Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan telah memerintahkan penyelidikan terhadap perusahaan-perusahaan energi besar yang dituding “memeras” pengendara dengan tidak menurunkan harga bahan bakar meski harga minyak mentah dunia turun di pasar global.
Berbicara kepada wartawan di Gedung Putih pada Rabu, Trump menyatakan “harga bensin seharusnya jauh lebih murah di SPBU” sambil menyebut nama perusahaan seperti Chevron, ExxonMobil, Shell, dan BP.
Pernyataan tersebut muncul setelah harga minyak mentah global turun dari puncaknya selama perang AS-Israel melawan Iran dan kini kembali mendekati level sebelum konflik dimulai.
American Petroleum Institute (API), organisasi yang mewakili industri minyak dan gas di AS, mengatakan harga bahan bakar “tidak bergerak sejalan secara langsung dengan harga minyak mentah”.
“Harga minyak sudah turun sangat jauh dan kita tidak melihat penurunan yang sebanding di pompa bensin seperti yang seharusnya terjadi,” kata Trump kepada wartawan di Oval Office.
“Menurut saya, harga di pompa seharusnya sekitar 2,25 dolar AS per galon saat ini, tetapi kenyataannya masih lebih tinggi.”
Sebelumnya, Trump juga menulis bahwa para pengendara diduga sedang “diperas” oleh perusahaan energi dan menambahkan bahwa ia telah memerintahkan Departemen Kehakiman AS untuk “segera mulai menyelidiki hal ini”.
“Harga bahan bakar bukan hanya isu keamanan nasional, tetapi juga berdampak pada dompet setiap warga Amerika. Kami akan selalu berkomitmen memastikan keterjangkauan harga di negara ini,” kata juru bicara Departemen Kehakiman, meski tidak mengonfirmasi apakah penyelidikan resmi telah dimulai.
Juru bicara Gedung Putih mengatakan Trump sejak awal telah menegaskan bahwa gangguan pasar energi hanya akan bersifat sementara selama konflik Iran berlangsung.
“Presiden Trump memiliki rekam jejak yang terbukti dalam menurunkan harga bensin ke level terendah bersejarah, dan pemerintah terus fokus penuh untuk memberikan keringanan ekonomi bagi rakyat Amerika,” katanya.
Menanggapi komentar Trump, juru bicara API Bethany Williams mengatakan industri energi juga memiliki tujuan yang sama untuk menurunkan harga bahan bakar dan memulihkan stabilitas pasar energi global.
Namun, ia menambahkan bahwa konflik masih memengaruhi pasokan, proses penyulingan, dan persediaan energi.
Harga Minyak Sempat Melonjak Akibat Konflik Iran
Harga minyak dunia melonjak setelah Iran merespons serangan AS-Israel pada 28 Februari dengan secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur laut vital yang menjadi jalur utama pengiriman minyak dan gas dunia. Gangguan itu menyebabkan harga energi melonjak tajam.
Brent crude, patokan harga minyak global, sempat menyentuh hampir 120 dolar AS per barel pada Mei ketika perang terus berlangsung.
Namun, harga kemudian turun seiring perkembangan pembicaraan damai. Pada Rabu, harga Brent kembali berada di kisaran 74 dolar AS per barel, mendekati level sebelum konflik pecah.
Kondisi serupa juga terjadi pada minyak acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), yang turun ke sekitar 70 dolar AS per barel pada Rabu dan kembali mendekati level sebelum perang.
Sementara itu, harga rata-rata bensin reguler di AS turun menjadi sekitar 3,93 dolar AS per galon setelah sebelumnya sempat melampaui 4 dolar AS per galon pada April, level tertinggi sejak 2022. Meski demikian, harga tersebut masih jauh lebih tinggi dibanding sebelum perang.
Komentar Trump muncul setelah perusahaan-perusahaan minyak di Inggris juga menghadapi tuduhan serupa terkait dugaan kenaikan harga bahan bakar secara tidak wajar setelah perang Iran dimulai.
Namun, regulator persaingan usaha Inggris pada Mei menyatakan tidak menemukan bukti luas mengenai praktik tersebut dan menyebut margin keuntungan rata-rata perusahaan minyak “secara umum tidak berubah” antara Februari dan Maret.
