Militer Taiwan menembakkan roket ke arah China menggunakan peluncur roket bergerak cepat HIMARS pada Rabu, dalam demonstrasi kemampuan pertahanan yang dirancang untuk menghadapi kemungkinan serangan dari Beijing.
Meski sistem buatan Amerika Serikat tersebut sebelumnya sudah pernah diuji, latihan tembak langsung kali ini menjadi pertama kalinya roket HIMARS ditembakkan ke perairan Selat Taiwan, jalur laut sempit yang memisahkan pulau yang memiliki pemerintahan sendiri itu dari China.
“Karena ancaman musuh saat ini, kami akan terus menjalankan pelatihan HIMARS dengan tekad yang tidak tergoyahkan untuk melindungi Taiwan sebagai kekuatan terkuat bangsa,” kata Sersan Angkatan Darat Taiwan, Wang Ming-hui.
Militer Taiwan menjelaskan bahwa latihan tersebut menggunakan roket latihan dengan jangkauan yang dipersingkat sehingga tidak terbang jauh dari garis pantai sebelum jatuh ke laut.
Ketika ditanya mengenai latihan tersebut oleh jurnalis Jim Sciutto pada Rabu, perwakilan Taiwan untuk Amerika Serikat, Alexander Yui, mengatakan bahwa angkatan bersenjata Taiwan sedang berlatih menggunakan sistem HIMARS yang baru diperoleh.
“Kami adalah sebuah pulau. Kami hanya bisa menembak ke arah timur atau barat, jadi mereka memilih arah barat,” ujar Yui
Bagian dari Strategi Menghadapi Ancaman China
China memandang Taiwan sebagai provinsi yang membangkang dan menegaskan pulau itu harus berada di bawah kendali Beijing pada suatu waktu di masa depan.
Dalam beberapa tahun terakhir, China secara rutin mengirim kapal perang dan pesawat militer ke wilayah udara maupun perairan di sekitar Taiwan. Beijing juga beberapa kali menggelar latihan militer besar di dekat pulau tersebut.
Amerika Serikat tidak mengakui Taiwan sebagai negara berdaulat, tetapi menentang setiap upaya mengubah status Taiwan melalui kekuatan militer. Washington juga merupakan pemasok utama persenjataan pertahanan bagi Taipei.
HIMARS, singkatan dari High Mobility Artillery Rocket System, menjadi bagian dari perubahan strategi pertahanan Taiwan yang didorong oleh Amerika Serikat.
Alih-alih berfokus pada pembelian sistem senjata besar dan mahal untuk menghadapi China secara langsung, Taiwan diarahkan mengembangkan strategi asimetris yang bertujuan memperlambat atau menghalangi agresi militer China dengan biaya lebih efisien.
Sistem HIMARS dipasang di atas kendaraan truk sehingga dapat bergerak cepat dari lokasi persembunyian, menembakkan roket, lalu segera berpindah ke posisi lain untuk menghindari serangan balasan. Taktik ini dikenal sebagai shoot-and-scoot atau “tembak lalu berpindah”.
Simulasi Menghadapi Invasi China
Peluncuran roket dilakukan pada hari kedua latihan militer di pesisir barat Taiwan yang menghadap langsung ke China.
Latihan tersebut juga melibatkan artileri howitzer kaliber 155 mm dan dirancang untuk mensimulasikan respons terhadap invasi militer China.
Menurut militer Taiwan, latihan bertujuan menguji kemampuan pengerahan cepat pasukan serta kemampuan serangan presisi.
HIMARS menjadi pusat perhatian dalam latihan tersebut.
Setelah menerima perintah tembak, kendaraan peluncur bergerak menuju posisi yang telah ditentukan dan meluncurkan roket dengan kilatan cahaya terang hanya dalam waktu kurang dari tiga menit, menunjukkan tingkat mobilitas sistem tersebut.
Rencana Penjualan Tambahan HIMARS Tertunda
Pada Desember lalu, Amerika Serikat mengumumkan rencana menjual 82 unit HIMARS tambahan kepada Taiwan sebagai bagian dari paket penjualan senjata bernilai besar.
Namun, paket tersebut dilaporkan ditangguhkan setelah Presiden AS Donald Trump bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing bulan lalu.
Belum ada keterangan resmi mengenai apakah penundaan tersebut bersifat sementara atau akan berdampak pada keseluruhan kesepakatan penjualan senjata antara Washington dan Taipei.
Latihan HIMARS terbaru ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan lintas Selat Taiwan, ketika hubungan antara China dan Taiwan tetap menjadi salah satu titik konflik geopolitik paling sensitif di kawasan Asia-Pasifik.
