Latihan militer tahunan Korea Selatan bersama Amerika Serikat berakhir mendadak pada Jumat.
Latihan Ulchi Freedom Shield, yang melibatkan 18.000 tentara Korea Selatan serta 11 negara sekutu Amerika lainnya, dihentikan ketika baru separuh dari program yang dijadwalkan selesai. Keputusan itu terjadi beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa ia telah memerintahkan Pentagon untuk “mengurangi secara signifikan” latihan tersebut.
Pengungkapan Trump, yang menyebut latihan itu “tidak pantas dan bermusuhan” terhadap Korea Utara serta mahal bagi AS, mengejutkan para sekutunya.
Menteri Luar Negeri Korea Selatan Cho Hyun berusaha menggambarkan keputusan tersebut sebagai hasil kesepakatan bersama, tetapi mengakui bahwa para pejabat Korea Selatan sebelumnya tidak mengetahui niat Trump untuk mengurangi skala latihan.
Langkah tersebut juga kemungkinan membuat Taiwan dan Jepang khawatir, mengingat kedua negara selama ini sangat bergantung pada jaminan keamanan AS di kawasan.
Trump, yang juga mengkritik Seoul karena menolak ikut serta dalam aksi melawan Iran, mengatakan dirinya berharap dapat bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un pada akhir tahun ini.
Meskipun Korea Selatan sejak lama berharap Trump kembali menjalin komunikasi dengan Kim sebagai sarana mempertahankan diplomasi, Seoul tentu tidak menginginkan langkah tersebut disertai tuntutan uang dan bantuan militer untuk Iran.
Aliansi AS dan Korea Selatan
Seoul menganggap latihan militer tahunan bersama AS sebagai bagian inti dari aliansi kedua negara sekaligus bukti komitmen Washington untuk mempertahankan Korea Selatan dari ancaman Pyongyang.
Meskipun secara tradisional Korea Selatan bersedia mengurangi skala atau menangguhkan latihan tersebut untuk menarik Korea Utara ke meja perundingan, keputusan Trump yang sepihak dan mendadak untuk menarik pasukan AS lebih awal telah mengguncang kepercayaan Korea Selatan terhadap AS sebagai sekutu, menurut Jo Bee-yun, Senior Research Fellow di Atlantic Council.
Ada kekhawatiran bahwa Trump dapat mengambil langkah lebih jauh dengan mengurangi 27.000 tentara AS yang ditempatkan di Korea Selatan atau bahkan meninggalkan kebijakan lama untuk melakukan denuklirisasi Korea Utara, semuanya tanpa berkonsultasi dengan sekutunya.
Kedua Korea secara teknis masih dalam kondisi perang karena mereka tidak pernah menandatangani perjanjian damai setelah Perang Korea. Penyatuan kembali dengan Korea Selatan selalu menjadi bagian penting, meski semakin tidak realistis, dari ideologi Korea Utara hingga Kim meninggalkannya pada 2024.
Meski demikian, ancaman terhadap Korea Selatan tidak berhenti. Beberapa hari sebelum latihan militer tersebut, Korea Utara meluncurkan rudal balistik ke arah Jepang dan kembali memperingatkan bahwa mereka memiliki hak untuk menggunakan senjata nuklir jika negara tersebut merasa terancam. Lebih banyak rudal kembali diluncurkan pada Kamis.
Kekhawatiran yang lebih besar bagi Korea Selatan kali ini adalah pemerintahan Trump tidak lagi memisahkan persoalan keamanan dan perdagangan. Trump mengatakan dirinya kecewa karena Korea Selatan menolak bergabung dalam perang AS di Iran, tetapi ia juga selama ini tidak puas dengan Korea Selatan sebagai mitra dagang.
Pemerintahan Trump mengeluhkan bahwa pengeluaran tahunan Korea Selatan sebesar US$1 miliar untuk menampung pasukan AS tidak cukup, bahwa Seoul dinilai lamban dalam merealisasikan investasi US$350 miliar yang telah dijanjikan, serta bahwa Korea Selatan melakukan diskriminasi terhadap perusahaan-perusahaan AS yang beroperasi di negara tersebut.
Kini, ketika perselisihan perdagangan berkembang menjadi persoalan keamanan nasional, sejumlah pihak menyerukan agar Korea Selatan mengurangi ketergantungannya pada AS.
Cheong Seong-chang, wakil presiden lembaga kajian Sejong Institute dan pendukung pengembangan senjata nuklir oleh Korea Selatan, mengatakan Seoul harus mempertahankan aliansinya dengan AS, tetapi juga “mengambil langkah untuk memperoleh kemampuan penangkal nuklirnya sendiri”.
Meskipun mayoritas masyarakat Korea Selatan mendukung negara tersebut memiliki senjata nuklir, pemerintah berpendapat bahwa memperoleh bom nuklir tidak diperlukan dan bahkan dapat merugikan jaringan aliansi yang dimiliki negara tersebut. Pandangan itu dapat berubah jika AS semakin menarik diri dari Asia.
Sementara itu, Korea Selatan berusaha mengambil sisi positif dari keputusan Trump untuk mengakhiri latihan militer lebih awal.
Presiden Lee Jae Myung, yang berupaya memperbaiki hubungan dengan Korea Utara, memuji Trump dalam sebuah unggahan di X. “Saya percaya [unggahan Anda di media sosial] merupakan keputusan berani yang lahir dari pertimbangan mendalam Anda untuk mencapai perdamaian,” tulisnya.
Lee berjanji akan meningkatkan anggaran pertahanan negaranya dan mengatakan dirinya “sepenuhnya setuju” dengan pandangan Trump bahwa Korea Selatan harus bertanggung jawab atas keamanannya sendiri.
Sejak masa jabatan pertama Trump, Seoul memandang pendekatan diplomasi Trump yang tampak berubah-ubah sebagai risiko sekaligus peluang. Dengan memadukan pujian dan optimisme tanpa banyak keraguan, Seoul berhasil mengatur pertemuan pertama antara presiden AS yang sedang menjabat dan Kim Jong Un pada 2018.
Namun, segera setelah pertemuan tersebut, Trump secara tiba-tiba mengumumkan penangguhan latihan militer bersama dengan Korea Selatan.
Trump meninggalkan pertemuan kedua pada 2019 tanpa kesepakatan setelah Kim menolak menyerahkan seluruh fasilitas nuklir Korea Utara. Selain pertemuan singkat yang berlangsung dan banyak disorot media di Panmunjom pada tahun yang sama, kedua pemimpin tidak pernah terlibat dalam negosiasi substantif lebih lanjut.
Kim Jong Un Berada dalam Posisi Kuat
Korea Selatan yang harus menanggung dampak terbesar dari kemarahan Pyongyang setelah serangkaian pertemuan tersebut. Korea Utara menghancurkan kantor penghubung antar-Korea di wilayahnya dan kemudian menghentikan seluruh komunikasi dengan Seoul. Pyongyang juga memberlakukan undang-undang yang membuat pembagian film dan acara televisi Korea Selatan dapat dihukum mati, serta memasukkan hak untuk menggunakan senjata nuklir ke dalam konstitusinya.
Sementara itu, Trump tetap menyatakan bahwa dirinya memiliki “hubungan yang sangat baik” dengan Kim. Kepada wartawan pada Rabu, ia mengatakan, “Dia menyukai saya.”
Namun, saudara perempuan Kim yang berpengaruh, Kim Yo Jong, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa dirinya tidak mengetahui klaim Trump mengenai kontak terbaru antara kakaknya dan presiden AS tersebut. Ia menambahkan bahwa hal itu “pasti menjadi satu-satunya hal yang tidak saya ketahui dalam kebijakan luar negeri kami”.
Kim Yo Jong juga kembali menegaskan posisi Korea Utara bahwa negaranya tidak akan pernah menyerahkan senjata nuklirnya karena senjata tersebut meningkatkan keseimbangan dan stabilitas kawasan.
Kim Yo Jong juga mengatakan pengurangan skala latihan militer bersama Korea Selatan “tidak layak mendapat perhatian maupun komentar” dari negaranya dan tidak mengubah “sifat bermusuhan dan ofensif” latihan tersebut, menurut laporan media pemerintah Korea Utara.
Meskipun Trump mengatakan akan bertemu Kim Jong Un pada akhir tahun ini, hanya sedikit pakar yang meyakini akan ada pertemuan tingkat tinggi lainnya, terutama ketika Kim mendapatkan keuntungan dari aliansinya dengan Moskow dan memperkuat hubungan dengan China. Kecuali Trump bersedia secara terbuka menerima Korea Utara sebagai negara bersenjata nuklir, yang merupakan tuntutan utama Pyongyang, tidak ada insentif bagi Kim untuk kembali ke meja perundingan.
Pengurangan skala latihan tersebut sudah merupakan konsesi besar, bukan hanya bagi Pyongyang, tetapi juga bagi Beijing yang memiliki pandangan serupa bahwa latihan tersebut merupakan ancaman terhadap keamanannya.
Langkah itu juga berpotensi membuka jalan bagi tuntutan lebih lanjut dari Korea Utara, pada saat negara tersebut tampak semakin kuat secara militer.
Meskipun Trump berulang kali mengatakan Korea Utara tidak menimbulkan ancaman, negara itu tidak pernah berhenti meningkatkan kemampuan tempurnya. Korea Utara telah melakukan enam kali uji coba senjata nuklir dan memiliki kemampuan untuk mengirimkannya melalui rudal jarak jauh yang dapat mencapai daratan utama Amerika Serikat.
Belakangan, Korea Utara juga bergabung dalam perang Rusia di Ukraina. Pyongyang telah memasok apa yang diyakini bernilai miliaran dolar AS dalam bentuk peluru artileri dan rudal, serta sedikitnya 13.000 tentara. Meskipun mengalami ribuan korban, pasukan Korea Utara kini memiliki pengalaman menghadapi drone setelah menyerap berbagai pelajaran dari perang di Ukraina.
Menurut Jo Bee-yun, tidak banyak yang dapat dilakukan Korea Selatan untuk mempertahankan diri dari Korea Utara, sehingga aliansinya dengan AS menjadi “masalah hidup dan mati”.
