Tidak ada yang merasa akan menjadi korban penipuan—sampai hal itu benar-benar terjadi.
Tercatat rekor empat juta kasus penipuan yang menyebabkan kerugian finansial dilaporkan tahun lalu, menurut UK Finance, badan industri perbankan di Inggris. Jumlah sebenarnya diperkirakan lebih tinggi karena banyak kasus tidak dilaporkan.
Sam Little, 35 tahun, mantan peserta acara The Traitors, baru-baru ini mengungkapkan bahwa ia kehilangan tabungan hidup sebesar £40.000 akibat penipuan phishing. “Saya suka berpikir saya cukup paham, tetapi ini bisa menimpa siapa saja,” ujarnya.
Berikut tiga modus penipuan yang paling sering digunakan pelaku kejahatan siber dan cara menghindarinya.
1. Pencurian Data Bank
Modus penipuan:
“Hi Mum, saya ganti ponsel” atau pesan terkait paket yang tidak terkirim.
Pelaku mengirim pesan massal yang menyatakan bahwa penerima perlu memperbarui data mereka. Ini merupakan cara untuk mengumpulkan informasi perbankan penting guna mencuri uang.
Dalam kasus pesan “Hi Mum”, biasanya diikuti permintaan mendesak untuk mengirim uang. Bank juga melaporkan lonjakan penipuan “Hi Dad” menjelang Hari Ayah.
Pesan terkait paket tidak terkirim biasanya menyertakan tautan yang mengarah ke situs palsu yang tampak resmi. Situs tersebut dirancang untuk mencuri data perbankan, yang kemudian digunakan dalam penipuan pembelian jarak jauh menggunakan kartu curian. Kerugian dari modus ini mencapai sekitar £423 juta tahun lalu, menurut UK Finance.
Cara menghindari: Type, don’t tap (ketik, jangan klik).
Para ahli menyarankan untuk tidak mengklik tautan dalam pesan. Jika ada pesan yang mengaku dari, misalnya, Royal Mail, pengguna sebaiknya mengetik langsung alamat situs resmi perusahaan tersebut.
Data kartu bisa dicuri melalui berbagai cara, termasuk kebocoran data. Namun pelaku sering membutuhkan One-Time Passcode (OTP) untuk menyelesaikan transaksi. Kode ini harus diperlakukan seperti data bank dan tidak boleh diberikan kepada siapa pun yang menelepon dan mengaku dari bank.
Meski tampak sederhana, pelaku sering menahan korban di telepon untuk waktu lama agar berhasil mendapatkan kode tersebut.
2. Penipuan Romansa
Modus penipuan:
“Aku cinta kamu, kirim uang agar aku bisa menemuimu.”
Korban biasanya bertemu pelaku di situs kencan, lalu membangun hubungan secara bertahap hingga akhirnya diminta mengirim uang.
Rata-rata korban penipuan romansa mengirim sekitar 10 kali pembayaran kepada pelaku. Sebagian korban bahkan tidak pernah menyadari bahwa pasangan mereka tidak nyata.
Pelaku menggunakan foto palsu, sering kali diambil dari akun media sosial orang lain yang tidak menyadari identitasnya dicuri.
Setelah proses manipulasi emosional, korban diberi alasan seperti kecelakaan atau kebutuhan biaya perjalanan untuk bertemu.
Cara menghindari:
Meski terdengar tidak romantis, foto profil pasangan di situs kencan sebaiknya diperiksa melalui pencarian gambar terbalik (reverse image search).
Sebagian besar mesin pencari memiliki fitur ini, yang dapat membantu mengungkap apakah foto tersebut digunakan di tempat lain.
Para ahli juga menyarankan untuk tidak pernah mengirim uang kepada orang yang belum pernah ditemui secara langsung, serta terbuka kepada keluarga atau teman mengenai hubungan tersebut.
3. Penawaran Investasi Palsu
Modus penipuan:
“Kesempatan investasi ini tidak akan lama,” sering kali disampaikan oleh figur selebritas yang menjanjikan keuntungan besar dalam waktu singkat.
Namun, figur tersebut sebenarnya dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI) oleh pelaku penipuan. Dalam beberapa kasus, teknologi juga digunakan untuk meniru suara keluarga atau teman korban.
Kerugian akibat penipuan investasi juga tercatat pada level tertinggi.
Cara menghindari:
Pelaku penipuan hampir selalu menciptakan rasa urgensi, tetapi keputusan finansial sebaiknya tidak diambil secara tergesa-gesa.
Perusahaan keuangan yang sah harus terdaftar dan diotorisasi oleh Financial Conduct Authority (FCA). Karena itu, masyarakat disarankan memeriksa perusahaan melalui alat pengecekan resmi regulator tersebut.
Informasi kontak yang digunakan harus berasal dari hasil pengecekan resmi, bukan dari tautan media sosial yang bisa mengarah ke situs palsu.
Terdapat juga lebih banyak panduan pencegahan di situs Take Five to Stop Fraud.
