Close Menu

    Subscribe to Updates

    Dapatkan informasi terbaru dari mayoritas.com

    Apa yang Viral?

    Kongres AS Ajukan RUU “Kill Switch” AI setelah Insiden OpenAI, Pemerintah Diusulkan Bisa Mematikan Sistem Kecerdasan Buatan

    24/07/2026

    Puluhan Tewas Jelang Pemilu di Kashmir Kelolaan Pakistan, Ketegangan Politik Kian Memuncak

    24/07/2026

    Gelombang Protes CJP Guncang India, Gerakan Anak Muda yang Tak Diperkirakan Modi

    24/07/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Home
    • POLITIK
      • Politik Amerika
      • Politik Asia
      • Politik Dunia
      • Politik Eropa
      • Politik Nasional
      • Politik Timur Tengah
    • Nasional

      Kongres AS Ajukan RUU “Kill Switch” AI setelah Insiden OpenAI, Pemerintah Diusulkan Bisa Mematikan Sistem Kecerdasan Buatan

      24/07/2026

      Puluhan Tewas Jelang Pemilu di Kashmir Kelolaan Pakistan, Ketegangan Politik Kian Memuncak

      24/07/2026

      Gelombang Protes CJP Guncang India, Gerakan Anak Muda yang Tak Diperkirakan Modi

      24/07/2026

      Nasib Bayi Indonesia Korban Perdagangan Orang di Singapura Masih Menggantung Usai Vonis 19 Terdakwa

      24/07/2026

      Serangan Houthi di Laut Merah Picu Kekhawatiran Konflik Timur Tengah Meluas dan Mengganggu Ekonomi Global

      24/07/2026
    • TEKNOLOGI

      Kongres AS Ajukan RUU “Kill Switch” AI setelah Insiden OpenAI, Pemerintah Diusulkan Bisa Mematikan Sistem Kecerdasan Buatan

      24/07/2026

      Gedung Putih Tuduh Moonshot AI China Curi Teknologi Anthropic untuk Kembangkan Model K3

      23/07/2026

      Prancis Jadi Negara Uni Eropa Pertama yang Larang Anak di Bawah 15 Tahun Menggunakan Media Sosial

      22/07/2026

      AI Akan Membantu Pekerjaan Manusia atau Justru Menggantikannya?

      22/07/2026

      Generasi 20-an Berani Ambil Risiko Besar di Saham Teknologi, Mengejar Keuntungan dari Ledakan AI

      21/07/2026
    • Hiburan
    • Belanja Sekarang
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    Mayoritas.com
    Langganan Sekarang
    TOPIK PANAS
    • Olahraga
    • Ekonomi & Pasar
      • Bisnis
      • Ekonomi
      • Keuangan
    • Wisata & Kuliner
    • Belanja Sekarang
    Mayoritas.com
    Home»Hiburan»“Piala Dunia untuk Mereka, Bukan untuk Kami”: Kemarahan Suporter atas Larangan Perjalanan dan Pembatasan Visa AS
    Hiburan

    “Piala Dunia untuk Mereka, Bukan untuk Kami”: Kemarahan Suporter atas Larangan Perjalanan dan Pembatasan Visa AS

    joveBy jove08/06/2026No Comments5 Mins Read3 Views
    Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Ketika tim nasional Irak memastikan lolos ke Piala Dunia pada akhir Maret, Abdullah Adnan langsung membeli tiket untuk menyaksikan dua pertandingan negaranya melawan Norwegia dan Prancis yang akan digelar di Amerika Serikat.

    Bagi Adnan, kesempatan melihat langsung tim nasionalnya di panggung terbesar sepak bola dunia adalah impian yang sulit diukur dengan uang.

    “Pergi ke stadion, berada di tengah kerumunan suporter, bernyanyi dan mendukung tim saya, itu sangat berarti bagi saya,” katanya. “Perasaan itu tidak bisa dibandingkan dengan apa pun.”

    Namun impian tersebut kini terancam gagal bukan karena masalah tiket atau biaya perjalanan, melainkan karena visa.

    Kisah Adnan mencerminkan persoalan yang dihadapi ribuan suporter dari berbagai negara peserta Piala Dunia. Analisis data perjalanan yang dilakukan BBC World Service menunjukkan bahwa lebih dari seperempat negara yang lolos ke turnamen menghadapi hambatan berupa larangan perjalanan, pembatasan visa yang lebih ketat, atau tingkat penolakan visa yang tinggi.

    Suporter Irak Terjebak Situasi Regional

    Irak memang tidak masuk dalam daftar negara yang terkena larangan perjalanan Presiden AS, Donald Trump.

    Namun setelah pecahnya perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, layanan konsuler rutin AS di Irak dihentikan karena alasan keamanan.

    Akibatnya, warga Irak tidak memiliki tempat di negaranya sendiri untuk menjalani wawancara visa yang diwajibkan oleh pemerintah AS.

    Adnan kemudian pergi ke Yordania untuk mengajukan visa di Kedutaan Besar AS di Amman. Namun ketika tiba untuk wawancara, ia diberitahu bahwa kedutaan tersebut tidak dapat memproses visanya karena ia bukan warga negara Yordania.

    Perjalanan itu telah menghabiskan sekitar 1.800 dolar AS atau lebih dari Rp29 juta.

    Ia sempat mempertimbangkan mengajukan visa di Turki, tetapi proses yang dapat berlangsung hingga dua minggu membuatnya mengurungkan niat.

    Pada akhirnya, Adnan menyerah.

    Empat Negara Peserta Terdampak Langsung Larangan Trump

    Keluhan serupa datang dari banyak negara lain.

    Saat ini, empat negara peserta Piala Dunia masuk dalam daftar pembatasan visa dan larangan perjalanan yang diberlakukan pemerintahan Trump, yakni:

    • Haiti
    • Iran
    • Senegal
    • Pantai Gading

    Warga negara-negara tersebut tidak dapat memperoleh jenis visa kunjungan yang direkomendasikan otoritas AS bagi penonton Piala Dunia.

    Kebijakan imigrasi yang lebih ketat merupakan salah satu janji utama Donald Trump dalam kampanye pemilu 2024. Pemerintah AS berpendapat bahwa sistem yang ketat diperlukan untuk menjaga keamanan dan mengendalikan arus migrasi.

    Namun bagi banyak suporter, kebijakan tersebut dianggap mencederai semangat sepak bola internasional.

    “Mengapa Afrika?”

    Julien Kouadio Adonis dari Komite Nasional Pendukung Timnas Pantai Gading menilai pembatasan tersebut sebagai bentuk diskriminasi terselubung.

    “Ini adalah bentuk segregasi yang tidak berani disebut dengan namanya, tetapi buktinya ada.”

    Ia mempertanyakan mengapa tidak ada negara Eropa yang menghadapi pembatasan serupa.

    “Mengapa Afrika?”

    Organisasinya yang biasanya mengirim kelompok suporter ke setiap Piala Dunia memutuskan tidak mencoba berangkat ke Amerika Serikat kali ini.

    Menurut Adonis, negara yang tidak bersedia menerima suporter dari negara-negara peserta seharusnya tidak menjadi tuan rumah turnamen sepak bola terbesar di dunia.

    “Sepak bola adalah sebuah pertunjukan, dan pertunjukan membutuhkan penonton.”

    Ketimpangan Sistem Visa

    Sebanyak 42 negara, yang sebagian besar merupakan negara maju, menikmati fasilitas bebas visa melalui sistem elektronik ESTA milik AS dengan biaya sekitar 40 dolar AS.

    Tidak satu pun negara Afrika masuk dalam daftar tersebut.

    Sebaliknya, warga negara lain harus mengajukan visa B1/B2 yang biayanya mencapai 185 dolar AS dan diwajibkan mengikuti wawancara langsung.

    Pemohon juga harus meyakinkan petugas bahwa mereka akan meninggalkan AS setelah perjalanan berakhir dan mampu membiayai seluruh kunjungan mereka.

    Meski pemerintah AS sempat menghapus persyaratan deposit hingga 15.000 dolar AS bagi pemegang tiket Piala Dunia dari beberapa negara Afrika, banyak suporter menilai langkah tersebut belum cukup.

    Tingkat Penolakan yang Tinggi

    Analisis BBC terhadap data Departemen Luar Negeri AS menemukan bahwa 11 dari 48 negara peserta Piala Dunia memiliki tingkat penolakan visa di atas 40 persen.

    Negara-negara tersebut meliputi:

    • Ekuador
    • Mesir
    • Haiti
    • Aljazair
    • Uzbekistan
    • Tanjung Verde
    • Yordania
    • Iran
    • Republik Demokratik Kongo
    • Ghana
    • Senegal

    Sebagai perbandingan, rata-rata tingkat penolakan visa bisnis dan wisata AS secara global berada di angka 34 persen.

    Tingginya risiko penolakan membuat banyak suporter ragu membeli tiket pertandingan karena khawatir tidak mendapatkan visa.

    “Penjaga Gerbang Tak Terlihat”

    FIFA berupaya membantu dengan memperkenalkan sistem FIFA Pass yang memungkinkan pemegang tiket memperoleh jadwal wawancara visa lebih cepat.

    Namun menurut pengacara imigrasi asal Massachusetts, Celine Atallah, sistem itu hanya mempercepat proses, bukan meningkatkan peluang visa disetujui.

    “Sistem visa adalah penjaga gerbang tak terlihat bagi Piala Dunia.”

    Menurutnya, FIFA bisa menjual tiket kepada siapa saja, tetapi pemerintah AS yang menentukan siapa yang memperoleh visa dan petugas perbatasan yang memutuskan siapa yang benar-benar boleh masuk.

    Bahkan pemegang visa yang sah masih bisa ditolak saat tiba di perbatasan Amerika Serikat.

    Kekecewaan dari Dunia Arab

    Ketua asosiasi suporter sepak bola Yordania, Abu Kass, menjadi salah satu contoh nyata kesulitan tersebut.

    Ia mengatakan membawa lebih dari 42 dokumen saat wawancara visa di Amman, tetapi tetap ditolak tanpa penjelasan.

    Menurut data yang dianalisis BBC, sekitar 57 persen permohonan visa warga Yordania ditolak dalam periode yang berakhir pada September 2025.

    Kass bahkan mengaku tidak mengetahui satu pun suporter Yordania yang berhasil mendapatkan visa.

    “Piala Dunia ini bukan milik kami.”

    “Ini bukan Piala Dunia untuk orang Arab. Ini untuk mereka. Jika ketua asosiasi suporter saja ditolak, lalu siapa yang akan diterima?”

    Amerika Serikat Membela Kebijakannya

    Menanggapi kritik tersebut, Departemen Luar Negeri AS menyatakan siap menyambut pengunjung dari seluruh dunia untuk “Piala Dunia terbesar dalam sejarah.”

    Pemerintah AS menegaskan bahwa setiap permohonan visa akan diperiksa secara individual melalui proses verifikasi yang ketat demi memastikan keamanan nasional.

    Pemerintah juga menyoroti masalah pelanggaran masa tinggal visa. Departemen Keamanan Dalam Negeri mencatat lebih dari 538.000 kasus overstay antara Oktober 2023 hingga September 2024.

    Tantangan untuk Turnamen Global

    Piala Dunia mendatang akan digelar bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Namun dari total 104 pertandingan, sebanyak 78 laga, termasuk final, akan dimainkan di kota-kota Amerika Serikat.

    Situasi ini memunculkan perdebatan mengenai aksesibilitas turnamen yang seharusnya menjadi perayaan global sepak bola.

    Bagi banyak suporter dari Afrika, Timur Tengah, dan sejumlah negara berkembang lainnya, masalah terbesar bukan lagi harga tiket atau biaya perjalanan.

    Tantangan utama mereka justru adalah mendapatkan izin untuk memasuki negara tuan rumah.

    Dan bagi sebagian dari mereka, impian menyaksikan negaranya berlaga di Piala Dunia telah berakhir bahkan sebelum peluit pertama dibunyikan.

    amerika dunia lomba dunia piala pildun sepak bola
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    jove
    • Website

    Related Posts

    Ekonomi & Pasar

    Kongres AS Ajukan RUU “Kill Switch” AI setelah Insiden OpenAI, Pemerintah Diusulkan Bisa Mematikan Sistem Kecerdasan Buatan

    24/07/2026
    Hukum Kriminal

    Puluhan Tewas Jelang Pemilu di Kashmir Kelolaan Pakistan, Ketegangan Politik Kian Memuncak

    24/07/2026
    Budaya

    Gelombang Protes CJP Guncang India, Gerakan Anak Muda yang Tak Diperkirakan Modi

    24/07/2026
    Hukum Kriminal

    Nasib Bayi Indonesia Korban Perdagangan Orang di Singapura Masih Menggantung Usai Vonis 19 Terdakwa

    24/07/2026
    Ekonomi & Pasar

    Serangan Houthi di Laut Merah Picu Kekhawatiran Konflik Timur Tengah Meluas dan Mengganggu Ekonomi Global

    24/07/2026
    Ekonomi & Pasar

    AS Terapkan Tarif Baru terhadap Puluhan Mitra Dagang atas Dugaan Impor dari Kerja Paksa

    24/07/2026
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Langganan Berita

    Dapatkan berita olahraga terkini dari NewsSite tentang dunia, olahraga, dan politik.

    Pilihan Editor

    Kongres AS Ajukan RUU “Kill Switch” AI setelah Insiden OpenAI, Pemerintah Diusulkan Bisa Mematikan Sistem Kecerdasan Buatan

    24/07/2026

    Puluhan Tewas Jelang Pemilu di Kashmir Kelolaan Pakistan, Ketegangan Politik Kian Memuncak

    24/07/2026

    Gelombang Protes CJP Guncang India, Gerakan Anak Muda yang Tak Diperkirakan Modi

    24/07/2026

    Nasib Bayi Indonesia Korban Perdagangan Orang di Singapura Masih Menggantung Usai Vonis 19 Terdakwa

    24/07/2026
    Info Terbaru

    Apa Itu Lifestyle Sedentary? Menimbulkan Banyak Penyakit Hingga Dapat Terkena Kanker

    20/01/2021

    Pebasket Zhang Ziyu Setinggi 220M Menarik Perhatian Usai Mengalahkan Tim U-18 Indonesia

    15/01/2021

    Kronologi Atlet Bulu Tangkis China Zhang Zhi Jie Meninggal Di Ajang AJC 2024

    15/01/2021
    Advertisement
    LOGO_FOOTER_MAYORITAS
    Facebook X (Twitter) Pinterest Vimeo WhatsApp TikTok Instagram

    News

    • Ekonomi & Pasar
    • Olahraga
    • Opini
    • Otomotif
    • Wisata Kuliner
    • Video Unggulan
    • Kesehatan

    Company

    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Hak Cipta
    • Disclaimer
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Panduan Kebijakan

    Layanan

    • Toko
    • Customer Support
    • Karir
    • Tentang kami
    • Hubungi Kami
    • Akses login

    Langganan Updates

    Dapatkan informasi terkinni seputar fakta informasi dunia, anda bisa berlangganan melalui email anda

    © 2026 Mayoritas.com
    • Privacy Policy
    • Term of Service
    • Contact us

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.