Amerika Serikat memproduksi minyak dalam jumlah sangat besar hingga jutaan barel minyak mentah dikirim ke luar negeri setiap hari.

Minyak asal AS kini menjadi sangat berharga bagi dunia setelah perang di Timur Tengah membuat hampir 1 miliar barel minyak terjebak di kawasan Teluk. Negara-negara di Asia dan Eropa berlomba mencari pengganti pasokan minyak yang terganggu akibat penutupan Selat Hormuz, sehingga permintaan terhadap ekspor minyak AS melonjak tajam.

Ekspor minyak AS mencapai rekor tertinggi pada akhir April. Cadangan energi, yang berfungsi sebagai penyangga saat krisis, juga terus menyusut cepat pekan lalu, menurut data federal yang dirilis Rabu.

Situasi ini memunculkan pertanyaan besar: jika Amerika Serikat memiliki cukup minyak untuk dikirim ke luar negeri, mengapa tidak menyimpan lebih banyak minyak mentah, bensin, dan bahan bakar jet di dalam negeri untuk menekan harga yang terus melonjak?

Apalagi, Amerika kini mengekspor lebih banyak minyak mentah dibandingkan yang diimpornya. Sejumlah negara lain, termasuk China, bahkan sudah mulai membatasi ekspor minyak mereka beberapa pekan lalu.

Pelaku industri mengakui bahwa pembatasan ekspor dapat membantu menahan kenaikan harga dalam jangka pendek. Namun dalam jangka panjang, mereka khawatir kebijakan tersebut justru menghancurkan kilang minyak AS dan merusak reputasi Amerika sebagai pemasok energi yang dapat diandalkan, bahkan berpotensi menyeret sekutu-sekutunya ke jurang resesi.

Pemerintahan Presiden Donald Trump menyebut pembatasan ekspor bukan opsi yang sedang dipertimbangkan.

Menteri Energi Chris Wright dan Menteri Dalam Negeri Doug Burgum berulang kali menyampaikan, baik secara publik maupun pribadi, bahwa Gedung Putih tidak mempertimbangkan larangan ekspor energi.

Namun, sejumlah anggota parlemen berharap pemerintah berubah pikiran.

Anggota DPR dari Partai Demokrat, Ro Khanna, baru-baru ini kembali mengajukan rancangan undang-undang yang akan melarang ekspor bensin selama periode harga BBM tinggi.

“Ini logika sederhana,” kata Khanna

“Mengapa kita mengirim minyak ke luar negeri ketika rakyat Amerika diperas di SPBU?… Pasokan minyak kita seharusnya untuk warga Amerika. Itu akan menurunkan harga.”

Disebut Sebagai “Ide Buruk”

Meski larangan ekspor energi mungkin menguntungkan secara politik, sejumlah analis memperingatkan hasilnya belum tentu sesuai harapan.

Masalah utamanya adalah rantai pasokan energi Amerika sangat kompleks dan bergantung pada kombinasi impor serta ekspor.

Matt Smith, analis utama minyak di Kpler, menekankan bahwa meskipun AS merupakan eksportir minyak bersih, negara itu masih mengimpor sekitar 6,5 juta barel minyak mentah per hari.

Kilang minyak Amerika yang sudah tua juga telah mencapai batas maksimal dalam mengolah minyak ringan berkadar sulfur rendah dari Permian Basin di Texas Barat dan New Mexico. Untuk memproduksi bensin dan solar, mereka masih membutuhkan campuran minyak berat dari Kanada, Timur Tengah, dan Amerika Latin. Sementara kelebihan minyak shale AS justru diekspor.

Dengan kata lain, Amerika Serikat bukanlah “pulau energi” yang sepenuhnya mandiri.

Peluang Pembatasan Ekspor Dinilai 35 Persen

Para pakar industri menilai larangan ekspor energi justru bisa menjadi bumerang.

Bob McNally, pendiri Rapidan Energy Group sekaligus mantan penasihat energi Presiden George W. Bush, mengatakan penurunan harga akibat pembatasan ekspor hanya akan bersifat sementara.

Menurutnya, memaksa kilang hanya menggunakan minyak domestik dapat memangkas margin keuntungan mereka.

“Kilang akan memproduksi lebih sedikit bensin, dan pada akhirnya itu justru menyebabkan harga naik,” kata McNally.

Meski begitu, McNally tidak menutup kemungkinan pembatasan ekspor benar-benar diterapkan jika krisis energi memburuk. Perusahaannya memperkirakan ada peluang 35 persen harga energi melonjak cukup tinggi hingga pemerintahan Trump memberlakukan pembatasan minyak dalam bentuk tertentu.

“Saya pernah berada di Gedung Putih saat tekanan politik memuncak. Ini ide yang buruk, tetapi akan sulit ditolak ketika harga terus naik,” ujarnya.

Analis Mulai Mengubah Pandangan

Guncangan pasokan energi terburuk dalam sejarah membuat sebagian analis mulai mempertimbangkan ulang pandangan lama mereka mengenai larangan ekspor.

Vikas Dwivedi, ahli strategi energi global dari Macquarie Group, mengatakan larangan sementara terhadap ekspor minyak dan produk energi kemungkinan besar akan menjatuhkan harga minyak dan bensin di AS secara drastis, sehingga mengurangi tekanan terhadap konsumen menjelang pemilu paruh waktu.

Ia menilai kilang minyak masih bisa mengatasi masalah akibat kehilangan akses terhadap minyak berat impor.

“Saya sendiri tidak percaya mengatakan ini. Sepanjang karier saya, saya selalu bilang larangan ekspor tidak akan berhasil dan jangan dilakukan. Tapi sekarang situasinya berbeda,” kata Dwivedi.

Bisa Picu “Kekacauan Total”

Robert Auers, manajer bahan bakar olahan di RBN Energy, mengatakan larangan ekspor minyak dan produk energi memang dapat menurunkan harga BBM untuk sementara, tetapi dampak jangka panjangnya akan sangat mahal.

Menurutnya, kebijakan itu bisa menciptakan “kekacauan total” yang memaksa kilang mengurangi produksi, bahkan membuat sebagian perusahaan tutup permanen.

“Anda mungkin bisa menjatuhkan harga minggu depan. Tapi efek itu akan memudar seiring waktu. Setahun dari sekarang, harga mungkin tidak jauh berbeda dari hari ini,” kata Auers.

Industri minyak dan gas juga diperkirakan akan melawan keras kebijakan tersebut.

“Ini akan menjadi kebijakan yang sangat buruk dan industri akan memberikan perlawanan yang sangat keras dan vokal,” kata seorang sumber industri minyak dan gas

CEO Chevron, Mike Wirth, pekan ini memperingatkan bahwa larangan ekspor, pembatasan harga, dan kebijakan serupa tidak akan berhasil.

Berbicara dalam konferensi global Milken Institute, Wirth mengatakan kebijakan semacam itu mungkin “berniat baik”, tetapi sejarah menunjukkan dampak tak terduganya justru dapat memperburuk keadaan.

Risiko Mengguncang Ekonomi Dunia

Membatasi pasokan minyak AS ke dunia juga dinilai berbahaya bagi ekonomi global, dan dampaknya diperkirakan akan kembali menghantam Amerika sendiri.

Dwivedi memperingatkan harga minyak, bensin, bahan bakar jet, dan produk energi lain di pasar global bisa melonjak “gila-gilaan”.

“Tiba-tiba Anda berisiko memicu resesi global. Dan Amerika tidak akan bisa sepenuhnya terlindungi dari dampaknya. Efeknya akan kembali ke kita,” ujarnya.

Auers bahkan memprediksi akan muncul aksi balasan keras terhadap Amerika Serikat, termasuk kemungkinan tarif baru.

“Anda akan memulai perang dagang baru — bahkan lebih buruk dibanding tahun lalu,” katanya.

Harga energi global yang melonjak juga akan membebani sekutu-sekutu AS di Eropa dan Asia yang kini sangat bergantung pada pasokan energi Amerika di tengah krisis.

“Kita akan menghancurkan reputasi Amerika secara permanen sebagai gudang energi dunia,” kata McNally.

Share.
Leave A Reply