Dua jenazah warga Italia yang hilang dalam kecelakaan menyelam scuba di Maldives pekan lalu berhasil dievakuasi ke permukaan, menurut keterangan pejabat setempat
“Mereka dievakuasi dari ruang ketiga di dalam gua bawah laut oleh penyelam spesialis asal Finlandia setelah operasi selama dua jam,” kata juru bicara pemerintah Maldives, Mohamed Hossain Shareef.
Kedua jenazah tersebut sedang dibawa ke ibu kota Male untuk proses identifikasi.
Mereka termasuk dalam lima korban tewas dalam insiden tersebut. Hingga kini, dua jenazah lainnya masih berada di dalam gua.
Jenazah pertama, seorang penyelam Italia yang merupakan anggota rombongan, ditemukan tak lama setelah kecelakaan pada Kamis di dekat atol Vaavu. Media Italia mengidentifikasinya sebagai manajer operasional kapal sekaligus instruktur selam, Gianluca Benedetti.
Kemudian pada Sabtu, seorang penyelam penyelamat asal Maldives juga meninggal dunia saat operasi pencarian korban.
Empat penyelam yang hilang akhirnya ditemukan oleh tim penyelam Finlandia pada Senin di ruang gua yang paling jauh dari pintu masuk. Gua tersebut dikenal warga lokal sebagai “shark cave” dan memiliki kedalaman hingga 60 meter.
Operasi pencarian untuk mengevakuasi dua jenazah yang tersisa dijadwalkan dilanjutkan pada Rabu. Seorang pejabat Maldives menyatakan optimistis seluruh korban dapat dievakuasi pada hari yang sama.
Pihak berwenang berharap penemuan jenazah dapat memberikan petunjuk mengenai penyebab kecelakaan tersebut. Operasi evakuasi disebut sangat rumit karena kedalaman gua, sempitnya ruang, serta minimnya jarak pandang di bawah air. Pintu masuk gua berada di kedalaman 47 meter, sementara tiap ruang di dalamnya memiliki kedalaman berbeda-beda.
Tim penyelam Finlandia bekerja sama dengan polisi dan penjaga pantai Maldives. Para pejabat mengatakan tim spesialis berhasil membawa dua jenazah hingga kedalaman 30 meter sebelum operasi dilanjutkan oleh penyelam penjaga pantai.
Cuaca saat penyelaman pada Kamis disebut buruk, dan peringatan kuning telah dikeluarkan untuk kapal penumpang serta nelayan.
Empat penyelam dalam rombongan diketahui berafiliasi dengan University of Genoa. Namun pihak universitas mengatakan bahwa mereka tidak pernah memberikan izin untuk penyelaman laut dalam sebagai bagian dari riset ilmiah.
“Permohonan yang diajukan kepada otoritas Maldives tampaknya dibuat di luar cakupan misi yang disetujui universitas,” kata juru bicara kampus tersebut.
Universitas menegaskan penyelaman dilakukan “atas kapasitas pribadi” dan bukan bagian dari penelitian resmi.
Pihak kampus juga menyatakan bahwa sejak Maret 2024 mereka telah menangguhkan izin seluruh penyelaman untuk tujuan ilmiah—terlepas dari kedalamannya—sesuai dekret kementerian yang mengatur pedoman penyelaman bawah laut.
Dalam pernyataannya, universitas mengatakan saat ini mereka tengah menyusun protokol internal untuk mengatur prosedur penyelaman sesuai regulasi tersebut.
Sementara itu, juru bicara pemerintah Maldives mengatakan bahwa tim tersebut memang memiliki izin menyelam hingga kedalaman 50 meter, tetapi tidak mencantumkan keberadaan gua dalam proposal mereka.
Tim penyelaman dipimpin oleh Monica Montefalcone, profesor asosiasi bidang ekologi di University of Genoa, bersama peneliti Muriel Oddenino. Mereka sedang meneliti dampak perubahan iklim terhadap keanekaragaman hayati tropis.
Dua penyelam lain di dalam gua adalah putri Montefalcone, Giorgia Sommacal, serta lulusan baru universitas tersebut, Federico Gualtieri.
Ayah Giorgia, Carlo Sommacal, mengkritik keras pernyataan universitas yang menyebut penyelaman ke gua tersebut tidak mendapat izin resmi.
“Monica Montefalcone, menurut banyak orang, adalah sosok yang memiliki literatur ilmiah paling banyak di dunia mengenai karang-karang itu,” ujarnya kepada surat kabar Italia La Repubblica.
“Ada ratusan mahasiswa yang menulis tesis tentang Maldives menggunakan data yang mereka kumpulkan bersama Monica, atau data yang dikumpulkan Monica sendiri. Dan tidak ada seorang pun yang tahu soal ini? Itu membuat saya tertawa,” katanya.
