Seorang personel militer Amerika Serikat tewas dan satu lainnya terluka setelah serangan Iran di Irak utara pada Sabtu waktu setempat. Insiden ini terjadi sehari setelah serangan terhadap sebuah pangkalan militer AS di Yordania menewaskan dua tentara Amerika dan menyebabkan satu personel lainnya masih dinyatakan hilang.
Komando Pusat Militer Amerika Serikat (Centcom) menyatakan korban tewas terjadi saat proses “peledakan terkendali terhadap bahan peledak yang belum meledak” yang berasal dari drone serang Iran yang telah ditembak jatuh. Ledakan tersebut juga menyebabkan seorang personel militer lainnya mengalami luka-luka.
Dalam pembaruan informasinya, Centcom menyebut pihaknya menemukan “jenazah yang belum teridentifikasi” setelah melakukan pencarian di lokasi serangan di Yordania pada Jumat waktu setempat. “Proses pemeriksaan untuk memastikan identitas jenazah tersebut masih berlangsung,” demikian pernyataan Centcom.
Insiden terbaru ini terjadi ketika Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan selama delapan hari berturut-turut dalam eskalasi konflik yang terus meningkat.
Kedua negara saling menuduh menyerang infrastruktur penting dalam beberapa hari terakhir. Sementara itu, Washington kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, sedangkan Teheran menyatakan Selat Hormuz ditutup serta melancarkan serangan terhadap sekutu-sekutu Amerika Serikat di kawasan. Situasi itu terjadi setelah gencatan senjata sementara yang disepakati kurang dari sebulan sebelumnya runtuh.
Militer AS menyatakan serangan terbarunya dirancang untuk “mengurangi kemampuan Iran mengancam pelayaran komersial” di Selat Hormuz serta “memberikan hukuman cepat” kepada pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), yang dituding bertanggung jawab atas serangan di Yordania.
Rekaman video yang telah diverifikasi dari dalam fasilitas militer di Yordania memperlihatkan sedikitnya dua titik hantaman disertai sebuah ledakan besar.
Dengan insiden terbaru ini, jumlah korban tewas dari pihak militer Amerika Serikat dalam konflik tersebut meningkat menjadi 17 orang, setelah seorang pilot Angkatan Laut AS yang sebelumnya dinyatakan hilang pada awal bulan ini dipastikan meninggal dunia.
Di Iran, sedikitnya 50 orang dilaporkan tewas dan lebih dari 500 lainnya terluka akibat serangan Amerika Serikat selama tiga pekan terakhir, menurut Kementerian Kesehatan Iran.
Serangan terus berlanjut pada Minggu waktu setempat. Media Iran melaporkan sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir yang masih dalam tahap pembangunan di Kota Darkhoveyn, Iran barat daya, menjadi sasaran serangan semalam. Pulau Qeshm juga dilaporkan diserang.
Badan Pengawas Nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyerukan semua pihak menahan diri. Lembaga itu juga menyatakan lokasi tersebut masih berada pada tahap pembangunan awal dan tidak menyimpan material nuklir saat inspeksi terakhir dilakukan.
Militer Yordania kemudian mengumumkan telah menembak jatuh tiga rudal Iran, sementara satu rudal lainnya jatuh di kawasan terpencil. Kantor berita pemerintah Yordania melaporkan insiden itu terjadi setelah Amerika Serikat memperingatkan bahwa Pelabuhan Aqaba berpotensi menjadi target serangan.
Pemerintah Yordania juga memanggil kuasa usaha Iran di Amman untuk menyampaikan protes keras dan menuntut penghentian segera atas apa yang disebut Kementerian Luar Negeri sebagai “serangan Iran yang tidak beralasan dan terang-terangan”. Yordania menegaskan bahwa keamanan nasionalnya merupakan “garis merah yang tidak boleh dilanggar”.
Di sisi lain, militer Israel menyatakan telah meluncurkan beberapa rudal pencegat untuk menghancurkan puing-puing rudal yang mengarah ke wilayahnya setelah proyektil ditembakkan menuju Yordania.
Militer Israel menambahkan bahwa serpihan rudal pencegat kemudian ditemukan di dekat Kota Eilat, Israel selatan, yang berbatasan dengan Yordania. Tidak ada laporan mengenai kerusakan maupun korban jiwa.
Secara terpisah, IRGC menyatakan dua kapal telah mengabaikan peringatan Iran agar tidak melintasi Selat Hormuz sehingga kemudian mengalami “kecelakaan”.
IRGC memperingatkan seluruh kapal yang “dipengaruhi” Amerika Serikat dan menggunakan “rute yang tidak aman” akan “dipastikan mengalami kecelakaan”.
Di Kuwait, pejabat setempat menyatakan sebuah fasilitas pembangkit listrik dan pengolahan air yang diserang pada Sabtu kembali menjadi sasaran serangan sehingga memicu kebakaran.
Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC), yang beranggotakan Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, sebelumnya menuduh Iran menyerang infrastruktur sipil melalui serangan pertama tersebut. Aliansi itu menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional.
Di pihak lain, Iran menuduh Amerika Serikat menyerang sejumlah jembatan, bandara, dan stasiun kereta api pada awal pekan ini. Washington membantah tuduhan tersebut dengan menyatakan bahwa serangan mereka “secara eksklusif ditujukan kepada target-target militer, termasuk infrastruktur logistik militer”.
Berdasarkan hukum internasional, menyerang warga sipil maupun kawasan sipil merupakan tindakan yang melanggar hukum. Namun, dalam kondisi tertentu, objek sipil seperti jembatan atau pembangkit listrik dapat kehilangan status perlindungannya apabila digunakan untuk mendukung operasi militer pihak lawan.
Washington dan Teheran sebelumnya mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri perang yang dimulai pada 28 Februari. Namun, kesepakatan yang dicapai pada Juni itu runtuh hanya dalam hitungan pekan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 8 Juli menyatakan perjanjian tersebut telah “berakhir”.
Pada Sabtu malam waktu setempat, Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, dalam pernyataan tertulisnya mengatakan bahwa “pelanggaran berulang” yang dilakukan Amerika Serikat terhadap kesepakatan tersebut telah “mengungkap sebuah kenyataan mendasar bahwa tanda tangan presiden Amerika Serikat sama sekali tidak bernilai dan tidak memiliki kredibilitas.”
