Ketika polisi menggeledah Hunter Bookstore pada 24 Juni, mereka menuduh pemiliknya, Letitia Wong, 33 tahun, dan seorang pria berusia 32 tahun, melanggar undang-undang tersebut. Keduanya ditangkap atas tuduhan penghasutan dan pencucian uang. Mereka membantah tuduhan itu dan sejak itu telah dibebaskan dengan jaminan.
Pada Maret, polisi menangkap pemilik Book Punch bersama tiga pegawainya atas tuduhan yang sama. Polisi dilaporkan menyita sejumlah salinan biografi tentang Jimmy Lai, aktivis pro-demokrasi yang dipenjara.
Pada 15 Juli, ketika Pameran Buku Hong Kong tahunan dibuka, polisi keamanan nasional menggeledah dua toko buku independen lainnya, Greenfield Bookstore dan Have a Nice Stay, serta menangkap lima orang atas tuduhan penghasutan. Mereka juga telah dibebaskan dengan jaminan.
Pada akhir bulan itu, Greenfield mengunggah pernyataan di media sosial: “Toko kami akan tutup setelah masa sewa berakhir. Terima kasih telah berjalan bersama kami, melewati suka dan duka, selama 50 tahun sejak kami dibuka.” Greenfield menjadi toko buku independen ketiga yang tutup dalam kurun waktu satu bulan.
Toko-toko buku tersebut telah lama memiliki pelanggan setia, bukan hanya di Hong Kong, tetapi juga di kalangan banyak pembaca dari China daratan. Sebagian pembaca, seperti Zhu, bahkan bepergian ke kota itu hanya untuk mencari satu buku tertentu.
Bagi Li, 19 tahun, dari Shanghai, yang tidak bersedia memberikan nama depannya, toko-toko tersebut merupakan tempat di mana ia “bisa melihat begitu banyak kemungkinan dan mempertanyakan gagasan-gagasan yang sudah ada”. Pembaca lainnya menghargai toko-toko itu sebagai ruang yang menawarkan rasa kebebasan dan komunitas yang mereka rasakan tidak tersedia di China daratan.
Kini mereka khawatir China juga sedang mengikis semangat tersebut di Hong Kong.
Ketika Zhu mulai kuliah pada 2021, ia semakin penasaran terhadap bab-bab sejarah China yang jarang dibahas, seperti pembantaian Lapangan Tiananmen pada 1989, sebuah topik tabu yang telah dihapus dari internet China yang dikontrol ketat.
Protes besar yang dipimpin mahasiswa itu berakhir dengan tindakan keras militer yang berdarah dan jumlah korbannya hingga kini masih diperdebatkan. Beijing saat itu mengatakan 200 warga sipil tewas, tetapi menurut kabel diplomatik Inggris yang telah dideklasifikasi, sedikitnya 10.000 orang tewas.
Zhu mencari film-film yang menyinggung peristiwa penting tersebut, tetapi film roman Summer Palace maupun drama gay Lan Yu yang direkam secara diam-diam tidak mampu memuaskan rasa ingin tahunya.
Ia kemudian bertekad mencari The Unburned Book karya penyair Taiwan Yang Du, sebuah refleksi getir sekaligus manis mengenai para demonstran yang kemudian mengasingkan diri.
Pada 2023, segera setelah perbatasan China dan Hong Kong dibuka kembali setelah pandemi, ia pergi ke Hong Kong untuk mencarinya.
Saat itu, toko-toko buku independen di kota tersebut sedang berkembang pesat. Orang-orang membagikan rute berjalan kaki secara daring, lengkap dengan panduan kawasan dan rekomendasi toko.
Di Mong Kok yang ramai terdapat Luck Win, yang dikenal menawarkan diskon besar, serta Greenfield, dengan rak-raknya yang penuh dari lantai hingga langit-langit. Tak jauh dari sana terdapat Have a Nice Stay yang nyaman, didirikan oleh mantan jurnalis dan rutin menggelar sesi membaca hingga larut malam, serta Elmbook, dengan rak-raknya yang sempit tetapi disukai pelanggan karena membuat mereka merasa seperti sedang berburu harta karun.
Kemudian ada Book Punch di Tai Nan Street yang trendi, dengan koleksi yang sama beraninya dengan motonya, “satu pukulan untuk membangunkan pembaca”. Ada pula Word by Word di kawasan bersejarah Wan Chai, yang menjadi favorit para pencinta makanan, dan tentu saja Hunter, dengan sofa di luar toko tempat orang yang lewat dapat beristirahat.
Di sanalah Zhu menemukan The Unburned Book. Ia telah mencoba mencarinya di toko-toko lain tetapi gagal, sehingga ia terkejut ketika akhirnya melihat buku tersebut.
Hong Kong, yang pernah menjadi tempat perlindungan bagi mereka yang melarikan diri dari China setelah 1989, setiap tahun memperingati pembantaian tersebut dengan aksi menyalakan lilin. Namun, kegiatan itu perlahan menghilang setelah undang-undang baru menargetkan berbagai bentuk perkumpulan politik.
Meski demikian, ketika Chris, 20 tahun, yang namanya kami samarkan, bepergian ke Hong Kong pada awal Juni, ia menemukan sebuah toko buku yang memajang buku-buku terkait peristiwa tersebut, lilin putih, serta gulungan selotip yang dicetak dengan angka Romawi “VI-IV”, yaitu 6-4, cara terselubung untuk menyebut peringatan 4 Juni.
Anak-anak muda ini mungkin bukan berasal dari Hong Kong, tetapi mereka menggambarkan rasa memiliki yang mendalam terhadap toko-toko buku tersebut, ruang yang dinamis secara politik dan membahas sejarah yang mungkin lebih ingin dilupakan oleh pemerintah mereka.
Namun, persoalannya bukan hanya tentang buku.
Li mengunjungi Hong Kong saat Tahun Baru Imlek awal tahun ini, beberapa bulan setelah kebakaran besar apartemen di distrik Tai Po, Hong Kong timur laut, yang menewaskan 168 orang.
Di Hunter Bookstore, ia menemukan sebuah dinding yang dipenuhi kertas catatan tempel berwarna hitam. Para pengunjung meninggalkan pesan dukungan bagi orang-orang yang terdampak tragedi tersebut.
Li mengatakan rasa kebersamaan seperti itu sulit ditemukan di China daratan. Menurutnya, papan pesan memang tersedia di sana, tetapi biasanya tidak berfokus pada solidaritas terhadap korban dari satu peristiwa tertentu, mungkin karena pihak berwenang khawatir terhadap luapan sentimen publik. “Orang-orang hanya bisa mengekspresikan diri secara tidak langsung,” kata Li.
Ia juga terkesan oleh detail kecil lainnya, yaitu catatan tulisan tangan yang ditinggalkan staf di samping buku-buku. Dengan menggunakan kertas tempel, para penjual buku membagikan pandangan mereka mengenai buku yang telah dibaca atau menyoroti bagian yang mereka anggap sangat bermakna. Ia belum pernah melihat hal semacam itu di kampung halamannya.
Zhu merasakan hal serupa. “Kami semua menyukai buku. Kami semua menghargai toko buku independen. Itulah mengapa kami memilih membeli buku di sini.”
Ia jarang berbicara dengan orang asing ketika melihat-lihat buku, tetapi tidak pernah merasa seperti orang luar. Buku-buku dan berbagai acara yang digelar toko tersebut memberinya perasaan seolah telah melarikan diri ke suatu tempat dengan “setidaknya sedikit kebebasan berekspresi”.
“Anda telah meninggalkan China daratan. Tentu saja, Anda tahu [kebebasan] ini memiliki batas. Namun, tetap lebih baik daripada tidak bisa mengatakan apa pun.”
Namun, kini Zhu dapat merasakan kebebasan tersebut mulai dibatasi.
Ia mengatakan dirinya justru lebih sering berhadapan dengan aparat di Hong Kong dibandingkan di China daratan. Dalam sebuah acara di toko buku, ia mengingat adanya pejabat pemerintah yang masuk ke dalam ruangan. “Mereka hanya duduk di sana dan mendengarkan bersama kami.”
Penggerebekan yang semakin sering terjadi tidak hanya menyasar toko-toko yang secara terang-terangan berpolitik, menurut seorang penjual buku yang meminta identitasnya dirahasiakan karena khawatir terhadap kemungkinan dampaknya.
“Luck Win Bookstore dan Elmbook selalu menjaga profil mereka sangat rendah,” kata penjual buku tersebut.
“Mereka jarang membuat pernyataan publik atau mengadakan acara. Saya benar-benar tidak bisa memikirkan apa pun yang mungkin telah mereka lakukan hingga membuat pemerintah tersinggung.”
Dalam beberapa pekan menjelang pameran buku tahun ini, kedua toko tersebut mendapat kritik dari Wen Wei Po, surat kabar yang dikendalikan oleh otoritas penghubung Beijing di Hong Kong.
Surat kabar itu menuduh kedua toko menjual buku yang mempromosikan “perlawanan lunak”. Di antaranya adalah The Hong Kong Diaries karya Chris Patten, gubernur terakhir Hong Kong sebelum kota tersebut kembali berada di bawah pemerintahan China, serta 300 Short Essays karya mendiang kolumnis Apple Daily, Lee Yee. Surat kabar tersebut kemudian ditutup dan sejumlah pejabat seniornya, termasuk pemiliknya Jimmy Lai, dipenjara karena melanggar undang-undang keamanan baru.
“Para pejabat tidak ingin orang-orang mengetahui dengan tepat di mana batas-batasnya,” kata Tong Kin-long dari University College London. “Mereka ingin masyarakat menentukan sendiri garis merah tersebut, atau menyensor diri sendiri sebelum melewatinya.”
Menyaksikan perubahan yang terjadi di Hong Kong terasa anehnya akrab bagi seorang pria yang kami sebut K, yang berusia 30-an dan berasal dari Sichuan.
Ia mengingat masa ketika toko-toko buku di China daratan juga menjadi ruang yang dinamis untuk diskusi publik. Buku dan majalah berhaluan liberal dipajang secara terbuka. Toko-toko buku secara rutin mengadakan diskusi dan forum. Namun, sekitar 2015, ia mulai melihat pengetatan yang berlangsung secara bertahap.
Awalnya, yang disasar adalah buku-buku tentang para pemimpin negara. Namun, kemudian buku-buku yang tidak terlalu sensitif secara politik mulai menghilang. Acara publik semakin jarang digelar dan suasananya berubah.
Zhu memiliki seorang teman yang kini mengelola toko buku di Guangzhou. Ia mengatakan polisi sesekali datang ke toko tersebut untuk mengintimidasi penjual buku. Dalam pemutaran film yang diselenggarakan toko itu, listrik bahkan pernah diputus.
“Hong Kong,” katanya, “seharusnya menjadi tempat yang lebih bebas.”
Meski demikian, pembaca dari China daratan tetap bersemangat membawa pulang buku-buku dari Hong Kong, meskipun petugas bea cukai dapat menyita buku yang mereka anggap membahayakan kedaulatan, keamanan, atau persatuan nasional.
K merasa cemas setiap kali kembali dari Hong Kong. Ia memilih perlintasan perbatasan yang lebih ramai, menghindari buku yang menampilkan tokoh-tokoh sensitif secara politik dan pernah menyembunyikan buku di balik pakaiannya atau jauh di dalam kopernya.
Namun, kini itu bukan satu-satunya kekhawatirannya. “Dulu, orang hanya akan berpikir, ‘Kalau saya tidak bisa membeli buku di China daratan, saya akan pergi ke Hong Kong’. Sekarang rasanya berbeda. Anda bahkan tidak tahu toko buku mana yang masih akan ada saat Anda datang lagi.”
Sepekan setelah mengetahui bahwa mereka dikeluarkan dari Pameran Buku Hong Kong, Elmbook mengumumkan akan menutup toko fisiknya pada April tahun depan. Tak lama kemudian, Have A Nice Stay mengatakan akan tutup pada akhir Agustus, dengan alasan kesulitan ekonomi dan “garis merah” yang tidak dapat diprediksi mengenai materi apa yang dianggap bermasalah.
Banyak orang di industri toko buku Hong Kong menjadi pesimistis. Sebagian percaya situasi hanya akan semakin buruk sebelum akhirnya membaik.
Namun, pembaca tidak sepenuhnya tidak berdaya, kata seorang pelaku industri. “Kami masih bisa membeli buku. Kami masih bisa membaca. Dan kami masih bisa membaca begitu banyak buku.”
Chris merasa takut setelah mendengar penangkapan di Hunter Bookstore, tetapi ia mengatakan akan tetap datang.
“Membeli buku telah menjadi cara diam-diam untuk menunjukkan dukungan, sekaligus bentuk perlawanan yang dilakukan secara diam-diam.”
