Utusan khusus Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk Greenland, Jeff Landry, memulai kunjungan pertamanya ke pulau Arktik tersebut dalam upaya membangun hubungan dan mencari “teman”.
“Saya datang ke sini semata-mata untuk membangun hubungan, melihat, mendengar, dan belajar,” kata Landry setelah turun dari pesawat resmi AS di Nuuk, ibu kota Greenland, pada Senin.
Namun kunjungan Landry ke wilayah semi-otonom bagian dari Denmark itu memicu sensitivitas politik. Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen kembali menegaskan bahwa negaranya “tidak untuk dijual”, sementara sebagian warga Greenland menyambut dingin kedatangan utusan AS tersebut.
Kunjungan itu berlangsung di tengah upaya menyelesaikan krisis diplomatik yang dipicu Trump setelah sebelumnya mengancam akan mengambil alih Greenland dengan kekuatan militer.
Didampingi rombongan kecil, Landry—yang juga menjabat sebagai Gubernur Louisiana—datang untuk menghadiri forum bisnis dan pembukaan gedung konsulat baru Amerika Serikat.
Turut mendampinginya seorang dokter asal Amerika yang mengatakan kepada jaringan televisi Denmark TV2 bahwa dirinya menjadi relawan “untuk menilai kebutuhan medis” di Greenland. Langkah itu dikritik Menteri Kesehatan Greenland, Anna Wangenheim, sebagai tindakan yang “sangat bermasalah”.
Trump pada Februari lalu mengumumkan rencana mengirim kapal rumah sakit AS ke Greenland, tawaran yang langsung ditolak mentah-mentah oleh pemimpin Greenland.
Setelah ditunjuk sebagai utusan khusus pada Desember 2025, Landry mengatakan Trump memintanya untuk “pergi ke sana dan mendapatkan banyak teman”.
Seorang pendukung Trump asal Greenland, Jorgen Boassen, yang sebelumnya menghadiri pelantikan Trump, turut mendampingi Landry berkeliling kota.
Utusan AS itu juga bertemu mantan wali kota serta sejumlah pemimpin bisnis setempat.
Kontroversi muncul karena kunjungan tersebut dilakukan tanpa undangan resmi, di saat pembicaraan sensitif tingkat tinggi antara AS, Denmark, dan Greenland masih berlangsung.
Pada Senin, Landry—yang bersikeras menyebut kunjungannya sebagai misi persahabatan—bersama Duta Besar AS untuk Denmark Ken Howery bertemu Nielsen.
“Kami dengan tegas menegaskan kembali bahwa rakyat Greenland tidak untuk dijual dan bahwa warga Greenland memiliki hak menentukan nasib sendiri,” ujar Nielsen kepada wartawan setelah pertemuan.
Nielsen mengakui suasana pertemuan berlangsung “baik”, namun menegaskan tidak akan ada pembicaraan paralel selama negosiasi tingkat tinggi masih berjalan.
Menteri Luar Negeri Greenland, Mute Egede, juga mengatakan Amerika Serikat belum meninggalkan ambisinya untuk menguasai wilayah tersebut.
“Kami memiliki garis merah kami sendiri. Titik awal Amerika juga tidak berubah,” kata Egede, dikutip Agence France-Presse.
Seruan Trump yang berulang kali meminta pengambilalihan wilayah otonom Denmark itu—dengan alasan penting bagi keamanan nasional AS—sebelumnya memicu krisis diplomatik.
Setelah Trump mengesampingkan opsi penggunaan kekuatan militer, dibentuklah sebuah “kelompok kerja” untuk menyelesaikan sengketa tersebut.
Namun meski ketegangan mulai mereda dalam beberapa waktu terakhir, kesepakatan antara negara-negara terkait belum tercapai sebelumnya melaporkan bahwa AS juga menginginkan kehadiran militer yang lebih besar di Greenland.
Berbicara kepada wartawan di luar forum bisnis “Future Greenland” pada Selasa, Landry menilai Greenland selama ini diabaikan pemerintahan AS terdahulu.
“Sebelum Donald Trump, Amerika Serikat mengabaikan Greenland,” katanya.
Ketika ditanya apakah Trump masih ingin Greenland menjadi bagian dari Amerika Serikat, Landry menjawab: “Anda harus bertanya langsung kepada presiden.”
“Kapan terakhir kali diplomat tingkat tinggi datang ke Greenland?” ujarnya. “Siapa yang lebih peduli pada warga Greenland selain pemerintahan Trump dan presidennya? Karena tampaknya sebelum presiden ini, tidak ada yang peduli.
“Greenland bahkan tidak diperhatikan sampai Donald Trump menempatkannya di peta dunia.”
Sejak penunjukannya secara mengejutkan sebagai utusan khusus, Landry terus melontarkan pujian terhadap kebijakan Trump.
Menurut peneliti senior kebijakan luar negeri Amerika di Danish Institute of International Studies, Rasmus Sinding Søndergaard, Landry sejauh ini menggunakan pendekatan yang lebih lunak selama kunjungannya.
“Saya pikir ini perubahan taktik,” katanya. “Pendekatannya sekarang adalah mencoba berteman dengan masyarakat, bukan memaksa mereka.”
Namun tekanan dari Amerika Serikat tetap membebani 57.000 penduduk Greenland dan upaya memenangkan hati mereka dipandang sebagai tantangan besar.
“Baru empat bulan lalu kami merasa sangat terancam oleh AS, jadi waktunya tidak tepat,” kata pebisnis sekaligus mantan politikus Greenland, Maliina Abelsen, yang mengaku menolak undangan bertemu Landry.
“Saya tidak suka cara Anda mencoba melewati jalur diplomasi dan langsung masuk dari pintu depan.”
Penulis sekaligus mantan presiden Inuit Circumpolar Council, Aqqaluk Lynge, mengatakan kini ada “begitu banyak ketidakpercayaan”.
“Yang menyedihkan, kami sebenarnya memiliki hubungan yang indah dengan masyarakat Amerika, terutama masyarakat adat di sana,” ujarnya.
Pada Kamis, Landry dan Howery dijadwalkan menghadiri pembukaan gedung konsulat baru AS, sebuah bangunan modern bertingkat tinggi di pusat Nuuk yang dijuluki sebagian warga lokal sebagai “Trump Towers”.
Anggota parlemen Greenland sekaligus mantan menteri bisnis, Naaja H. Nathanielsen, mengatakan dirinya tidak akan menghadiri acara tersebut karena situasi masih dianggap sensitif.
“Landry ditugaskan membantu presiden untuk memperoleh Greenland. Itu alasan mengapa dia datang untuk ‘mendengar’ dan berkunjung, dan hal itu sendiri menurut saya tetap sangat serius,” katanya.
