Sedikitnya empat warga Palestina dan dua warga Israel tewas dalam insiden penembakan di Tepi Barat yang diduduki Israel. Peristiwa ini menjadi insiden paling mematikan di wilayah tersebut dalam beberapa bulan terakhir.
Terdapat perbedaan versi mengenai kronologi kejadian di Desa Tal, wilayah utara Tepi Barat.
Sejumlah warga Palestina mengatakan bahwa penduduk desa berusaha menghadapi sekelompok pemukim Yahudi yang menyerang mereka. Seorang saksi mata menyebut tentara Israel kemudian tiba di lokasi dan mulai melepaskan tembakan.
Sementara itu, militer Israel menyatakan pasukannya merespons laporan mengenai sekelompok pendaki yang diserang. Menurut militer, “teroris merebut senjata” milik seorang petugas keamanan dan menggunakannya untuk membunuh petugas tersebut sebelum akhirnya ditembak mati oleh tentara.
Tiga warga Palestina lainnya yang tewas merupakan anggota dari satu keluarga yang sama.
Seorang warga Israel lainnya yang merupakan anggota militer juga dilaporkan tewas.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) kemudian menyatakan tengah mempersiapkan “operasi antiterorisme berskala besar” di wilayah tersebut.
Versi Berbeda dari Kedua Belah Pihak
Sejak pecahnya perang Gaza yang dipicu serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023, serangan pemukim Israel terhadap warga Palestina dan harta benda mereka di Tepi Barat meningkat tajam.
Saksi mata bernama Ahmed Zeidan mengatakan bahwa insiden bermula pada pagi hari ketika warga Desa Tal bergegas menghadapi sekitar 30 pemukim yang menyerang rumah-rumah warga Palestina.
Menurutnya, bentrokan fisik terjadi di hadapan tentara Israel.
Essam Saifi, tokoh lokal dari Partai Fatah yang berkuasa di Otoritas Palestina, mengatakan kepada Reuters bahwa para pemukim lebih dahulu melepaskan tembakan sebelum pasukan Israel tiba dan ikut menembak.
Pejabat Palestina menyatakan beberapa warga Palestina lainnya mengalami luka-luka.
Namun, IDF memberikan versi berbeda.
Militer Israel mengatakan serangan justru diawali oleh warga Palestina.
Menurut IDF, pasukan dikerahkan ke Desa Tal setelah menerima laporan mengenai serangan terhadap warga sipil Israel yang sedang mendaki di kawasan tersebut. Sebagian wilayah itu berada di bawah kendali penuh Otoritas Palestina, sementara bagian lainnya berada di bawah administrasi sipil Palestina namun pengamanan dilakukan oleh Israel.
Militer juga menyebut kegiatan pendakian tersebut tidak dikoordinasikan dengan pihak keamanan.
IDF mengatakan seorang petugas keamanan dari pos permukiman Israel terdekat mendatangi lokasi, tetapi senjatanya direbut seorang warga Palestina yang kemudian menggunakannya untuk menyerang warga Israel hingga menewaskan petugas tersebut.
Menurut militer, tentara kemudian “melumpuhkan teroris yang melakukan serangan”.
Komandan Wilayah Tengah IDF, Mayor Jenderal Avi Bluth, mengatakan empat anggota dari satu keluarga Palestina tewas “dalam baku tembak”.
Pejabat Palestina kembali menegaskan bahwa sejumlah warga lainnya juga mengalami luka-luka.
Rekaman Video Beredar Luas
Dua rekaman video beredar luas di media lokal, meski keasliannya belum dapat diverifikasi secara independen.
Video pertama tampak memperlihatkan konfrontasi antara warga Palestina dengan tentara Israel serta sejumlah warga Israel bersenjata yang mengenakan pakaian sipil. Terdengar suara tembakan, sementara sekelompok warga Israel, termasuk anak-anak, terlihat menyaksikan dan meneriakkan ejekan. Dalam rekaman itu juga terlihat dua pria Palestina didorong dan ditendang oleh warga Israel bersenjata.
Video kedua yang direkam dari sudut berbeda tampak menunjukkan kedua pria Palestina tersebut berusaha merebut senjata, dengan salah satunya berhasil mengambil senjata itu. Situasi kemudian berubah kacau disertai rentetan suara tembakan ketika pria tersebut tampak menembakkan senjata, sementara tentara Israel juga membalas tembakan.
IDF menyatakan seorang prajurit berusia 27 tahun gugur saat menjalankan operasi di sekitar Desa Tal. Hingga kini, penyebab pasti kematiannya masih belum dijelaskan.
Layanan ambulans Israel juga melaporkan dua warga Israel lainnya mengalami luka-luka.
Palestina Kecam, Israel Janjikan Respons Tegas
Kementerian Luar Negeri Palestina mengecam keras apa yang mereka sebut sebagai “pembantaian” di Desa Tal.
Dalam pernyataannya, kementerian menilai meningkatnya aksi kekerasan pemukim merupakan akibat langsung dari perlindungan, dukungan politik, dan impunitas yang diberikan pemerintah Israel serta pasukan pendudukan.
Menurut kementerian tersebut, hasutan dari pejabat Israel turut mendorong terjadinya kekerasan tanpa adanya pertanggungjawaban hukum.
Seorang jurnalis AFP yang berada di lokasi, di barat daya Kota Nablus, melaporkan aparat memasang sejumlah pos pemeriksaan jalan dan melakukan pencarian terhadap tersangka lain.
Beberapa waktu kemudian, IDF mengumumkan telah menggerebek sebuah rumah sakit di Nablus dan menangkap dua orang yang disebut terlibat dalam penembakan setelah keduanya datang untuk menjalani perawatan medis.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berjanji akan bertindak “dengan kekuatan penuh terhadap para teroris dan pihak-pihak yang mengatur maupun mendukung mereka.”
Netanyahu juga menggelar rapat darurat bersama pejabat keamanan dan mengirim pasukan tambahan ke wilayah dekat permukiman Havat Gilad.
Kantor Perdana Menteri Israel bersama Menteri Pertahanan Israel Katz menyatakan rumah milik warga Palestina yang dituduh sebagai pelaku penembakan di Tal akan dihancurkan.
Mereka juga menyebut proses legalisasi pos-pos permukiman Israel yang sebelumnya tidak mendapat izin resmi, serta pembangunan pos baru, akan dipercepat.
Pos-pos tersebut umumnya berupa kumpulan karavan yang dibangun di atas perbukitan. Permukiman seperti itu dinyatakan ilegal menurut hukum internasional dan juga melanggar hukum Israel apabila didirikan tanpa persetujuan pemerintah.
Kekhawatiran Ketegangan Semakin Meluas
Melalui platform X, pemimpin Partai Demokrat Israel, Yair Golan, yang juga merupakan mayor jenderal cadangan IDF, menyebut pernyataan bersama Netanyahu dan Katz sebagai “niat yang jelas untuk membakar kawasan itu.”
Setelah insiden di Tal, muncul laporan bentrokan baru antara puluhan pemukim bersenjata dan warga Palestina di sejumlah desa lain di wilayah utara Tepi Barat.
Petugas medis setempat mengatakan beberapa warga Palestina mengalami luka-luka, termasuk satu orang yang tertembak di bagian kepala di Desa Farata.
Menteri Keamanan Nasional Israel yang berhaluan sayap kanan, Itamar Ben-Gvir, mengatakan desa-desa yang disebutnya sebagai “desa para pembunuh” harus diperlakukan sama seperti Jalur Gaza.
“Untuk setiap orang Yahudi yang dibunuh, musuh harus kehilangan tanah dan rumah mereka,” ujarnya.
Meski warga Palestina kerap menjadi korban tewas atau luka dalam bentrokan dengan para pemukim Israel, terbunuhnya warga Israel dalam serangan oleh warga Palestina dinilai telah membawa situasi di Tepi Barat ke titik yang semakin berbahaya.
Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sejak Oktober 2023 sebanyak 1.114 warga Palestina telah tewas di Tepi Barat. Sebagian besar kematian terjadi akibat operasi militer Israel, sementara sedikitnya 35 kasus melibatkan serangan pemukim Israel.
PBB juga mencatat 41 warga Israel, baik warga sipil maupun personel keamanan, tewas dalam serangan warga Palestina atau selama operasi militer Israel di Tepi Barat sejak perang Gaza dimulai.
Sejak menduduki Tepi Barat dan Yerusalem Timur pada Perang Timur Tengah 1967, Israel telah membangun ratusan permukiman yang kini dihuni sekitar 700.000 warga Yahudi.
Wilayah tersebut, bersama Jalur Gaza, diklaim Palestina sebagai bagian dari negara yang mereka harapkan dapat berdiri di masa depan. Saat ini, sekitar 3,3 juta warga Palestina tinggal berdampingan dengan para pemukim Israel di Tepi Barat.
Permukiman-permukiman Israel di wilayah pendudukan tersebut dinyatakan ilegal menurut hukum internasional.
