Sekilas Pertandingan
- Anthony Gordon membawa Inggris unggul pada menit ke-55 memanfaatkan umpan silang Morgan Rogers.
- Jordan Pickford tampil gemilang dengan menggagalkan peluang Nico Gonzalez, sementara Alexis Mac Allister dua kali membentur tiang gawang.
- Argentina membalikkan keadaan lewat gol Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez pada menit-menit akhir.
- Inggris akan menghadapi Prancis dalam perebutan tempat ketiga pada Sabtu pukul 22.00 BST (Minggu pukul 04.00 WIB), sedangkan Argentina akan bertemu Spanyol pada final Piala Dunia, Minggu pukul 20.00 BST (Senin pukul 02.00 WIB). Kedua laga akan disiarkan langsung oleh BBC.
Inggris harus mengubur impian meraih gelar Piala Dunia setelah Argentina mencetak dua gol pada menit-menit akhir untuk membalikkan keadaan dan menang dramatis dalam laga semifinal di Atlanta.
Tim asuhan Thomas Tuchel sempat berada di ambang lolos ke final Piala Dunia putra pertama mereka sejak menjuarai turnamen tersebut pada 1966. Anthony Gordon membawa The Three Lions unggul pada menit ke-55 dalam pertandingan yang berlangsung keras dan penuh tensi.
Namun, Argentina menunjukkan mental juara. Enzo Fernandez mencetak gol penyeimbang melalui tendangan spektakuler lima menit sebelum waktu normal berakhir. Lautaro Martinez kemudian memastikan kemenangan lewat sundulan pada masa injury time setelah menerima umpan silang Lionel Messi.
Kekalahan ini membuat penantian panjang Inggris untuk kembali meraih gelar dunia terus berlanjut. Mereka kini akan menghadapi Prancis dalam pertandingan perebutan tempat ketiga, sementara Argentina berpeluang mempertahankan gelarnya saat menghadapi Spanyol di partai final pada Minggu.
Atmosfer panas di dalam maupun luar Stadion Atlanta tercermin dalam jalannya babak pertama yang diwarnai 19 pelanggaran. Wasit asal Amerika Serikat, Ismail Elfath, kesulitan mengendalikan kerasnya pertandingan.
Argentina lebih dulu mengancam melalui tendangan jarak jauh Enzo Fernandez yang melenceng tipis dari sasaran.
Namun, justru Inggris yang memecah kebuntuan. Morgan Rogers membayar kepercayaan Thomas Tuchel dengan mengirim umpan silang akurat dari sisi kanan yang disambut Anthony Gordon di tiang jauh untuk membuka keunggulan.
Gol tersebut memicu respons Argentina.
Jordan Pickford harus melakukan penyelamatan refleks luar biasa untuk menggagalkan sundulan Nico Gonzalez.
Ketika tekanan Argentina semakin meningkat, Alexis Mac Allister sempat menyundul bola yang membentur tiang gawang sebelum akhirnya Enzo Fernandez menyamakan kedudukan lewat tembakan keras dari luar kotak penalti sejauh sekitar 23 meter pada lima menit terakhir waktu normal.
Tuchel memilih menumpuk empat bek tengah demi mengamankan area pertahanan. Namun, momentum sepenuhnya berpihak kepada Argentina.
Mac Allister kembali membentur tiang gawang sebelum Inggris akhirnya menyerah pada menit ke-92. Lautaro Martinez menyundul umpan silang Lionel Messi untuk memastikan kemenangan Argentina sekaligus menutup semifinal yang berlangsung dramatis.
Analisis Inggris: Strategi Terlalu Bertahan Berbuah Petaka
Seperti yang beberapa kali terjadi dalam turnamen besar sebelumnya, termasuk pada era Gareth Southgate, Inggris kembali kehilangan keberanian ketika kemenangan sudah berada di depan mata.
Thomas Tuchel dinilai turut bertanggung jawab atas hasil tersebut.
Dari posisi yang relatif mengendalikan pertandingan, meski menghadapi tekanan besar Argentina di semifinal Piala Dunia, Inggris perlahan menyerahkan inisiatif kepada lawan.
Harapan menuju final semakin nyata setelah gol Anthony Gordon. Namun, setelah itu Inggris justru semakin bertahan.
Masuknya Ezri Konsa menggantikan Gordon pada menit ke-72 menjadi sinyal perubahan pendekatan. Tuchel juga memasukkan Dan Burn untuk memperkuat pertahanan, tetapi strategi tersebut tidak membuahkan hasil.
Inggris akhirnya terus ditekan di area kotak penalti sendiri setelah Tuchel terlalu cepat beralih menggunakan lima pemain belakang.
Tekanan tanpa henti dari Argentina akhirnya memecahkan pertahanan Inggris.
Di antara berbagai kegagalan dalam beberapa tahun terakhir, kekalahan ini bisa menjadi salah satu yang paling menyakitkan karena Inggris hanya tinggal selangkah lagi menuju final sebelum kembali mengalami akhir yang pahit.
Analisis Argentina: Sentuhan Messi Kembali Menjadi Pembeda
Lionel Messi memang baru benar-benar memberi pengaruh besar pada fase akhir pertandingan, tetapi ketika momen itu tiba, kapten Argentina kembali menjadi sosok penentu.
Dalam tim yang belum pernah menyerah sepanjang turnamen ini, Messi memberikan assist untuk gol penyeimbang Enzo Fernandez lima menit sebelum laga usai.
Tak lama berselang, ia kembali menunjukkan kualitasnya dengan mengirim umpan silang menggunakan kaki kanan yang disundul Lautaro Martinez menjadi gol kemenangan pada masa injury time.
Argentina tampil jauh lebih efektif setelah meninggalkan permainan keras yang mewarnai babak pertama.
Mereka terus menekan Inggris yang semakin bertahan dan akhirnya berhasil memanfaatkan dominasi tersebut melalui gelombang serangan bertubi-tubi.
Kini, Messi berpeluang menambah koleksi gelar Piala Dunia keduanya pada usia 39 tahun.
Di final nanti, ia akan menghadapi Spanyol yang diperkuat bintang muda Lamine Yamal, sosok yang banyak disebut sebagai calon penerusnya, serta juara Eropa yang tampil impresif setelah menyingkirkan Prancis di semifinal lainnya.
