang menewaskan ribuan tersangka pengedar narkoba melalui penembakan.
Duterte sendiri telah berada dalam tahanan ICC di Den Haag sejak ditangkap pada Maret 2025.
Rekaman kamera keamanan yang diputar di hadapan anggota parlemen pada Senin memperlihatkan agen National Bureau of Investigation mengejar Dela Rosa menaiki tangga dan lorong gedung Senat setelah ia tiba di lokasi.
Ketegangan yang berlangsung selama beberapa jam akhirnya mereda setelah Kepala National Bureau of Investigation mengatakan kepada wartawan bahwa pihaknya tidak akan menangkap Dela Rosa selama senator itu berada dalam perlindungan Senat.
Dela Rosa mengatakan dirinya akan tetap berada di kompleks Senat dan “melakukan segala cara” untuk menghindari dibawa ke Den Haag.
Tim kuasa hukumnya menyatakan mereka telah meminta Mahkamah Agung Filipina memblokir penangkapan tersebut dengan alasan tidak adanya surat perintah penangkapan yang sah dari pengadilan Filipina.
Pada Selasa pagi, Dela Rosa meminta para pendukungnya yang berkumpul di luar gedung Senat untuk “tetap berjaga di depan Senat sampai Mahkamah Agung mengambil keputusan”.
Ia juga meminta Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr., yang sedang berseteru dengan dinasti politik Duterte, agar mengajukan kasus terhadap dirinya di pengadilan lokal jika memang dianggap bersalah.
“Jika saya punya tanggung jawab hukum, saya akan menghadapinya di pengadilan lokal, bukan pengadilan asing,” ujarnya kepada wartawan.
Kekacauan yang melanda Senat terjadi di tengah pemilihan presiden Senat baru oleh 24 anggota majelis yang sebagian besar didominasi sekutu Duterte.
Presiden Senat yang baru terpilih, Alan Peter Cayetano, mengatakan lembaganya hanya akan menindaklanjuti surat perintah penangkapan yang berasal dari pengadilan Filipina.
Namun kubu sekutu Marcos menguasai Dewan Perwakilan Rakyat Filipina, yang sebelumnya pada hari yang sama memutuskan untuk memakzulkan putri Duterte, Sara Duterte, untuk kedua kalinya.
Perseteruan antara dinasti politik Duterte dan Marcos semakin memanas setelah runtuhnya aliansi yang membawa mereka memenangkan pemilu 2022.
Sara Duterte saat ini disebut sebagai kandidat terdepan untuk menggantikan Marcos dalam pemilu dua tahun mendatang. Ia menuduh Marcos menggunakan surat perintah penangkapan ICC dan proses pemakzulannya sebagai senjata politik untuk melemahkan peluang politiknya.
Sementara itu, Duterte menolak mengakui proses hukum ICC dengan alasan Filipina telah keluar dari Rome Statute pada 2019, saat dirinya masih menjabat sebagai presiden.
Namun bulan lalu, hakim di kamar pra-peradilan ICC menolak argumen tersebut dengan menyatakan dugaan kejahatan terjadi antara 2011 hingga 2019 — periode ketika Filipina masih menjadi anggota ICC — sehingga membuka jalan bagi Duterte untuk diadili.
