Kunal Shah, yang hingga beberapa waktu lalu lebih dikenal di kalangan startup dan investor India, kini menjadi sorotan global setelah Meta menunjuknya untuk memimpin WhatsApp.
Pendiri perusahaan fintech CRED itu sebelumnya telah membangun reputasi kuat di luar bisnis yang ia dirikan. Kehadirannya di berbagai podcast kerap membahas topik seperti kepercayaan, insentif, penciptaan kekayaan, hingga perilaku manusia. Di media sosial, ia aktif membagikan pandangan mulai dari kecerdasan buatan hingga filsafat.
Penunjukan ini menempatkan Shah di garis depan salah satu platform komunikasi terbesar di dunia, seiring Meta mempercepat ekspansi WhatsApp ke layanan di luar pesan instan, termasuk pembayaran, layanan bisnis, dan produk berbasis kecerdasan buatan.
Langkah ini juga terjadi setelah investasi Meta senilai sekitar $900 juta ke CRED, serta di tengah upaya WhatsApp memperluas ekosistemnya. Saat ini, WhatsApp memiliki lebih dari tiga miliar pengguna di seluruh dunia.
Sebelum bergabung dengan Meta, Shah sudah dikenal luas di ekosistem startup India.
Terobosan awalnya datang melalui FreeCharge, layanan pengisian ulang ponsel yang ia dirikan pada 2010 ketika ekonomi internet India mulai berkembang pesat. Perusahaan itu tumbuh cepat dan kemudian diakuisisi oleh e-commerce Snapdeal pada 2015, dalam salah satu akuisisi startup terbesar di India saat itu.
Setelah keluar dari FreeCharge, Shah beralih menjadi investor dan penasihat bagi berbagai perusahaan teknologi muda. Ia juga terlibat dengan akselerator startup Y Combinator dan Sequoia Capital, memperkuat posisinya dalam jaringan pendiri teknologi India yang berkembang cepat.
Lahir di Mumbai, Shah menempuh pendidikan filsafat di perguruan tinggi, berbeda dari banyak pendiri teknologi India yang umumnya berasal dari institusi teknik atau manajemen elite.
Dalam unggahan di platform X, pengusaha dan investor India Sanjeev Bikhchandani pernah menyebut bahwa Shah memilih filsafat karena jadwal kuliahnya di pagi hari memungkinkan ia tetap bekerja penuh waktu saat bisnis keluarganya mengalami kesulitan keuangan.
Dalam berbagai wawancara dan podcast, Shah juga mengungkapkan bahwa ia pernah mengambil berbagai pekerjaan sambilan sebelum akhirnya mendirikan FreeCharge, yang menjadi titik awal ketenarannya di tingkat nasional.
Didirikan pada 2018, CRED mengusung model bisnis sederhana dengan memberi insentif kepada pengguna untuk membayar tagihan kartu kredit tepat waktu.
Shah kerap mengaitkan lahirnya perusahaan itu dengan konsep kepercayaan dan insentif dalam perilaku manusia. Seiring waktu, CRED berkembang ke layanan pinjaman, asuransi, perdagangan, dan manajemen kekayaan.
Investasi terbaru Meta menilai CRED sekitar $4,5 miliar, lebih tinggi dari putaran pendanaan sebelumnya, namun masih di bawah puncak valuasi pada 2022 menurut laporan Reuters.
CRED juga dikenal sebagai merek fintech yang kuat di India, terutama melalui kampanye iklan yang memadukan humor, nostalgia, dan kemunculan selebritas.
Namun, pertumbuhan tersebut juga disertai kritik. Perusahaan ini kerap dipuji karena branding dan pertumbuhan pengguna, tetapi dipertanyakan terkait jalur menuju profitabilitas.
Para pengkritik mempertanyakan apakah antusiasme investor dan valuasi tinggi sejalan dengan kinerja keuangan perusahaan, sementara pendukungnya menilai banyak perusahaan teknologi besar juga mengalami kerugian dalam jangka panjang saat membangun skala bisnis.
Perdebatan itu kembali muncul tahun lalu ketika sebuah unggahan media sosial mempertanyakan mengapa pendiri startup sering dirayakan meski belum mencatatkan keuntungan berkelanjutan.
Shah menanggapi dengan menyatakan bahwa bisnis yang menguntungkan memang layak diapresiasi, tetapi kewirausahaan tetap perlu didorong karena menciptakan lapangan kerja dan melibatkan pengambilan risiko.
Bagi para pendukungnya, Shah mewakili generasi pengusaha yang membentuk ekonomi internet modern India, mulai dari pembayaran digital hingga teknologi finansial.
CEO Startup Policy Forum Shweta Rajpal Kohli, yang telah bekerja sama dengan Shah dalam isu kebijakan, menyebutnya memiliki “kemampuan langka untuk menggabungkan perspektif produk dengan kompleksitas regulasi, serta perspektif regulasi ke dalam desain produk”.
“Daya kreatif dan insting pemecahan masalahnya secara konsisten sangat menarik,” katanya
Namun bagi sebagian pengkritik, ia juga dianggap mewakili budaya startup yang terlalu menekankan valuasi, pendanaan, dan pertumbuhan cepat dibanding model bisnis berkelanjutan.
Penunjukan terbaru ini juga mencerminkan tema yang telah lama mewarnai perjalanan karier Shah.
WhatsApp kini semakin berkembang dari sekadar aplikasi pesan menuju pembayaran, perdagangan, dan layanan bisnis, area yang juga menjadi fokus Shah selama satu dekade terakhir sebagai pendiri, investor, dan penasihat.
India, yang merupakan pasar terbesar WhatsApp, juga menjadi pusat perjalanan bisnisnya. Dengan penunjukan ini, Shah akan menjadi orang India pertama yang memimpin WhatsApp.
Namun sejumlah pengamat menilai posisinya tidak bisa dilihat hanya dari latar belakang fintech atau pembayaran.
Nikhil Pahwa, pendiri dan editor MediaNama, mengatakan bahwa terlalu sempit jika menganggap Shah dipilih semata karena pengalamannya di fintech.
“Dia adalah seseorang yang telah bertahun-tahun memikirkan produk, perilaku konsumen, insentif, dan pertumbuhan. Dalam bisnisnya, pembayaran adalah mekanisme akuisisi pengguna,” katanya.
Meta sendiri belum menjelaskan secara rinci alasan penunjukan tersebut. Namun CEO Mark Zuckerberg memuji “mentalitas builder” dan “perspektif global” Shah.
Tantangan besar kini menantinya saat WhatsApp memperluas layanan ke pembayaran, alat bisnis, dan produk berbasis AI untuk melayani miliaran pengguna di seluruh dunia.
Berbeda dengan CRED yang menyasar pengguna aktif finansial seperti pendiri, investor, dan penggemar teknologi, di WhatsApp Shah akan bertanggung jawab atas platform yang digunakan oleh masyarakat jauh lebih luas di seluruh dunia.
