Saat perahu karet yang ditumpanginya dihantam ombak besar, rasa takut menyelimuti Dong Guangping, seorang pembangkang asal China yang telah dua hari tidak tidur.
Pria berusia 68 tahun itu sadar bahwa upayanya melarikan diri dari China melalui jalur laut merupakan tindakan yang sangat berisiko. Namun, ia mengaku tetap meremehkan beratnya tantangan yang akan dihadapi selama perjalanan tersebut.
Kulitnya terbakar matahari, baterai telepon genggamnya hampir habis, sementara pengisi daya portabel yang dibawanya sudah tidak dapat digunakan. Di sekelilingnya hanya terlihat hamparan laut dan langit tanpa satu pun penanda arah. Satu-satunya harapan Dong adalah kompas digital di teleponnya mampu membimbingnya menuju Korea Selatan sebelum perangkat itu mati.
“Tidak bisa menentukan arah akan sangat menakutkan. Saya bisa saja hanyut kembali ke wilayah China,” kata Dong hampir dua bulan setelah pelariannya yang penuh risiko.
Empat puluh jam setelah berangkat dari Provinsi Shandong di pesisir timur China, Dong akhirnya diselamatkan oleh penjaga pantai dan nelayan di perairan Korea Selatan pada malam 27 Mei.
Ia sempat ditahan sementara oleh otoritas Korea Selatan, sebelum akhirnya menetap kembali di Kanada, tempat keluarganya telah lebih dulu tinggal.
“Saya tidak mungkin bisa bertahan hidup di China,” ujar Dong dalam wawancara
“Jika saya tidak pergi, saya tidak akan pernah hidup tenang seumur hidup. Saya harus menunjukkan kepada Partai Komunis China bahwa saya mampu meninggalkan negara itu. Mereka tidak bisa menghentikan saya dan tidak bisa mengendalikan saya.”
Menanggapi kisah tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri China mengatakan bahwa pemerintah China “menangani keluar masuk warga negaranya sesuai hukum dan warga negara China wajib mematuhi konstitusi serta peraturan perundang-undangan yang berlaku.”
Berkali-kali Dipenjara karena Aktivisme
Dong, mantan anggota kepolisian yang kemudian menjadi aktivis hak asasi manusia, telah beberapa kali dipenjara di China karena aktivitas politiknya.
Pada 1999, ia diberhentikan dari kepolisian setelah 13 tahun bertugas karena menandatangani petisi untuk memperingati 10 tahun penumpasan berdarah terhadap demonstran pro-demokrasi di Lapangan Tiananmen.
Dua tahun kemudian, tepatnya pada 2001, Dong dijatuhi hukuman penjara selama tiga tahun atas tuduhan “menghasut untuk menggulingkan kekuasaan negara”.
Menurut Amnesty International, ia kembali dipenjara pada 2014 setelah mengikuti kegiatan peringatan tragedi Tiananmen.
Dong mengungkapkan bahwa dirinya telah empat kali berusaha melarikan diri dari China, namun selalu dipulangkan.
“Namun saya selalu berpegang pada satu keyakinan, saya harus keluar menuju dunia yang bebas,” katanya
Dideportasi Sebelum Berangkat ke Kanada
Pada September 2015, Dong bersama istri dan putrinya pergi ke Bangkok, Thailand. Mereka memperoleh status pengungsi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan disetujui untuk dimukimkan kembali di Kanada.
Namun, hanya beberapa hari sebelum keberangkatan, otoritas Thailand mendeportasi Dong kembali ke China.
Sekembalinya ke China, ia kembali dipenjara dengan tuduhan “menghasut untuk menggulingkan kekuasaan negara” serta “melintasi perbatasan negara secara ilegal”. Ia dijatuhi hukuman penjara selama tiga setengah tahun.
Setelah dibebaskan pada 2019, Dong kembali mencoba melarikan diri dengan berenang menuju Kinmen, pulau kecil yang berada di bawah pemerintahan Taiwan. Namun ia ditemukan nelayan China yang kemudian menyerahkannya kepada polisi. Setelah itu, pemerintah melarangnya bepergian ke luar negeri.
Pada 2020, Dong berhasil melarikan diri ke Vietnam dan hidup bersembunyi selama dua tahun di Hanoi. Namun, ia akhirnya dideportasi kembali ke China dan kembali dijatuhi hukuman penjara selama hampir satu tahun.
Ia kembali menghirup udara bebas pada 2023.
Menyeberangi Laut Kuning dengan Perahu Karet
Serangkaian kegagalan tersebut justru semakin menguatkan tekad Dong.
Ia kemudian menyusun rencana yang jauh lebih berani sekaligus lebih berbahaya, yakni menyeberangi Laut Kuning sejauh lebih dari 300 kilometer sebelum melanjutkan perjalanan di sepanjang pesisir Korea Selatan menuju Jepang.
“Ini adalah rute yang sangat berbahaya. Risikonya sangat tinggi dan saya tahu saya mempertaruhkan nyawa,” ujarnya.
Pada Mei tahun ini, hanya dengan beberapa jam latihan mengemudikan perahu, Dong memulai perjalanan dari Weihai, Provinsi Shandong, menggunakan perahu karet sepanjang 3,3 meter yang dilengkapi mesin tempel.
Namun, cuaca buruk di laut memaksanya mengubah rute dan mengarahkan perjalanan ke Korea Selatan yang jaraknya lebih dekat.
Berjam-jam berada di tengah laut membuatnya kelelahan dan pusing. Ia bahkan sempat tertidur, lalu terbangun ketika menyadari perahunya baru saja melewati sebuah kapal kargo berukuran besar.
“Kalau saya tetap tertidur 20 detik lagi, saya pasti akan menabraknya,” katanya.
Sekitar pukul 20.30 waktu setempat pada 25 Mei, Dong melihat sebuah kapal nelayan dan berteriak, “Tolong saya! Tolong saya! Panggil polisi! Panggil polisi!”
Ia akhirnya berhasil dievakuasi ke daratan di Kabupaten Taean, Korea Selatan.
Dong kemudian ditempatkan di pusat pengungsi di Incheon sebelum akhirnya memperoleh suaka politik di Kanada.
Bukan Orang Pertama
Dong bukanlah pembangkang China pertama yang melarikan diri ke Korea Selatan melalui jalur laut.
Pada 2023, aktivis China lainnya, Kwon Pyong, juga berhasil mencapai Korea Selatan dengan menggunakan jet ski. Ia sempat ditahan karena pelanggaran keimigrasian sebelum akhirnya dimukimkan kembali di Amerika Serikat.
Mengenang momen ketika mengetahui penerbangannya menuju Toronto telah dipastikan, Dong mengaku tak mampu menahan haru.
“Saya benar-benar diliputi emosi saat memegang tiket pesawat itu,” katanya.
Dong juga mengungkapkan bahwa ia sempat merayakan ulang tahun ibunya yang ke-95 hanya beberapa hari sebelum meninggalkan China. Namun, ia tidak pernah memberi tahu sang ibu mengenai rencana pelariannya.
“Tidak bisa menjalankan bakti saya kepada ibu akan selalu menjadi penyesalan terbesar dalam hidup saya,” ujarnya.
