Close Menu

    Subscribe to Updates

    Dapatkan informasi terbaru dari mayoritas.com

    Apa yang Viral?

    China Resmi Borong 200 Pesawat Boeing Usai Pertemuan Trump-Xi, Perang Dagang Mulai Mencair

    20/05/2026

    Putra Pendiri Mango Ditangkap, Kematian Misterius Isak Andic Kini Diselidiki sebagai Pembunuhan

    20/05/2026

    Trump Tumbangkan Lawan Internal Partai Republik, Dominasi Politiknya Kian Tak Terbendung

    20/05/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Home
    • POLITIK
      • Politik Amerika
      • Politik Asia
      • Politik Dunia
      • Politik Eropa
      • Politik Nasional
      • Politik Timur Tengah
    • Nasional

      China Resmi Borong 200 Pesawat Boeing Usai Pertemuan Trump-Xi, Perang Dagang Mulai Mencair

      20/05/2026

      Putra Pendiri Mango Ditangkap, Kematian Misterius Isak Andic Kini Diselidiki sebagai Pembunuhan

      20/05/2026

      Trump Tumbangkan Lawan Internal Partai Republik, Dominasi Politiknya Kian Tak Terbendung

      20/05/2026

      Skandal Married at First Sight UK Guncang Channel 4, Tuduhan Pemerkosaan Picu Pertanyaan Besar soal Reality Show

      20/05/2026

      Terungkap Sosok Dua Remaja Penyerang Masjid San Diego, Polisi Temukan Jejak Kebencian Ras dan Agama

      20/05/2026
    • TEKNOLOGI

      Novel Tentang Cinta Terlarang dan Kuliner Taiwan Raih International Booker Prize Pertama untuk Karya Berbahasa Mandarin

      20/05/2026

      Standard Chartered Pangkas Ribuan Pekerja Saat AI Ambil Alih Lebih Banyak Tugas

      19/05/2026

      Trump Membawa Para Raksasa Bisnis AS ke China, dari Elon Musk hingga Bos Apple

      13/05/2026

      Satu Dekade Berselang, Trump Kembali ke China yang Lebih Kuat dan Semakin Percaya Diri

      13/05/2026

      Sidang Musk vs OpenAI Bongkar Drama Internal: Mantan Orang Dekat Sebut Sam Altman Punya “Pola Konsisten Berbohong”

      12/05/2026
    • Hiburan
    • Belanja Sekarang
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    Mayoritas.com
    Langganan Sekarang
    TOPIK PANAS
    • Olahraga
    • Ekonomi & Pasar
      • Bisnis
      • Ekonomi
      • Keuangan
    • Wisata & Kuliner
    • Belanja Sekarang
    Mayoritas.com
    Home»Lain Lain»AS Diam-Diam Negosiasikan Pangkalan Militer Baru di Greenland Usai Ancaman Trump
    Lain Lain

    AS Diam-Diam Negosiasikan Pangkalan Militer Baru di Greenland Usai Ancaman Trump

    adminBy admin12/05/2026No Comments5 Mins Read2 Views
    Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Amerika Serikat dilaporkan tengah melakukan negosiasi intensif dengan Denmark untuk memperluas kehadiran militernya di Greenland, menurut sejumlah pejabat yang mengetahui pembicaraan tersebut.

    Diskusi antara kedua pihak disebut mengalami kemajuan dalam beberapa bulan terakhir.

    Pejabat AS ingin membuka tiga pangkalan militer baru di wilayah selatan Greenland, di tengah upaya meredakan krisis diplomatik yang dipicu oleh Donald Trump setelah ia mengancam akan merebut Greenland dengan kekuatan militer.

    Pada Januari lalu, Trump mengatakan AS seharusnya “memiliki” Greenland demi mencegah Rusia atau China menguasainya. Ia bahkan menyebut hal itu bisa terjadi melalui “cara mudah” maupun “cara keras”.

    Gedung Putih mengonfirmasi bahwa pemerintah AS sedang melakukan pembicaraan tingkat tinggi dengan Greenland dan Denmark, meski menolak menjelaskan detail negosiasi.

    Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan pemerintah “sangat optimistis” pembicaraan bergerak ke arah yang tepat.

    Pemerintah Denmark sebelumnya memang telah menyatakan terbuka untuk membahas penambahan pangkalan militer AS di Greenland. Kementerian Luar Negeri Denmark juga membenarkan adanya pembicaraan dengan Washington.

    “Ada jalur diplomatik yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat. Kementerian Luar Negeri tidak akan memberikan rincian lebih lanjut saat ini,” kata juru bicara kementerian tersebut.

    AS Ingin Wilayah Pangkalan Berstatus Kedaulatan Amerika

    Menurut salah satu sumber yang mengetahui proses negosiasi, pejabat AS sempat mengusulkan agar tiga pangkalan baru tersebut secara resmi ditetapkan sebagai wilayah kedaulatan Amerika Serikat.

    Pangkalan-pangkalan itu akan dibangun di Greenland bagian selatan dan terutama difokuskan untuk memantau aktivitas maritim Rusia dan China di kawasan Atlantik Utara yang dikenal sebagai GIUK Gap — wilayah strategis antara Greenland, Islandia, dan Inggris.

    Kedua pihak disebut belum mencapai kesepakatan final, dan jumlah pangkalan yang dibangun masih bisa berubah.

    Salah satu pangkalan kemungkinan besar akan berada di Narsarsuaq, lokasi bekas pangkalan militer AS yang memiliki bandara kecil.

    Analis memperkirakan pangkalan baru lainnya juga akan dibangun di lokasi yang sudah memiliki infrastruktur seperti landasan udara atau pelabuhan agar biaya pengembangan lebih rendah dibanding membangun fasilitas dari nol.

    Meski demikian, pejabat AS disebut tidak pernah membahas kemungkinan merebut Greenland secara paksa selama negosiasi berlangsung — gagasan yang sebelumnya telah ditolak keras oleh Denmark dan NATO.

    Walau sempat muncul ancaman Trump, kedua negara justru terus bekerja menuju kesepakatan dalam beberapa bulan terakhir.

    Negosiasi Dilakukan Diam-Diam

    Pembicaraan dilakukan secara tertutup oleh kelompok kecil pejabat di Washington yang tetap bergerak di balik layar ketika perhatian pemerintahan AS tersita oleh perang Iran.

    Kepala Komando Utara AS, Gregory Guillot, sempat memberi gambaran umum soal negosiasi itu saat memberikan kesaksian di Kongres pada Maret lalu.

    Ia mengatakan AS memang ingin membuka pangkalan baru, tetapi sumber-sumber yang dekat dengan pembicaraan mengungkap detail lebih lanjut mengenai pertemuan rutin tingkat tinggi yang terus berlangsung dalam beberapa bulan terakhir.

    Upaya diplomatik sensitif ini dipimpin oleh Michael Needham, pejabat senior Departemen Luar Negeri AS yang ditugaskan menyusun kesepakatan yang dapat memuaskan Trump sekaligus menghormati garis merah Denmark terkait perlindungan wilayahnya.

    “Needham memimpin langsung urusan Greenland,” kata seorang diplomat senior yang mengetahui pembicaraan tersebut.

    “Di balik layar, pemerintahan AS menangani ini dengan sangat profesional.”

    Tim negosiasi disebut telah bertemu sedikitnya lima kali sejak pertengahan Januari.

    Needham biasanya didampingi satu atau dua pejabat dari Departemen Luar Negeri atau Dewan Keamanan Nasional AS. Sementara pihak Denmark diwakili Duta Besar Denmark untuk AS Jesper Møller Sørensen dan diplomat tertinggi Greenland di Washington, Jacob Isbosethsen.

    Utusan Trump Justru Tidak Terlibat

    Utusan khusus Trump untuk Greenland, Gubernur Louisiana dari Partai Republik Jeff Landry, disebut tidak ikut dalam negosiasi dan nyaris tidak terlibat dalam proses diplomatik tersebut.

    “Dia seharusnya lebih berperan sebagai penyemangat gagasan bahwa AS bisa menunjukkan kekuatan dan mengambil alih Greenland sebagai aset keamanan,” kata seorang sekutu dekat Landry yang tidak ingin disebut namanya.

    “Dia tidak pernah hadir dalam pembicaraan resmi mana pun.”

    Kantor Landry tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

    Saat ini AS memiliki satu pangkalan militer di Greenland, turun jauh dari sekitar 17 fasilitas militer pada masa puncak Perang Dingin.

    Pangkalan Pituffik Space Base di Greenland barat laut saat ini digunakan untuk memantau rudal bagi NORAD, tetapi belum dirancang untuk pengawasan maritim.

    Ancaman Trump Dinilai Tidak Perlu

    Sejumlah pejabat dan mantan pejabat AS serta pakar keamanan Arktik mengatakan Washington sebenarnya bisa memperluas kepentingannya di Greenland tanpa harus mengancam sekutu NATO dengan bahasa agresif.

    “Mengapa harus mengancam sekutu dengan operasi militer atau invasi jika yang diinginkan sebenarnya bisa dinegosiasikan dengan cukup mudah?” kata seorang mantan pejabat senior pertahanan AS.

    Namun ada pula yang memuji kerja sama antara AS dan Denmark.

    “Di mana pun AS dan sekutu-sekutunya meninggalkan kekosongan, ruang itu sering kali diisi China dan Rusia,” kata pensiunan Jenderal Glen VanHerck

    Di balik layar, para negosiator disebut berupaya mencari kompromi berdasarkan perjanjian keamanan lama antara AS dan Denmark yang ditandatangani pada 1951.

    Perjanjian itu memberi ruang luas bagi AS untuk memperluas operasi militernya di Greenland, meski tetap membutuhkan persetujuan pemerintah Denmark.

    Menurut para ahli keamanan Arktik, Denmark selama ini selalu mendukung operasi militer AS di Greenland dan belum pernah menolak permintaan Washington untuk memperbesar kehadiran militernya di wilayah tersebut.

    Perwakilan pemerintah Greenland di Washington menolak memberikan komentar. Departemen Luar Negeri AS juga enggan menanggapi lebih lanjut.

    Trump sebenarnya sudah menunjukkan minat memperluas akses AS ke Greenland sejak masa jabatan pertamanya sebagai presiden.

    Namun ketertarikannya yang kembali muncul awal tahun ini memicu krisis diplomatik baru dan menyoroti ketegangan antara NATO dan pemerintahan Trump.

    amerika greenland militer trump
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    admin

    Related Posts

    Ekonomi

    China Resmi Borong 200 Pesawat Boeing Usai Pertemuan Trump-Xi, Perang Dagang Mulai Mencair

    20/05/2026
    Bisnis

    Putra Pendiri Mango Ditangkap, Kematian Misterius Isak Andic Kini Diselidiki sebagai Pembunuhan

    20/05/2026
    Ekonomi & Pasar

    Trump Tumbangkan Lawan Internal Partai Republik, Dominasi Politiknya Kian Tak Terbendung

    20/05/2026
    Hiburan

    Skandal Married at First Sight UK Guncang Channel 4, Tuduhan Pemerkosaan Picu Pertanyaan Besar soal Reality Show

    20/05/2026
    Hukum Kriminal

    Terungkap Sosok Dua Remaja Penyerang Masjid San Diego, Polisi Temukan Jejak Kebencian Ras dan Agama

    20/05/2026
    Lain Lain

    Jet Tempur Nato Tembak Jatuh Drone di Estonia, Ketegangan Rusia-Ukraina Merembet ke Baltik

    20/05/2026
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Langganan Berita

    Dapatkan berita olahraga terkini dari NewsSite tentang dunia, olahraga, dan politik.

    Pilihan Editor

    China Resmi Borong 200 Pesawat Boeing Usai Pertemuan Trump-Xi, Perang Dagang Mulai Mencair

    20/05/2026

    Putra Pendiri Mango Ditangkap, Kematian Misterius Isak Andic Kini Diselidiki sebagai Pembunuhan

    20/05/2026

    Trump Tumbangkan Lawan Internal Partai Republik, Dominasi Politiknya Kian Tak Terbendung

    20/05/2026

    Skandal Married at First Sight UK Guncang Channel 4, Tuduhan Pemerkosaan Picu Pertanyaan Besar soal Reality Show

    20/05/2026
    Info Terbaru

    Apa Itu Lifestyle Sedentary? Menimbulkan Banyak Penyakit Hingga Dapat Terkena Kanker

    20/01/2021

    Pebasket Zhang Ziyu Setinggi 220M Menarik Perhatian Usai Mengalahkan Tim U-18 Indonesia

    15/01/2021

    Kronologi Atlet Bulu Tangkis China Zhang Zhi Jie Meninggal Di Ajang AJC 2024

    15/01/2021
    Advertisement
    LOGO_FOOTER_MAYORITAS
    Facebook X (Twitter) Pinterest Vimeo WhatsApp TikTok Instagram

    News

    • Ekonomi & Pasar
    • Olahraga
    • Opini
    • Otomotif
    • Wisata Kuliner
    • Video Unggulan
    • Kesehatan

    Company

    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Hak Cipta
    • Disclaimer
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Panduan Kebijakan

    Layanan

    • Toko
    • Customer Support
    • Karir
    • Tentang kami
    • Hubungi Kami
    • Akses login

    Langganan Updates

    Dapatkan informasi terkinni seputar fakta informasi dunia, anda bisa berlangganan melalui email anda

    © 2026 Mayoritas.com
    • Privacy Policy
    • Term of Service
    • Contact us

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.