Pada Senin, seorang mahasiswi berusia 20 tahun bernama samaran Chhavi berhenti sejenak di luar sebuah stasiun metro di New Delhi dalam perjalanan menuju demonstrasi yang kemudian menjadi salah satu aksi protes anti-pemerintah terbesar terhadap pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi di ibu kota India dalam beberapa tahun terakhir.
Ia menyandarkan ponselnya di pagar, melangkah mundur, lalu merekam video singkat “fit check”, yakni video yang memperlihatkan pakaian yang dikenakannya sebelum mengikuti aksi.
“Mau dipukuli polisi dulu ya, teman-teman,” ujarnya sambil tersenyum ke arah kamera.
Beberapa jam kemudian, polisi menembakkan gas air mata dan membubarkan massa dengan pentungan ketika puluhan ribu pendukung Cockroach Janta Party (CJP), sebuah gerakan yang dipimpin anak muda dan berkembang dari protes terkait dugaan kecurangan ujian menjadi kampanye yang lebih luas untuk menuntut akuntabilitas pemerintah, berbaris menuju gedung parlemen.
Mereka menuntut Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan mengundurkan diri menyusul kebocoran soal ujian dan berbagai skandal rekrutmen. Namun Pradhan menolak mundur dan menuduh pihak oposisi memanfaatkan para mahasiswa demi kepentingan politik.
Pemerintah memutus akses internet seluler di sekitar lokasi demonstrasi. Menjelang malam, para demonstran menyebut puluhan peserta dipukuli polisi, sementara kepolisian mengatakan sejumlah personelnya juga mengalami luka-luka.
Saat Chhavi akhirnya mengunggah video-videonya pada malam hari, ada satu hal yang mencuri perhatian. Sebelum aksi dimulai, ia sempat bercanda soal kemungkinan dipukuli polisi. Beberapa jam kemudian, ia masih tampak tersenyum, berpose di samping polisi antihuru-hara, mengacungkan tanda kemenangan, merekam kerumunan massa, bahkan mewawancarai seorang demonstran yang terluka.
Video-video itu menjadi bagian dari ribuan reel, meme, dan dokumentasi langsung dari peserta aksi yang membanjiri Instagram setelah akses internet kembali dipulihkan. Sebagian berisi kemarahan yang mentah, sebagian lainnya memperlihatkan kepanikan, ketakutan, atau perlawanan yang tenang. Namun, justru humor bernada satir yang paling banyak menarik perhatian.
Seorang perempuan muda terlihat santai merapikan lipstiknya di depan barisan polisi antihuru-hara. Peserta lain bercanda bahwa ia “tetap tampil maksimal saat demonstrasi karena pemerintah gagal memberikan keadilan.”
Ada pula video yang diawali dengan tayangan memperlihatkan pakaian demonstran, sebelum tiba-tiba beralih menjadi adegan massa berlarian menghindari gas air mata. Video lain memberikan “ulasan” datar tentang gas air mata, lengkap dengan penilaian mengenai aroma dan rasa perihnya layaknya mengulas restoran baru.
Bagi banyak orang yang menyaksikannya di media sosial, humor tersebut tampak bertolak belakang dengan kekerasan yang terjadi. Namun bagi para anak muda yang membuat video-video itu, keduanya tidak saling bertentangan.
Tak satu pun demonstran yang diwawancarai untuk artikel ini berbicara soal algoritma media sosial, tingkat interaksi, atau peluang menjadi viral. Mereka menggambarkan proses merekam video sebagai bagian yang hampir tidak terpisahkan dari aksi protes itu sendiri.
Ketika menggunakan humor, hampir semuanya menjadikan diri mereka sendiri sebagai bahan candaan, mulai dari jumlah kilometer yang ditempuh saat berlari menghindari pentungan polisi hingga ironi merekam video pakaian hanya beberapa saat sebelum harus menyelamatkan diri dari gas air mata. Candaan itu tidak menghapus rasa takut, melainkan hidup berdampingan dengannya.
Para ahli menilai fenomena tersebut menunjukkan perubahan besar dalam cara generasi yang tumbuh bersama internet memandang aksi protes.
“Generasi yang lebih tua memisahkan kehidupan politik dari kehidupan sehari-hari,” kata Joyojeet Pal, profesor di University of Michigan yang meneliti hubungan antara teknologi dan masyarakat.
“Generasi muda tumbuh dengan politik yang hadir berdampingan dengan meme, foto keluarga, dan perjalanan harian mereka.”
Bagi Chhavi, mendokumentasikan demonstrasi tetap berlanjut bahkan ketika polisi mulai membubarkan massa. Sebagian warganet kemudian menuduhnya menjadikan kekerasan sebagai konten media sosial.
“Tapi saat itu adrenalin saya memuncak. Saya takut, benar-benar ketakutan,” katanya. “Saya hanya punya dua pilihan, menertawakan rasa takut atau menangis.”
Menurut Payal Arora, antropolog digital dari Utrecht University, dorongan untuk terus merekam meski situasi berubah menjadi berbahaya kini semakin umum terjadi di berbagai belahan dunia. Ponsel pintar telah mengubah masyarakat biasa menjadi pencatat peristiwa politik, mendokumentasikan momen-momen yang mungkin saja hilang jika tidak direkam.
“Tindakan merekam sebuah aksi protes sering kali sudah menjadi tujuan itu sendiri,” ujarnya. “Pesan yang ingin disampaikan kurang lebih adalah, ‘Ini benar-benar terjadi. Kami ada di sana. Kami akan mengingatnya.'”
Humor yang muncul pun mengikuti pola yang serupa. Tidak ada demonstran muda yang menyebut hari itu sebagai pengalaman yang lucu. Mereka justru berbicara tentang gas air mata, serangan pentungan polisi, dan kebingungan ketika melihat aksi damai berubah menjadi kekacauan.
Direktur Digital Narratives Center di School of Journalism & Communication, Chinese University of Hong Kong, Nishant Shah, mengatakan banyak orang keliru menganggap humor sebagai tanda ketidakpedulian. Menurutnya, justru sebaliknya.
“Politik adalah bagian dari kehidupan sehari-hari yang bersifat emosional dan dialami secara langsung,” katanya.
Humor telah lama menjadi bagian dari berbagai gerakan protes. Humor mampu membangun solidaritas, meredakan ketegangan, dan membantu orang bertahan menghadapi situasi yang menakutkan.
“Bahkan ketika perjuangannya sangat keras dan penuh tekanan, selalu ada kegembiraan, tawa, lagu, dan harapan,” ujar Shah. “Tanpa semua itu, sebuah gerakan protes tidak akan mampu bertahan.”
Ishaan, nama samaran seorang pemuda berusia 21 tahun, datang ke New Delhi untuk mengikuti demonstrasi pertamanya. Ketika gas air mata ditembakkan di dekatnya, ia justru mengambil ponselnya alih-alih meninggalkan lokasi.
Video yang kemudian ia unggah memperlihatkan asap putih memenuhi jalan dengan keterangan sederhana, “Polisi Delhi tidak sadar kalau saya berasal dari Jamuna Paar.”
Bagi sebagian besar warga New Delhi, candaan itu tidak memerlukan penjelasan. Jamuna Paar, yang secara harfiah berarti “di seberang Sungai Yamuna”, merupakan sebutan untuk kawasan timur kota yang kerap menjadi sasaran lelucon karena kondisi infrastruktur sipilnya yang tertinggal.
“Bau di sana lebih parah daripada gas air mata,” kata Ishaan sambil tertawa.
ia mengatakan bahwa candaan tersebut bukan berarti berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa.
“Ini tentang menolak membiarkan rasa takut menentukan bagaimana hari itu akan dikenang,” ujarnya.
Sepanjang sejarah, berbagai gerakan protes selalu memiliki bahasa emosionalnya sendiri untuk membantu para pesertanya menghadapi ketakutan bersama.
Gerakan kemerdekaan India memiliki lagu-lagu perjuangan dan pidato. Serikat pekerja berbaris membawa spanduk. Gerakan mahasiswa memanfaatkan poster dan teater jalanan. Belakangan, demonstrasi menentang undang-undang kewarganegaraan dikenal melalui mural dan pembacaan konstitusi di ruang publik, sementara aksi para petani identik dengan konvoi traktor dan siaran langsung dari perbatasan New Delhi.
Protes CJP menggunakan bahasa khas generasi yang tumbuh bersama internet. Menurut Shah, menganggap bahasa itu sebagai sesuatu yang remeh berarti gagal memahami fungsi sebenarnya.
“Kita sering keliru mencoba memahami teknologi baru dengan cara berpikir lama,” katanya.
Menurut Shah, meme bukan sekadar versi modern dari poster politik. Maknanya terus berkembang ketika orang-orang membuat ulang, memarodikan, dan menyebarkannya. Membagikan meme pun menjadi salah satu bentuk partisipasi dalam aksi protes.
Hal itu juga dirasakan Manit, mahasiswa teknik berusia 18 tahun. Demonstrasi tersebut merupakan pengalaman pertamanya, dan awalnya ia hampir memutuskan untuk tidak merekam video.
“Saya takut,” katanya. Lalu ia melihat ke sekeliling. “Semua orang merekam, berbicara ke kamera, dan menjadi diri mereka sendiri. Jadi saya meminta teman saya merekam saya.”
Sekilas, video yang ia unggah tampak seperti konten olahraga yang biasa ia buat. Baru pada adegan terakhir terlihat bahwa jarak yang tercatat di aplikasi kebugarannya diperoleh saat berlari menghindari serangan pentungan polisi.
“Saya berhasil lolos dari serangan pentungan. Saya terus berlari sampai tanpa sadar latihan olahraga saya juga selesai,” ujarnya sambil tertawa.
Bagi Manit, di situlah letak maknanya.
“Tidak semua anak muda membaca berita,” katanya. “Kalau humor bisa membuat percakapan penting menjadi lebih mudah diakses, mengapa kami tidak memanfaatkannya?”
Beberapa nama dalam artikel ini telah diubah untuk melindungi identitas narasumber.
