Mantan Presiden World Bank, David Malpass, meminta China menghentikan penimbunan pangan dan pupuk guna meredakan krisis pasokan global yang dipicu perang Iran.
Malpass, yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan AS untuk Urusan Internasional di bawah pemerintahan Donald Trump pada 2017 hingga 2019, menyampaikan pernyataan itu World Service dalam program World Business Report menjelang KTT Trump-Xi di Beijing.
“Mereka memiliki stok pangan dan pupuk terbesar di dunia,” kata Malpass. “Mereka bisa berhenti memperbesar cadangan mereka.”
Pernyataan tersebut muncul ketika berbagai negara di dunia berlomba mengamankan pasokan pupuk menjelang musim tanam musim semi, sementara penutupan Selat Hormuz mengganggu pengiriman secara serius.
China diketahui menghentikan ekspor beberapa jenis pupuk sejak Maret dengan alasan menjaga pasokan domestik.
Langkah itu menambah daftar pembatasan yang secara bertahap sudah diterapkan sejak 2021.
Tahun lalu, China menyumbang sekitar 25 persen produksi pupuk global dengan nilai ekspor mencapai lebih dari 13 miliar dolar AS.
Malpass, yang memimpin Bank Dunia pada 2019 hingga 2023, juga mengatakan klaim China sebagai negara berkembang sudah tidak lagi kredibel.
“Mereka memposisikan diri sebagai negara berkembang padahal mereka adalah ekonomi terbesar kedua di dunia dan dalam banyak hal sudah kaya,” ujarnya.
“Namun mereka masih berpura-pura menjadi negara berkembang di World Trade Organization dan Bank Dunia, padahal mereka bisa menghentikan itu,” tambahnya.
Juru bicara Kedutaan Besar China di Washington DC, Liu Pengyu, mengatakan melalui pernyataan email bahwa China tetap berkomitmen menjaga stabilitas pasar pangan dan pupuk global.
“Penyebab utama gangguan rantai pasokan pangan dan pupuk global saat ini sudah sangat jelas; kesalahan itu tidak bisa dialihkan kepada China,” ujarnya.
Menanggapi komentar Malpass soal status negara berkembang, Liu mengatakan China “secara universal diakui sebagai negara berkembang terbesar di dunia — status yang didasarkan pada banyak fakta”.
“Mempertahankan status sebagai negara berkembang adalah hak sah China,” tambahnya.
China Dinilai Berkepentingan Menjaga Hormuz Tetap Terbuka
Terkait gencatan senjata Iran yang pada Senin disebut Trump berada dalam kondisi “sangat kritis”, Malpass mengatakan dunia seharusnya bersatu mendukung Amerika Serikat untuk mencari penyelesaian.
“Anda tidak bisa memiliki negara liar dengan plutonium, dan Anda tidak bisa menutup Selat Hormuz,” katanya.
Malpass juga berharap China membantu menyelesaikan kebuntuan di Selat Hormuz karena jalur pelayaran bebas dinilai sangat penting bagi kepentingan ekonominya.
“China mendapat keuntungan dari jalur pelayaran terbuka di seluruh dunia,” ujarnya.
“Mereka menjalankan perusahaan pelayaran, memiliki kontainer, dan memperoleh keuntungan besar dari perdagangan dengan dunia. Jadi mereka akan menjadi pihak yang sangat dirugikan jika Iran sampai menguasai Selat Hormuz.”
Terkait prospek ekonomi warga Amerika menjelang rilis data inflasi AS bulan April, Malpass memperkirakan harga barang akan terus naik.
“Saya memperkirakan harga banyak produk akan meningkat,” katanya.
Meski demikian, ia menambahkan data ketenagakerjaan AS yang “kuat” menunjukkan ekonomi Amerika masih cukup tangguh.
