Seorang fotografer diduga mencuri peralatan kamera milik salah satu korban penembakan di Bondi sebelum menggadaikannya beberapa hari setelah aksi penembakan massal yang menewaskan 15 orang itu.
Pria berusia 35 tahun tersebut ditangkap dan didakwa pada Rabu setelah polisi menggerebek rumahnya di kawasan barat Sydney serta menyita sebuah kamera, borgol, dan sejumlah perangkat elektronik.
Polisi menuduh pria itu mencuri perlengkapan milik Peter Meagher, pensiunan polisi sekaligus fotografer, yang sedang bekerja dalam acara Hanukkah dan tewas setelah dua pria bersenjata diduga melepaskan tembakan ke arah kerumunan.
Menurut polisi, tersangka juga bekerja sebagai fotografer dalam acara tersebut. Ia diberikan jaminan dengan syarat ketat dan akan menghadiri sidang pengadilan bulan depan.
Selama penggerebekan, polisi juga memeriksa sebuah mobil dan menemukan sejumlah kecil bubuk kristal putih serta perangkat elektronik tambahan.
Pria itu didakwa atas berbagai pelanggaran, termasuk pencurian, menjual barang hasil curian, kepemilikan atau penggunaan senjata terlarang tanpa izin, serta kepemilikan dan distribusi narkoba terlarang.
Awal tahun ini, istri Meagher, Virginia, sempat membuat permohonan di media sosial agar kamera milik suaminya yang hilang dikembalikan.
“Kini jelas bahwa seseorang, selain pihak berwenang yang dikenal, mengambil kameranya dari Archer Park,” tulisnya di Facebook pada Maret lalu.
“Saya sangat berharap kameranya bisa dikembalikan.”
Secara terpisah, dua saudara laki-laki dari “pahlawan Bondi”, Ahmed Al Ahmed, juga didakwa terkait tuduhan mengancam Ahmed dan mencoba memeras uang darinya.
Ahmed Al Ahmed, pemilik toko keturunan Suriah-Australia, disebut sebagai pahlawan setelah berhasil melumpuhkan salah satu pelaku penembakan, Sajid Akram, dalam serangan pada 14 Desember lalu dengan merebut senjatanya.
Ahmed ditembak beberapa kali saat berusaha menghentikan serangan tersebut. Tindakannya memicu gelombang dukungan publik yang membuat penggalangan dana untuk dirinya berhasil mengumpulkan lebih dari 2,5 juta dolar Australia (sekitar 1,8 juta dolar AS atau 1,2 juta poundsterling).
Awal bulan ini, Ahmed — yang telah menjalani beberapa operasi pada lengannya sejak tertembak — melapor ke polisi bahwa kedua saudaranya, Hozifa al Ahmed dan Sameh al Ahmed, mengancam dirinya dan menuntut bagian dari dana donasi yang diterimanya.
Kedua saudara itu hadir di pengadilan pada Rabu untuk menghadapi dakwaan penggunaan layanan komunikasi untuk melecehkan atau mengintimidasi.
Dokumen pengadilan menyebut kedua saudara Ahmed pindah ke Australia setelah penembakan terjadi dan tinggal bersama dirinya.
Namun Ahmed kemudian pindah ke tempat lain setelah hubungan mereka memburuk, menurut dokumen tersebut.
Pada 7 Mei, Hozifa diduga menelepon Ahmed dan melontarkan ancaman.
“Saya akan menginjak kepalamu, mematahkan lenganmu yang satu lagi, dan menghancurkan wajahmu. Kami hanya akan pergi jika kamu memberi kami masing-masing 100.000 dolar Australia,” kata Hozifa, menurut tuduhan dalam dokumen pengadilan.
Tak lama kemudian, saudara lainnya, Sameh, juga diduga menelepon Ahmed dan menyampaikan tuntutan serupa.
“Kalau kamu ingin hidup tenang dan aman, kamu akan memberi kami masing-masing 100.000 dolar Australia,” kata Sameh, menurut dokumen tersebut.
Kedua saudara itu menyatakan tidak bersalah dan dijadwalkan kembali menjalani sidang pada Juli mendatang.
Mereka juga dikenai perintah perlindungan sementara terkait kekerasan dalam rumah tangga, yang berarti keduanya wajib menjauhi Ahmed.
