Piala Dunia semakin memanas dengan jadwal enam pertandingan setiap hari hingga akhir fase grup. Bagi banyak penggemar sepak bola, mengikuti seluruh pertandingan terasa seperti pekerjaan penuh waktu.
Bagi Kevin Akoto dan Austin Franklin, hal itu benar-benar menjadi pekerjaan sungguhan. Keduanya dibayar masing-masing US$50.000 atau sekitar Rp815 juta untuk menonton seluruh 104 pertandingan Piala Dunia.
Media menemui dua penggemar sepak bola itu lebih dari sepekan setelah mereka menjalani peran sebagai “Chief World Cup Watchers” untuk Fox One, guna mengetahui bagaimana pengalaman mereka sejauh ini.
Sulit untuk melewatkan kubus kaca khusus yang mereka tempati di tengah kawasan Times Square, New York. Para pengunjung dapat melihat langsung aktivitas mereka dari luar.
Ruang tersebut dilengkapi kursi santai, sofa kulit cokelat, dua televisi layar besar, hingga meja foosball.
Tempat itu juga dipenuhi berbagai merchandise sepak bola dan camilan yang membuat suasananya terasa seperti markas penggemar bola sejati.
“Ini seperti imajinasi semua orang berusia 20-an tahun. Kalau Anda bisa memasukkan apa saja ke ruangan ini, inilah yang akan dipilih seorang penggemar sepak bola,” kata Kevin
Kevin, seorang juru masak dari Florida, dan Austin, influencer asal Philadelphia, berhasil mengalahkan ribuan pelamar lainnya untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. Tugas mereka bukan hanya menonton setiap pertandingan, tetapi juga membuat konten untuk para penggemar.
Dengan turnamen yang masih berlangsung beberapa pekan lagi, keduanya mengaku berusaha menjaga stamina.
“Saya mulai kelelahan, Austin juga sedikit kelelahan, jadi kami belajar bagaimana mengikuti semua yang terjadi,” ujar Kevin.
Austin setuju dan membandingkan pengalaman itu dengan perkemahan musim panas, ketika hari-hari mulai terasa menyatu satu sama lain.
“Ini benar-benar seperti maraton. Pekerjaannya memang relatif mudah, saya cuma duduk di sofa sambil menonton sepak bola, tetapi tetap melelahkan. Saya memastikan tetap tidur delapan jam kalau ada kesempatan,” katanya.
Beruntung, pekerjaan tersebut tidak mengharuskan mereka tidur di dalam kotak kaca di Times Square. Mereka tetap bisa pulang setelah jam kerja untuk memulihkan tenaga sebelum kembali bertugas keesokan harinya.
Sejauh ini, keduanya sudah menyaksikan sejumlah momen bersejarah. Mereka melihat Lionel Messi memecahkan rekor pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia saat sedang menikmati barbeku khas Argentina. Salah satu keuntungan pekerjaan itu adalah mereka disuguhi makanan khas dari negara-negara peserta turnamen.
Di sela pertandingan, mereka juga berkesempatan berinteraksi dengan para penggemar, termasuk ribuan suporter Brasil yang memadati Times Square. Kawasan wisata tersebut menjadi magnet bagi pengunjung Piala Dunia, termasuk suporter Norwegia yang menampilkan selebrasi mendayung ala Viking yang terkenal.
Austin mengatakan bagian favoritnya adalah bertemu penggemar dari berbagai negara dan berbicara tentang sepak bola, budaya, serta pengalaman mereka selama berada di Amerika Serikat.
“Bagian paling gila adalah betapa sering saya lupa bahwa saya berada di Times Square dengan orang-orang yang memperhatikan saya. Saya bisa menonton pertandingan selama 10 atau 15 menit dan benar-benar larut, lalu melihat ke kanan, melihat Kevin dan kerumunan orang di Times Square, dan baru sadar lagi,” ujarnya.
Soal prediksi juara, Kevin menjagokan Spanyol mengangkat trofi, meski ia juga mendukung Amerika Serikat dan Ghana karena latar belakang keluarganya.
Sementara Austin mengenakan jersey Norwegia, bukan karena alasan pribadi, melainkan karena penampilan tim tersebut dan striker Manchester City, Erling Haaland, sejauh ini.
“Memang mudah mengatakan Spanyol atau Prancis akan menang, tetapi saya rasa Norwegia sudah sangat dekat. Kalau situasinya mendukung, saya benar-benar bisa membayangkan mereka membawa pulang trofi,” katanya.
Namun, tidak semua orang merasa pekerjaan itu menyenangkan.
Penggemar Norwegia Eimund Liland, 52 tahun, dan putrinya Camille yang berusia 15 tahun menilai menonton seluruh 104 pertandingan tanpa privasi mungkin terasa seperti “overdosis”.
Sementara Matthew Mendez, 18 tahun, mengatakan menikmati Piala Dunia bersama teman atau keluarga akan menjadi pengalaman yang lebih baik.
Namun bagi Miguel Sanchez yang berusia 20 tahun, pekerjaan itu terdengar luar biasa.
“Apa? Itu bahkan lebih bagus daripada menonton langsung di stadion. Dibayar untuk menonton Piala Dunia, itu gila, benar-benar gila,” katanya.
