Seorang pria asal Texas yang dituduh membunuh istrinya yang sedang hamil melarikan diri ke Italia beberapa minggu sebelum persidangannya dimulai. Kini ia meminta hakim Italia agar tidak mengirimnya kembali ke Amerika Serikat.
Lee Gilley, yang didakwa atas pembunuhan istrinya dan bayi yang belum lahir pada 2024, ditangkap polisi perbatasan di Milan pekan lalu setelah terbang ke Italia. Otoritas AS menyebut ia sebelumnya memotong gelang GPS pemantau yang diwajibkan pengadilan di Texas.
Pada Senin, Gilley muncul di ruang sidang di Turin, Italia, mengenakan jins dan kaus putih sambil mengajukan permohonan suaka di negara yang dikenal memiliki sikap keras menolak hukuman mati tersebut.
Pria berusia 39 tahun itu mengatakan kepada hakim bahwa ia tidak bersalah atas kematian istrinya. Menurut laporan media Italia dan pengacaranya, Gilley mengaku sudah tidak lagi percaya pada sistem peradilan AS dan menyebut satu-satunya kesalahan yang ia lakukan adalah melarikan diri untuk menghindari hukuman mati di Texas.
Sidang tersebut bukan proses ekstradisi, melainkan untuk mengesahkan penangkapan Gilley sesuai hukum Italia. Pengadilan pada Senin memutuskan penahanannya sah, sehingga Italia dapat tetap memenjarakannya hingga permintaan ekstradisi resmi diajukan.
Belum jelas apakah jaksa di Texas akan menuntut hukuman mati dalam kasus Gilley atau apakah pihak berwenang AS akan mengajukan ekstradisi. Kantor Kejaksaan Harris County menolak berkomentar dengan alasan adanya perintah bungkam yang dikeluarkan hakim pengadilan distrik pada 8 Mei setelah Gilley melarikan diri dari negara itu.
Kematian Christa Gilley
Pada 7 Oktober 2024, polisi menerima panggilan sekitar pukul 23.30 di kawasan elite Houston Heights, sekitar 6 kilometer barat laut pusat kota Houston.
Panggilan tersebut berasal dari Gilley yang mengatakan istrinya yang sedang hamil, Christa Gilley, “tidak responsif,” menurut dokumen pengadilan.
Petugas medis dari Houston Fire Department membawa Christa Gilley ke Memorial Hermann Greater Heights Hospital, namun ia dinyatakan meninggal sekitar tiga jam kemudian.
Ahli patologi Harris County pada 9 Oktober menyimpulkan penyebab kematian Christa Gilley adalah “tekanan pada leher dan punggung bagian atas.” Surat penangkapan terhadap suaminya diterbitkan dua hari kemudian, pada 11 Oktober 2024.
Persidangan Gilley awalnya dijadwalkan berlangsung pada 29 Mei 2026 di Harris County. Ia sempat dibebaskan dengan jaminan sebesar US$1 juta dan keluar dari tahanan pada 17 Oktober 2024.
Namun, hakim kemudian memerintahkan jaminan tersebut hangus setelah Gilley melarikan diri ke Italia.
pengacara Lee Gilley, tetapi ia menolak berkomentar karena adanya perintah bungkam dalam kasus tersebut.
Melarikan Diri dari Texas ke Italia
Belum diketahui secara pasti bagaimana Gilley melakukan perjalanan dari Texas ke Kanada sebelum akhirnya menuju Italia.
Dalam dokumen tuntutan pidana federal, disebutkan bahwa ia tiba di Milan menggunakan penerbangan Air Canada 894 yang berangkat dari Toronto dengan transit di Montreal.
meminta rincian kepada US Marshals Service dan Kepolisian Houston. Namun, dalam dokumen federal yang menyebut Gilley sebagai “buronan atas tindak pidana pembunuhan berencana yang menyebabkan kematian Christa Gilley dan satu anak yang belum lahir,” Kantor Kejaksaan AS untuk Distrik Selatan Texas memaparkan sejumlah tanggal penting.
Pada 1 Mei, Gilley memotong gelang GPS yang diwajibkan pengadilan dan melarikan diri dari AS.
Ia tiba di Bandara Milano Malpensa pada 3 Mei, tetapi langsung ditahan polisi perbatasan setelah menunjukkan paspor Belgia palsu dan dokumen lain yang mengidentifikasinya sebagai “Lejeune Jean Luc Olivier.”
Saat berada dalam tahanan Italia, Gilley mengungkap identitas aslinya dan memberi tahu otoritas setempat bahwa ia sedang menunggu persidangan di Amerika Serikat atas tuduhan membunuh istrinya.
Pada 4 Mei, menurut dokumen tersebut, Interpol memberi tahu otoritas AS bahwa Gilley ditahan di Italia. Sehari kemudian, Kantor Kejaksaan AS mendakwanya atas tuduhan melarikan diri lintas negara bagian untuk menghindari penuntutan.
Memohon Suaka Politik di Italia
Menurut laporan media lokal, Gilley telah mengajukan permohonan suaka politik di Italia.
Dalam sidang Senin, pengacaranya Monica Grosso mengatakan meskipun jaksa AS belum menyatakan akan menuntut hukuman mati, fakta bahwa persidangan pembunuhan berencana itu berlangsung di Texas — yang kini dijadwalkan dimulai pada 5 Juni — berarti hukuman tersebut masih mungkin dijatuhkan.
Texas mengeksekusi lima orang sepanjang 2025 dan hingga Mei 2026 telah mengeksekusi tiga orang, menurut Departemen Peradilan Pidana Texas.
Grosso menolak memberikan pernyataan resmi saat dihubungi di Italia pada Senin.
Perjanjian ekstradisi resmi antara AS dan Italia telah berlaku sejak 1983. Namun, berdasarkan hukum Italia, negara tersebut tidak akan mengekstradisi seseorang ke negara yang memungkinkan mereka menghadapi hukuman mati.
Grosso juga mengutip kasus Pietro Venezia lebih dari 30 tahun lalu. Venezia dituduh membunuh petugas pajak negara bagian Florida pada 1993 setelah rekening banknya dibekukan.
Venezia, warga negara Italia, melarikan diri ke Italia dan ditangkap di sana. Namun, Mahkamah Konstitusi Italia menyatakan perjanjian ekstradisi AS-Italia tidak memberikan jaminan cukup bahwa Venezia akan terhindar dari hukuman mati, meskipun pihak berwenang AS telah memberikan janji, menurut laporan Associated Press pada 1996.
Saat ini, waktu tunggu sidang bagi pencari suaka politik di Italia mencapai lebih dari empat tahun setelah pengajuan resmi, menurut Kementerian Dalam Negeri Italia.
Penumpukan kasus itu terjadi akibat tingginya jumlah migran ilegal yang tiba di negara tersebut setiap tahun.
Belum jelas apakah Gilley akan mendapat jalur cepat dalam proses suakanya. Juru bicara kementerian mengatakan tahanan politik, pengungsi dari Gaza, dan warga dari zona perang aktif mendapat prioritas.
“Kasus tersangka pembunuhan ganda bukan kategori yang umum,” ujarnya.
