Close Menu

    Subscribe to Updates

    Dapatkan informasi terbaru dari mayoritas.com

    Apa yang Viral?

    SpaceX Resmi Ajukan IPO Raksasa, Elon Musk Berpeluang Jadi Triliuner Pertama di Dunia

    21/05/2026

    Trump dan Netanyahu Berselisih soal Iran, Telepon Panas Ungkap Retaknya Strategi Perang

    21/05/2026

    Pria Tennessee Dibayar Rp13 Miliar Setelah Dipenjara Gara-Gara Unggahan soal Charlie Kirk

    21/05/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Home
    • POLITIK
      • Politik Amerika
      • Politik Asia
      • Politik Dunia
      • Politik Eropa
      • Politik Nasional
      • Politik Timur Tengah
    • Nasional

      Trump dan Netanyahu Berselisih soal Iran, Telepon Panas Ungkap Retaknya Strategi Perang

      21/05/2026

      Pria Tennessee Dibayar Rp13 Miliar Setelah Dipenjara Gara-Gara Unggahan soal Charlie Kirk

      21/05/2026

      Xi Jinping Jadi Pusat Perhatian Dunia Saat Menjamu Putin, Hanya Beberapa Hari Setelah Trump

      21/05/2026

      Warga Karibia Melawan Investor Asing yang Menguasai Pantai-Pantai Mereka

      21/05/2026

      Ancaman Mogok Samsung Ditunda, Pekerja Desak Bonus AI yang Lebih Besar

      21/05/2026
    • TEKNOLOGI

      SpaceX Resmi Ajukan IPO Raksasa, Elon Musk Berpeluang Jadi Triliuner Pertama di Dunia

      21/05/2026

      Ancaman Mogok Samsung Ditunda, Pekerja Desak Bonus AI yang Lebih Besar

      21/05/2026

      Novel Tentang Cinta Terlarang dan Kuliner Taiwan Raih International Booker Prize Pertama untuk Karya Berbahasa Mandarin

      20/05/2026

      Standard Chartered Pangkas Ribuan Pekerja Saat AI Ambil Alih Lebih Banyak Tugas

      19/05/2026

      Trump Membawa Para Raksasa Bisnis AS ke China, dari Elon Musk hingga Bos Apple

      13/05/2026
    • Hiburan
    • Belanja Sekarang
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    Mayoritas.com
    Langganan Sekarang
    TOPIK PANAS
    • Olahraga
    • Ekonomi & Pasar
      • Bisnis
      • Ekonomi
      • Keuangan
    • Wisata & Kuliner
    • Belanja Sekarang
    Mayoritas.com
    Home»Ekonomi & Pasar»Xi Jinping Jadi Pusat Perhatian Dunia Saat Menjamu Putin, Hanya Beberapa Hari Setelah Trump
    Ekonomi & Pasar

    Xi Jinping Jadi Pusat Perhatian Dunia Saat Menjamu Putin, Hanya Beberapa Hari Setelah Trump

    adminBy admin21/05/2026No Comments6 Mins Read4 Views
    Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Anak-anak yang bersorak — ada. Pasukan kehormatan militer — ada. Dentuman meriam dan marching band — juga ada.

    Penyambutan Vladimir Putin di depan Great Hall of the People hampir menjadi salinan sempurna dari upacara yang diterima Donald Trump pekan lalu.

    Dua kunjungan presiden berisiko tinggi dalam hitungan hari itu menjadi gambaran persis yang ingin ditunjukkan Xi Jinping kepada dunia: berbicara dengan semua pihak, tetapi tidak terikat pada siapa pun.

    Bagi China, kunjungan tersebut menjadi bukti bahwa berkat kekuatan ekonominya yang besar dan pengaruh diplomatik yang terus tumbuh, kini semua jalan mengarah ke Beijing.

    “Era baru urusan dunia kini semakin tidak berpusat pada Barat,” kata Samir Puri dari Kings College London.

    “China memiliki kekuatan laten yang besar di panggung global. Mereka tidak selalu menggunakannya secara langsung untuk menyelesaikan konflik, melainkan memanfaatkan pengaruhnya secara bertahap.”

    Dari sisi visual, kedua kunjungan tampak sangat mirip — Xi tampil percaya diri sebagai tuan rumah di bawah sorotan dunia. Namun kepentingan politik di balik keduanya sangat berbeda.

    Putin, yang telah lebih dari 20 kali berkunjung ke China, tampak memiliki hubungan pribadi yang dekat dengan Xi. Tetapi perang di Ukraina dan sanksi Barat membuat Rusia kini sangat bergantung pada Beijing, yang telah menjadi mitra dagang terbesar Moskow sekaligus pembeli utama minyak dan gas Rusia.

    Hubungan yang tidak seimbang itu sudah berlangsung cukup lama, dan kembali terlihat jelas kali ini.

    Pembicaraan kedua negara menghasilkan lebih dari 20 kesepakatan perdagangan dan teknologi, tetapi belum ada persetujuan terhadap proyek pipa gas Rusia yang selama bertahun-tahun didorong Putin. Pernyataan bersama yang panjang juga tidak menghasilkan terobosan besar.

    “China dan Rusia memang saling membutuhkan, tetapi Rusia jelas membutuhkan China jauh lebih besar dibanding sebelumnya,” kata Dr Zheng Runyu dari Centre for Russian Studies di East China Normal University, Shanghai.

    “Dalam situasi internasional saat ini, kerja sama mendalam dengan China sangat penting bagi Rusia untuk menghadapi berbagai tantangan.”

    Xi juga tampak berada dalam posisi kuat saat bernegosiasi dengan Presiden AS Donald Trump.

    Hubungan perdagangan China yang semakin luas dengan negara lain, ditambah dominasinya dalam mineral tanah jarang dan manufaktur teknologi tinggi, memberi Beijing daya tawar besar. Ketidakpastian kebijakan Trump juga membuat China kini berada di posisi yang lebih setara dengan Washington.

    Dalam pembicaraan dengan Trump maupun Putin, Xi menghadapi dua pemimpin yang sama-sama terjebak dalam perang mahal yang berlangsung lebih lama dari perkiraan mereka.

    Bagi Trump, konflik di Timur Tengah telah berubah menjadi krisis global yang menekan tingkat popularitasnya di dalam negeri. Sementara bagi Putin, invasi Ukraina yang kini memasuki tahun kelima membuat Rusia terisolasi dan menimbulkan dampak besar bagi rakyatnya sendiri.

    Dalam kedua situasi itu, terlihat jelas bahwa China kini memiliki kekuatan untuk menentukan nada dan syarat keterlibatannya di panggung global.

    Mimpi Besar Xi Jinping

    Situasi ini menjadi perubahan luar biasa bagi China, yang hanya lima tahun lalu tampak berada di ambang isolasi diplomatik.

    Perbatasannya ditutup akibat pandemi yang kala itu disebut Presiden Trump sebagai “virus China”. Hubungan Beijing dengan Barat memburuk tajam di tengah munculnya diplomasi “wolf warrior”, ketika diplomat dan media pemerintah China menggunakan retorika agresif terhadap kritik Barat.

    Tekanan internasional juga meningkat terkait dugaan pelanggaran HAM berat di Xinjiang dan kontrol Beijing yang semakin kuat atas Hong Kong. Pemerintah Barat menjatuhkan sanksi dan pembatasan ekspor terhadap produk China, yang kemudian dibalas Beijing dengan tindakan serupa.

    Namun lima tahun kemudian, China berhasil memposisikan diri kembali sebagai pusat diplomasi dan perdagangan global yang sulit diabaikan.

    China kini bukan lagi dipandang sebagai masalah yang harus dibendung, melainkan kekuatan yang harus diajak berinteraksi.

    Beijing mulai melunakkan gaya diplomatiknya setelah menyadari sejumlah realitas yang tidak nyaman. Perlambatan ekonomi membuat China membutuhkan lebih banyak investasi dan perdagangan asing, yang hanya mungkin dicapai melalui hubungan stabil.

    Konfrontasi yang berlebihan juga sempat mendorong mitra dagang penting di kawasan seperti Korea Selatan, Filipina, dan Vietnam semakin mendekat ke Washington.

    Waktu juga menjadi faktor penting.

    Sejak AS memilih Donald Trump, China memperbaiki hubungan dengan Australia, Kanada, dan Inggris — seluruhnya sekutu penting Amerika Serikat. Pemimpin dunia dari Kanada, Inggris, hingga Jerman kini berjalan di karpet merah Beijing demi menjalin kesepakatan dengan ekonomi terbesar kedua dunia itu.

    Selama satu dekade terakhir, Xi berjanji kepada rakyatnya untuk mewujudkan “kebangkitan besar bangsa China”. Pekan diplomatik ini menjadi propaganda domestik yang sangat efektif: Xi tampil sebagai sosok yang ingin ditemui semua pemimpin dunia.

    Namun kunjungan ini juga memperlihatkan batas pengaruh diplomatik China.

    Tali Diplomasi yang Semakin Rumit

    Xi hanya menyinggung satu perang secara langsung — yakni konflik di Timur Tengah.

    Ia mengatakan kepada Putin bahwa penghentian penuh perang di Iran merupakan “hal yang paling mendesak”, tetapi tidak menyebut invasi Rusia ke Ukraina sama sekali.

    Xi dan Putin bersama-sama mengecam “serangan militer licik terhadap negara lain, penggunaan negosiasi secara munafik sebagai kedok persiapan serangan, pembunuhan pemimpin negara berdaulat, destabilisasi politik domestik, provokasi pergantian rezim, serta penculikan pemimpin nasional untuk diadili”.

    Pernyataan itu terdengar janggal dan berpotensi menimbulkan dampak jauh melampaui Great Hall of the People.

    Saat China menyerukan penghentian konflik di tempat lain sambil mengkritik tindakan AS, sikap diam Beijing terhadap Ukraina — tempat ratusan ribu orang tewas — akan memunculkan pertanyaan di Eropa mengenai sejauh mana China benar-benar mau atau mampu menjadi pemain global yang netral.

    Beijing berusaha mempertahankan posisi netral dalam perang Ukraina, meskipun AS dan Eropa terus mendesak China menghentikan dukungan ekonomi terhadap Moskow.

    Namun China khawatir kehilangan sekutu penting jika Putin kalah dalam perang. Beijing juga cemas terhadap potensi ketidakstabilan di negara tetangga sebesar Rusia.

    “Xi Jinping jelas bisa mengambil jalan paling mudah dengan tidak mengatakan apa pun soal itu,” kata Samir Puri.

    “Tetapi secara diam-diam, itu berarti: Rusia, lanjutkan invasi Anda.”

    “Kalau ada pembicaraan mengenai gencatan senjata atau masa depan pascaperang, saya akan sangat terkejut. Sampai sekarang masih sangat ambigu apakah China benar-benar ingin menggunakan pengaruhnya terhadap perang Rusia di Ukraina.”

    Sebaliknya, perang di Iran justru merugikan kepentingan China. Beijing memang memiliki cadangan minyak, tetapi krisis yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir telah mengganggu Selat Hormuz.

    Menyerukan penghentian satu perang tetapi diam terhadap perang lainnya memengaruhi kredibilitas Xi ketika China berusaha mengambil peran lebih sentral di panggung dunia.

    Sikap itu juga berisiko terhadap hubungan Beijing dengan Eropa di saat China tengah berusaha memperkuat hubungan tersebut demi menopang ekonominya yang sangat bergantung pada ekspor.

    Seberapa pun mengesankannya pekan diplomatik tingkat tinggi ini, Xi masih menghadapi tantangan besar ke depan. Kepemimpinan otoriter China, yang semakin kuat di bawah Xi, tetap menjadi sumber kontroversi dan ketidakpercayaan bagi banyak pihak di dunia.

    amerika china rusia
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    admin

    Related Posts

    Bisnis

    SpaceX Resmi Ajukan IPO Raksasa, Elon Musk Berpeluang Jadi Triliuner Pertama di Dunia

    21/05/2026
    Lain Lain

    Trump dan Netanyahu Berselisih soal Iran, Telepon Panas Ungkap Retaknya Strategi Perang

    21/05/2026
    Hukum Kriminal

    Pria Tennessee Dibayar Rp13 Miliar Setelah Dipenjara Gara-Gara Unggahan soal Charlie Kirk

    21/05/2026
    Ekonomi & Pasar

    Warga Karibia Melawan Investor Asing yang Menguasai Pantai-Pantai Mereka

    21/05/2026
    Bisnis

    Ancaman Mogok Samsung Ditunda, Pekerja Desak Bonus AI yang Lebih Besar

    21/05/2026
    Hukum Kriminal

    Alat Laser Penghilang Bulu Picu Kepanikan Bom di Bandara Melbourne, Operasional Sempat Lumpuh Berjam-jam

    21/05/2026
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Langganan Berita

    Dapatkan berita olahraga terkini dari NewsSite tentang dunia, olahraga, dan politik.

    Pilihan Editor

    SpaceX Resmi Ajukan IPO Raksasa, Elon Musk Berpeluang Jadi Triliuner Pertama di Dunia

    21/05/2026

    Trump dan Netanyahu Berselisih soal Iran, Telepon Panas Ungkap Retaknya Strategi Perang

    21/05/2026

    Pria Tennessee Dibayar Rp13 Miliar Setelah Dipenjara Gara-Gara Unggahan soal Charlie Kirk

    21/05/2026

    Xi Jinping Jadi Pusat Perhatian Dunia Saat Menjamu Putin, Hanya Beberapa Hari Setelah Trump

    21/05/2026
    Info Terbaru

    Apa Itu Lifestyle Sedentary? Menimbulkan Banyak Penyakit Hingga Dapat Terkena Kanker

    20/01/2021

    Pebasket Zhang Ziyu Setinggi 220M Menarik Perhatian Usai Mengalahkan Tim U-18 Indonesia

    15/01/2021

    Kronologi Atlet Bulu Tangkis China Zhang Zhi Jie Meninggal Di Ajang AJC 2024

    15/01/2021
    Advertisement
    LOGO_FOOTER_MAYORITAS
    Facebook X (Twitter) Pinterest Vimeo WhatsApp TikTok Instagram

    News

    • Ekonomi & Pasar
    • Olahraga
    • Opini
    • Otomotif
    • Wisata Kuliner
    • Video Unggulan
    • Kesehatan

    Company

    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Hak Cipta
    • Disclaimer
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Panduan Kebijakan

    Layanan

    • Toko
    • Customer Support
    • Karir
    • Tentang kami
    • Hubungi Kami
    • Akses login

    Langganan Updates

    Dapatkan informasi terkinni seputar fakta informasi dunia, anda bisa berlangganan melalui email anda

    © 2026 Mayoritas.com
    • Privacy Policy
    • Term of Service
    • Contact us

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.