Militer Amerika Serikat menembaki kapal tanker minyak berbendera Iran pada Rabu, tak lama setelah Presiden Donald Trump mengeluarkan ultimatum baru kepada Teheran: menerima kesepakatan untuk mengakhiri perang atau menghadapi gelombang pemboman baru dengan intensitas yang jauh lebih besar.

Komando Pusat AS menyatakan jet tempur Amerika melepaskan beberapa tembakan dan “melumpuhkan kemudi kapal tanker” ketika kapal itu mencoba menembus blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Serangan tersebut terjadi setelah pengumuman Trump di media sosial, yang menjadi bagian terbaru dari serangkaian perubahan kebijakan dramatis dan kerap saling bertentangan di tengah laporan yang belum terkonfirmasi mengenai kemajuan negosiasi antara Washington dan Teheran.

“Jika Iran setuju memberikan apa yang telah disepakati — yang mungkin merupakan asumsi besar — maka Epic Fury yang sudah melegenda akan berakhir,” tulis Trump di platform Truth Social miliknya, merujuk pada operasi militer yang diluncurkannya bersama Israel terhadap Iran pada Februari lalu.

“Jika mereka tidak setuju, pemboman akan dimulai, dan sayangnya akan jauh lebih besar dan lebih intens dibanding sebelumnya.”

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang dijadwalkan berbicara dengan Trump pada Rabu malam, mengatakan Israel “siap menghadapi semua skenario”.

Sementara itu, negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, tetap menunjukkan sikap keras. Ia menuduh Washington berupaya memaksa Iran menyerah melalui berbagai cara, termasuk blokade laut.

“Musuh dalam strategi barunya berusaha menghancurkan kohesi negara melalui blokade laut, tekanan ekonomi, dan manipulasi media untuk memaksa kami menyerah,” kata Ghalibaf dalam pesan suara yang dipublikasikan melalui kanal Telegram resminya.

Sebelumnya pada Rabu, Axios melaporkan bahwa Washington dan Teheran hampir menyepakati memorandum satu halaman untuk mengakhiri perang.

Media tersebut menyebut AS menunggu respons Iran terhadap sejumlah poin penting dalam 48 jam ke depan. Meski belum ada kesepakatan final, kondisi saat ini disebut sebagai titik paling dekat menuju perjanjian.

Pejabat Pakistan mengatakan bahwa kerangka awal kesepakatan kemungkinan dapat dicapai dalam 48 jam, meski pembicaraan masih berlangsung sulit.

Trump Hentikan Operasi Laut Mendadak

Pada Selasa malam, Trump secara mendadak memerintahkan penghentian tanpa batas waktu terhadap operasi angkatan laut yang bertujuan mengawal kapal-kapal dagang yang terjebak di Selat Hormuz.

Lebih dari 800 kapal dan sekitar 20.000 awak masih tertahan di sebelah barat jalur laut sempit tersebut. Iran sebelumnya mengancam akan mengerahkan ranjau laut, drone, rudal, dan kapal serang cepat, membuat pelayaran komersial di kawasan itu dinilai terlalu berbahaya dan memicu lonjakan harga bahan bakar global.

Trump mengatakan keputusan menghentikan operasi baru bernama Project Freedom — hanya sehari setelah dimulai — dilakukan setelah permintaan dari “mediator Pakistan dan negara-negara lain”.

“Kemajuan besar telah dicapai menuju Kesepakatan Lengkap dan Final,” tulis Trump.

Namun, ia menegaskan blokade AS terhadap pelabuhan Iran tetap akan dipertahankan sebagai alat tekanan dalam negosiasi.

NBC melaporkan, mengutip dua pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, bahwa penghentian mendadak Project Freedom dipicu penolakan Arab Saudi terhadap rencana tersebut. Riyadh disebut memperingatkan Washington akan menghentikan penggunaan pangkalan udara Prince Sultan dan akses wilayah udaranya bagi pesawat AS.

Kapal Induk Prancis Bergerak ke Laut Merah

Di sisi lain, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan kelompok tempur kapal induk Prancis bergerak melewati Terusan Suez menuju Laut Merah sebagai persiapan kemungkinan misi gabungan Prancis-Inggris di Selat Hormuz.

Trump, yang dijadwalkan mengunjungi Beijing pekan depan, dalam beberapa minggu terakhir berulang kali mengancam melanjutkan ofensif udara gabungan AS-Israel terhadap Iran. Namun, ia juga terus menyatakan keinginannya mencapai solusi diplomatik.

Para analis menilai Trump kemungkinan ingin membawa pencapaian diplomatik sebelum tiba di Beijing. China sendiri pada Senin menyerukan gencatan senjata menyeluruh dalam perang Iran.

Beijing memiliki hubungan ekonomi dan politik yang erat dengan Teheran, tetapi sejauh ini dinilai gagal memberikan tekanan signifikan terhadap rezim Iran sejak perang dimulai.

Pemerintahan Trump diduga berharap China memanfaatkan pengaruh tersebut untuk membujuk Iran membuka kembali Selat Hormuz.

Kunjungan Trump nanti akan menjadi lawatan pertamanya ke China pada masa jabatan keduanya sekaligus kunjungan pertama presiden AS sejak lawatan sebelumnya pada 2017.

Pakistan Sebut Pembicaraan Masih “50:50”

Seorang sumber politik senior Pakistan mengatakan pembicaraan kini berfokus pada tercapainya gencatan senjata permanen serta pembukaan Selat Hormuz selama minimal 60 hari.

“Itu memberi kesempatan bagi kedua pihak untuk membahas seluruh isu penting, termasuk pengayaan uranium. Tetapi belum ada yang final,” kata sumber tersebut.

Pejabat Pakistan lainnya mengatakan masih ada krisis kepercayaan antara Iran dan AS.

“Masih ada ambiguitas dalam pembicaraan dan belum ada keputusan final. Situasinya masih 50:50 dan bisa bergerak ke arah mana pun,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa penghentian blokade dan tetap terbukanya Selat Hormuz akan menjadi awal dari negosiasi yang sesungguhnya.

“Selama blokade masih berlangsung dari kedua pihak, pembicaraan akan tetap sulit. Karena itu, kerangka kesepahaman untuk menghentikan blokade selama 30 hingga 60 hari sangat penting sebagai langkah membangun kepercayaan.”

Para analis juga menilai dibutuhkan pihak penjamin eksternal agar kesepakatan dapat bertahan.

Menurut pejabat tersebut, Pakistan dan Iran sama-sama menginginkan China menjadi penjamin, meski banyak pihak meragukan apakah Beijing memiliki pengaruh cukup besar terhadap kedua pihak.

Harga Minyak Langsung Anjlok

Kabar mengenai kemungkinan kesepakatan langsung membuat harga minyak jatuh tajam setelah sebelumnya sempat melonjak hingga 6 persen pada awal pekan.

Meski demikian, banyak pengamat menilai kesenjangan antara Iran dan AS masih terlalu besar sehingga peluang terciptanya gencatan senjata jangka panjang dalam waktu dekat tetap kecil.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan Teheran akan menyampaikan posisinya kepada Pakistan setelah “memfinalisasi pandangan”.

Israel Serang Beirut

Di perkembangan lain, Israel menyerang Beirut pada Rabu untuk pertama kalinya sejak menyepakati gencatan senjata dengan Hezbollah bulan lalu.

Israel mengklaim serangan itu menargetkan komandan pasukan elite Radwan milik Hezbollah di pinggiran selatan Beirut.

Media Israel melaporkan komandan tersebut — yang diidentifikasi AFP sebagai Malek Ballout — tewas dalam serangan. Namun belum ada konfirmasi resmi dari militer Israel maupun Hezbollah.

Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut sedikitnya 11 orang lainnya tewas dalam serangan di wilayah selatan dan timur negara itu.

Belakangan pada Rabu, Trump mengatakan bahwa ia optimistis kesepakatan dengan Iran dapat tercapai sebelum kunjungannya ke China.

“Saya pikir peluangnya sangat besar untuk berakhir, dan jika tidak berakhir, kami harus kembali membombardir mereka habis-habisan,” kata Trump.

Trump juga bersikeras bahwa dalam kesepakatan apa pun, Teheran harus “mengekspor” uranium yang diperkaya tinggi ke AS — tuntutan yang menurut para ahli sulit diterima Iran.

Perang Iran, yang dimulai setelah serangan Israel menewaskan pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei, kini dinilai memasuki kebuntuan.

Iran mengalami kerugian ekonomi besar yang bisa memburuk jika kapasitas penyimpanan minyaknya mulai habis. Di sisi lain, Trump menghadapi tekanan domestik dan internasional akibat lonjakan harga bahan bakar di AS dan dunia.

Penguasaan Selat Hormuz serta ancaman serangan terhadap infrastruktur minyak negara-negara Teluk menjadi dua kartu utama Iran dalam negosiasi saat ini.

Share.
Leave A Reply