Close Menu

    Subscribe to Updates

    Dapatkan informasi terbaru dari mayoritas.com

    Apa yang Viral?

    Russell Brand Disebut sebagai Predator Seksual saat Persidangan Kasus Pemerkosaan Dimulai

    15/10/2026

    Dari Pabrik di China ke Toko AS, Begini Pembagian Uang dari Penjualan Mainan Seharga Rp500 Ribu

    15/10/2026

    Arab Saudi Batalkan Hukuman Mati Pekerja Migran Sri Lanka akibat Komentar di Facebook

    15/10/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Home
    • POLITIK
      • Politik Amerika
      • Politik Asia
      • Politik Dunia
      • Politik Eropa
      • Politik Nasional
      • Politik Timur Tengah
    • Nasional

      Russell Brand Disebut sebagai Predator Seksual saat Persidangan Kasus Pemerkosaan Dimulai

      15/10/2026

      Arab Saudi Batalkan Hukuman Mati Pekerja Migran Sri Lanka akibat Komentar di Facebook

      15/10/2026

      Novel Sally Rooney Tak Lagi Dipasok ke Toko Buku Inggris akibat Dukungan terhadap Palestine Action

      15/10/2026

      Nepal Ingin Satukan India dan China Hadapi Ancaman Iklim di Himalaya

      15/10/2026

      Musk Sebut Pemerintah AS Berpotensi Batasi Kecepatan Drone Ukraina melalui Starlink

      15/10/2026
    • TEKNOLOGI

      Arab Saudi Batalkan Hukuman Mati Pekerja Migran Sri Lanka akibat Komentar di Facebook

      15/10/2026

      Musk Sebut Pemerintah AS Berpotensi Batasi Kecepatan Drone Ukraina melalui Starlink

      15/10/2026

      Mantan Insinyur OpenAI Didakwa Tanam Alat Perekam Tersembunyi di Kantor Perusahaan

      14/10/2026

      Polisi Jerman Sita Robot yang Diduga Meraba Bokong Remaja Perempuan

      14/10/2026

      Raup Rp2,3 Miliar Setahun dari Video Viral, Anak Muda Ini Cukup Bermodal Ponsel dan Internet

      13/10/2026
    • Hiburan
    • Belanja Sekarang
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    Mayoritas.com
    Langganan Sekarang
    TOPIK PANAS
    • Olahraga
    • Ekonomi & Pasar
      • Bisnis
      • Ekonomi
      • Keuangan
    • Wisata & Kuliner
    • Belanja Sekarang
    Mayoritas.com
    Home»Hiburan»PBB Setujui Peta Dunia Baru yang Lebih Akurat Menggambarkan Ukuran Afrika
    Hiburan

    PBB Setujui Peta Dunia Baru yang Lebih Akurat Menggambarkan Ukuran Afrika

    joveBy jove05/09/2026No Comments3 Mins Read6 Views
    Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memberikan suara untuk mengganti peta dunia tradisional dengan peta yang lebih akurat dalam menggambarkan ukuran benua Afrika.

    Resolusi “Correct the Map” yang disponsori Togo dan didukung negara-negara anggota Uni Afrika (AU) disahkan dengan dukungan 164 negara, termasuk Prancis dan Inggris. Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara yang menolak resolusi tersebut, sementara enam negara memilih abstain.

    Pemungutan suara di PBB itu tidak bersifat mengikat, tetapi akan mendorong perubahan pada peta yang digunakan oleh berbagai lembaga di seluruh dunia.

    Peta Mercator, yang telah digunakan secara luas sejak abad ke-16, selama ini mendapat kritik karena menggambarkan Afrika seolah-olah memiliki ukuran yang mirip dengan Greenland, padahal luas Afrika 14 kali lebih besar.

    Para pengkritiknya mengatakan gambaran tersebut dapat membuat kebutuhan pembangunan dan potensi negara-negara di sekitar garis khatulistiwa terlihat lebih kecil dari kenyataannya.

    AS Akui “Kesalahan yang Disayangkan” Setelah Salah Memberi Nama Negara di Peta Afrika

    Peta Mercator dirancang pada 1569 oleh kartografer asal Flandria, Gerardus Mercator, untuk membantu para penjelajah Eropa bernavigasi melintasi dunia.

    Distorsi pada peta tersebut terjadi karena permukaan bumi yang berbentuk bola tidak mungkin direpresentasikan secara akurat dalam sebuah peta dua dimensi.

    Setiap kali peta dunia dibuat, sejumlah kompromi harus dilakukan.

    Peta Mercator menggambarkan kelengkungan bumi dengan membuat negara-negara di sekitar garis khatulistiwa terlihat lebih kecil daripada ukuran sebenarnya, sementara negara-negara yang lebih dekat dengan kutub tampak lebih besar.

    Dalam upaya memperbaiki distorsi tersebut, sekelompok kartografer pada 2018 membuat peta dengan luas wilayah yang setara dan menamakannya proyeksi Equal Earth.

    Pada Februari, 54 negara anggota AU mengadopsi peta tersebut dan mengatakan bahwa proyeksi itu “lebih akurat dalam menggambarkan ukuran seluruh benua, khususnya Afrika”.

    Kelompok kampanye daring #CorrectTheMap mengatakan, “Amerika Serikat, China, India, Jepang, Meksiko, dan sebagian besar Eropa dapat dimasukkan ke dalam Afrika dan masih menyisakan daratan.”

    Menjelang pemungutan suara pada Jumat, Menteri Luar Negeri Togo Robert Dussey mengatakan kepada kantor berita Reuters, “Dunia yang adil dimulai dengan peta yang adil.”

    Sebelumnya, dalam pengarahan di PBB, ia mengatakan, “Sebuah peta tidak pernah netral. Peta membentuk persepsi dan memengaruhi bagaimana posisi masyarakat dan benua di dunia dipahami.”

    Ia mendapat dukungan dari Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot, yang mengatakan kementeriannya akan berhenti menggunakan peta Mercator.

    “Mengubah peta jelas tidak mengubah dunia. Namun, memperbaiki representasi yang mendistorsinya sudah merupakan sebuah tindakan untuk mengungkapkan kebenaran,” katanya.

    Namun, Yaryna Ferencevych, perwakilan Amerika Serikat di PBB, mengatakan resolusi tersebut justru mengejek pekerjaan dan tujuan Majelis Umum PBB.

    “Alih-alih berfokus pada persoalan nyata mengenai perdamaian internasional, kemakmuran, atau hubungan yang baik, badan ini justru memperdebatkan proyek peta dari abad ke-16 dan perannya dalam mendorong reparasi serta ‘keadilan kognitif’,” katanya.

    Pada Maret, AS juga mengkritik ketika sebuah resolusi disahkan dan menyatakan perdagangan budak transatlantik sebagai “kejahatan paling berat terhadap kemanusiaan”.

    “Kesalahan representasi Afrika dalam peta dunia bukan sekadar kesalahan kartografi, melainkan juga persoalan narasi,” kata Lerato Mogoatlhe dari Africa No Filter, salah satu kelompok yang berada di balik kampanye untuk meninggalkan penggunaan peta Mercator

    Menurutnya, kampanye tersebut merupakan bagian dari upaya untuk menghentikan “misinformasi dan disinformasi terpanjang di dunia” mengenai Afrika.

    Bagi ahli geografi Kenya, Kioko Muendo, peta Mercator secara tidak langsung telah mengecilkan gambaran mengenai besarnya sumber daya, populasi, dan peluang investasi di benua Afrika.

    “Peta bukan sekadar panduan bagi para pelancong, tetapi juga membentuk bagaimana suatu kawasan dipandang secara politik dan ekonomi,” katanya.

    dunia map peta
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    jove
    • Website

    Related Posts

    Hiburan

    Russell Brand Disebut sebagai Predator Seksual saat Persidangan Kasus Pemerkosaan Dimulai

    15/10/2026
    Bisnis

    Dari Pabrik di China ke Toko AS, Begini Pembagian Uang dari Penjualan Mainan Seharga Rp500 Ribu

    15/10/2026
    Gadget

    Arab Saudi Batalkan Hukuman Mati Pekerja Migran Sri Lanka akibat Komentar di Facebook

    15/10/2026
    Budaya

    Novel Sally Rooney Tak Lagi Dipasok ke Toko Buku Inggris akibat Dukungan terhadap Palestine Action

    15/10/2026
    Budaya

    Nepal Ingin Satukan India dan China Hadapi Ancaman Iklim di Himalaya

    15/10/2026
    Hiburan

    Musk Sebut Pemerintah AS Berpotensi Batasi Kecepatan Drone Ukraina melalui Starlink

    15/10/2026
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Langganan Berita

    Dapatkan berita olahraga terkini dari NewsSite tentang dunia, olahraga, dan politik.

    Pilihan Editor

    Russell Brand Disebut sebagai Predator Seksual saat Persidangan Kasus Pemerkosaan Dimulai

    15/10/2026

    Dari Pabrik di China ke Toko AS, Begini Pembagian Uang dari Penjualan Mainan Seharga Rp500 Ribu

    15/10/2026

    Arab Saudi Batalkan Hukuman Mati Pekerja Migran Sri Lanka akibat Komentar di Facebook

    15/10/2026

    Novel Sally Rooney Tak Lagi Dipasok ke Toko Buku Inggris akibat Dukungan terhadap Palestine Action

    15/10/2026
    Info Terbaru

    Apa Itu Lifestyle Sedentary? Menimbulkan Banyak Penyakit Hingga Dapat Terkena Kanker

    20/01/2021

    Pebasket Zhang Ziyu Setinggi 220M Menarik Perhatian Usai Mengalahkan Tim U-18 Indonesia

    15/01/2021

    Kronologi Atlet Bulu Tangkis China Zhang Zhi Jie Meninggal Di Ajang AJC 2024

    15/01/2021
    Advertisement
    LOGO_FOOTER_MAYORITAS
    Facebook X (Twitter) Pinterest Vimeo WhatsApp TikTok Instagram

    News

    • Ekonomi & Pasar
    • Olahraga
    • Opini
    • Otomotif
    • Wisata Kuliner
    • Video Unggulan
    • Kesehatan

    Company

    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Hak Cipta
    • Disclaimer
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Panduan Kebijakan

    Layanan

    • Toko
    • Customer Support
    • Karir
    • Tentang kami
    • Hubungi Kami
    • Akses login

    Langganan Updates

    Dapatkan informasi terkinni seputar fakta informasi dunia, anda bisa berlangganan melalui email anda

    © 2026 Mayoritas.com
    • Privacy Policy
    • Term of Service
    • Contact us

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.