Aliah, mahasiswi berusia 20 tahun di Minnesota, awalnya membayangkan kehidupan barunya di Amerika Serikat akan dipenuhi kegiatan belajar dan bekerja setelah melarikan diri dari Afghanistan pada 2021 dan memperoleh suaka di AS.
Namun awal tahun ini, ketika aparat penegak imigrasi federal membanjiri wilayah Minneapolis dalam Operasi Metro Surge, ia menghadapi kenyataan yang sangat berbeda. Meski operasi itu secara resmi telah berakhir beberapa bulan lalu, dampaknya masih terasa hingga kini.
“Kami masih sedikit takut,” kata Aliah, yang kini memegang kartu penduduk tetap atau green card. Seperti beberapa narasumber lain dalam laporan ini, ia tidak menggunakan nama asli atau nama lengkap demi alasan keamanan, meski identitas mereka telah diverifikasi.
Keluarganya terus berdoa agar operasi imigrasi di Minnesota tidak kembali diperluas. “Kami tidak punya tempat untuk pergi jika harus kembali ke negara saya,” ujarnya.
Operasi Metro Surge dimulai pada Desember lalu sebagai bagian dari kebijakan Presiden Donald Trump untuk menindak imigran tanpa dokumen, terutama mereka yang melakukan tindak kriminal. Trump mengaitkan operasi tersebut dengan penyelidikan besar pemerintah federal terkait dugaan penipuan di industri penitipan anak di Minnesota, yang menurut pemerintah melibatkan banyak terdakwa dari komunitas Somalia yang cukup besar di negara bagian itu.
Namun kecaman publik meningkat setelah aparat federal menembak mati dua warga negara AS yang memprotes operasi tersebut, yakni Renee Good dan Alex Pretti, keduanya berusia 37 tahun, dalam insiden terpisah pada Januari.
Pada akhir Februari, di tengah meningkatnya gelombang penolakan, termasuk dari sebagian anggota Partai Republik, pemerintah mengumumkan penarikan ratusan agen federal dari kota tersebut.
Meski kehidupan perlahan kembali normal, komunitas imigran di Minnesota mengatakan mereka masih bergulat dengan trauma berkepanjangan, dampak ekonomi, dan ketidakpastian terkait status imigrasi mereka.
Fatima, pengungsi Somalia berusia 19 tahun yang memperoleh suaka, kembali mengikuti kelas tatap muka di sekolah menengah pada April setelah berbulan-bulan belajar daring.
Meski mengaku senang bisa kembali ke sekolah, rasa takutnya belum hilang.
“Saya bertanya pada diri sendiri setiap hari, saya bilang, ‘kalau mereka kembali, apa yang akan kamu lakukan?’ Saya masih takut kalau mereka datang lagi,” katanya.
“Ketika ada operasi seperti ini, masyarakat akan terus merasakan dampaknya dalam waktu lama,” ujar Michelle Eberhard, Direktur Layanan Pengungsi di International Institute of Minnesota. “Orang-orang masih hidup dalam trauma itu.”
“Kota Ini Seperti Ladang Ranjau Berisi Bayang-Bayang”
Pada puncak operasi, agen bertopeng dari Immigration and Customs Enforcement (ICE) dan Customs and Border Protection (CBP) berpatroli di jalanan, menggerebek rumah dan sekolah, serta menahan ribuan orang.
Katie, seorang guru di Minneapolis, memimpin upaya sekolah untuk menyalurkan bahan makanan dan mengumpulkan donasi bagi murid-murid yang terdampak. Banyak siswa memilih tetap di rumah demi menghindari risiko penggerebekan ICE di sekolah mereka. Ia mengatakan bahwa program bantuan sekolah berakhir pada April, namun dana yang tersisa masih terus disalurkan.
Bahkan sebagai warga negara AS, Katie mengaku masih merasakan dampaknya, terutama ketika melewati lokasi memorial untuk mengenang Pretti dan Good.
“Kota ini seperti ladang ranjau berisi bayang-bayang,” ujarnya. “Saat kamu mulai melupakannya, semuanya muncul lagi.”
Meski aktivitas sekolah telah kembali normal, Katie menambahkan beberapa siswa terpaksa putus sekolah untuk membantu keluarga mereka setelah kerabat kehilangan pekerjaan selama operasi berlangsung.
Kehadiran ICE Berkurang, Tetapi Agen Masih Beroperasi
Pemerintahan Trump menyatakan Metro Surge berhasil dan diperlukan untuk mengeluarkan “penjahat brutal, termasuk pembunuh, pemerkosa, anggota geng, dan teroris” dari negara itu.
Pada pertengahan Februari, sekitar seribu agen federal telah meninggalkan Minnesota dan ratusan lainnya menyusul, dengan hanya “pasukan kecil” yang tersisa “untuk waktu singkat”.
Meski kehadiran ICE di kota berkurang, para agen masih beroperasi. Dalam gugatan hukum pada Maret, pemerintah federal menyebut masih ada 482 agen di Minnesota, menurut penggugat American Civil Liberties Union of Minnesota (ACLU-MN). Selain itu, sekitar 190 agen federal telah bekerja di kantor ICE St Paul sebelum Metro Surge dimulai, menurut ACLU.
“Raja Perbatasan” Tom Homan mengatakan bahwa ke depan ICE akan tetap melakukan operasi penegakan imigrasi terarah seperti yang telah dilakukan selama puluhan tahun. ICE sendiri mengatakan bahwa mereka tidak mengungkap detail operasi mereka.
Morgan Budiandri dari MN Immigrant Rights Action Committee (MIRAC) mengatakan kehadiran aparat federal masih terlihat dan terasa, terutama di wilayah pedesaan.
“Mesin deportasi kini menjadi lebih terarah, bisa dibilang lebih presisi. Aktivitas di kota berkurang karena terlalu banyak mata yang mengawasi,” katanya. “Tetapi di daerah pinggiran, kami masih menerima laporan petugas mendatangi bisnis dan meminta daftar pekerja tanpa dokumen.”
Penerbangan deportasi ICE juga masih berlangsung, menurut ICE Flight Monitor milik Human Rights First, organisasi nirlaba hak asasi manusia internasional yang mencatat sekitar seratus penerbangan dari Minneapolis tahun ini. Jumlah penerbangan, yang sebagian besar menuju El Paso, Texas, mulai menurun setiap bulan.
Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) menyatakan telah menangkap ribuan “imigran ilegal kriminal” di Minnesota. Dalam pernyataan, DHS mencantumkan penangkapan terhadap 23 imigran yang disebut telah divonis atau didakwa atas berbagai kejahatan, termasuk pembunuhan, pemerkosaan, kekerasan dalam rumah tangga, dan pencurian.
Namun data menunjukkan lebih dari 60% orang yang ditangkap di Minnesota tidak memiliki vonis pidana maupun dakwaan kriminal yang masih berjalan. Data tersebut diperoleh Deportation Data Project dari pemerintah.
Sebagian politikus Partai Republik di Minnesota mendukung operasi tersebut, termasuk anggota DPR negara bagian Joe McDonald, yang juga mengakui awal tahun ini bahwa “kesalahan memang terjadi. Kami tidak sempurna.”
Gelombang kritik setelah kematian Good dan Pretti membuat Trump mencopot Greg Bovino, pimpinan operasi di Minneapolis, pada Januari.
Namun penegakan aturan tidak berhenti. Pada Januari, US Citizenship and Immigration Services (USCIS) juga mengumumkan akan meninjau ulang 5.600 pengungsi di Minnesota yang belum memperoleh green card. USCIS menilai proses pemeriksaan pada pemerintahan sebelumnya “sangat tidak memadai” dan berupaya memperluas kebijakan itu secara nasional.
Eberhard mengatakan beberapa pengungsi dipindahkan ke pusat detensi ICE di luar negara bagian dan diwawancarai ulang terkait klaim suaka mereka tanpa pendampingan hukum.
Meski situasi di Minnesota telah “keluar dari fase kacau”, menurutnya kota itu kini memasuki “periode ketidakpastian yang sangat besar”. Sebagian orang menerima surat pascapeninjauan yang menyatakan pemerintah berniat mencabut status pengungsi mereka, sementara yang lain tidak mendapat kabar apa pun.
“Saya yakin masih banyak orang yang belum berani keluar rumah,” kata Eberhard.
Ekonomi Lokal Masih Sulit Pulih
Perekonomian Minneapolis juga terpukul setelah Metro Surge. Deretan bisnis di kawasan Phillips, lingkungan mayoritas Hispanik di selatan Minneapolis, menjadi salah satu yang paling terdampak.
Koridor Lake Street sepanjang sekitar 1,6 kilometer dipenuhi ratusan usaha kecil milik imigran. Pada puncak Metro Surge, setidaknya separuh bisnis di kawasan itu tutup sementara, menurut Lake Street Council. Organisasi itu memperkirakan bisnis di Lake Street kehilangan pendapatan lebih dari US$30 juta atau sekitar Rp487 miliar per bulan.
“Kerusakan ekonomi terhadap bisnis di Lake Street akibat Operasi Metro Surge terjadi secara langsung dan sangat parah,” kata Direktur Operasional Dewan Lake Street, Theresa Swaney.
“Teror yang ditimbulkan terhadap komunitas ini sangat besar, dan dampaknya terhadap Minneapolis, khususnya Lake Street, akan berlangsung lama.”
Banyak warga kehilangan pemasukan dan kesulitan membayar sewa karena memilih tidak bekerja akibat takut ditangkap. US Immigration Policy Center memperkirakan pada Maret bahwa pekerja di Minneapolis dan St Paul kehilangan upah sekitar US$240 juta atau sekitar Rp3,9 triliun.
Secara keseluruhan, bisnis di wilayah Twin Cities diperkirakan kehilangan gabungan pendapatan hingga US$610 juta atau sekitar Rp9,9 triliun akibat Metro Surge.
Data Eviction Lab, pusat riset berbasis di Universitas Princeton, menunjukkan pengajuan penggusuran di seluruh Minnesota pada 2026 naik 8% dibanding tahun lalu.
Ketika dimintai komentar mengenai dampak Metro Surge terhadap ekonomi lokal, DHS menjawab, “Nilai nyawa warga Amerika yang terselamatkan tidak dapat dihitung,” sambil menunjuk pada penangkapan imigran yang memiliki catatan kriminal.
Namun para pegiat hak imigran memperingatkan bahwa dampak operasi tersebut akan terasa dalam jangka panjang.
“Perubahan memang bisa lahir dari rasa sakit,” kata Katie sang guru. “Tetapi apa yang disaksikan anak-anak ini akan memengaruhi kota kami. Itu akan memengaruhi pilihan politik mereka, keyakinan mereka, dan cara mereka memandang pemerintah.”
