Sebuah tim penerbangan Australia berhasil menjalankan misi penyelamatan berisiko tinggi di tengah musim dingin Antarktika untuk mengevakuasi seorang anggota ekspedisi Amerika Serikat dari sebuah stasiun penelitian. Operasi tersebut dilakukan dalam kondisi suhu membeku dan kegelapan total.
Perusahaan penerbangan Skytraders mengatakan misi “luar biasa” itu dilaksanakan pada Jumat lalu setelah menerima permintaan mendesak untuk melakukan evakuasi medis dari McMurdo Station, stasiun penelitian milik Amerika Serikat di Antarktika.
Setelah sempat tertunda akibat cuaca buruk, Skytraders berhasil mendaratkan pesawat Airbus A319 dalam kondisi yang mereka sebut “sangat menantang”, termasuk suhu mencapai minus 43 derajat Celsius.
Pasien kemudian berhasil dipindahkan dengan aman ke dalam pesawat yang dijuluki Snowbird 1. Pesawat tersebut selanjutnya terbang menuju Christchurch, Selandia Baru, tempat pasien menjalani perawatan. Kondisinya kini dilaporkan terus membaik.
Wakil Kepala Eksekutif Skytraders, Duncan Mackay, mengatakan kepada media Australia bahwa pesawat tersebut menjalani modifikasi total menjadi konfigurasi khusus evakuasi medis hanya dalam waktu 24 jam setelah permintaan bantuan diterima.
Namun, proses lepas landas kemudian harus ditunda selama 12 jam karena kru menunggu adanya celah cuaca yang memungkinkan penerbangan dilakukan dengan aman.
Pesawat akhirnya lepas landas dari Hobart, ibu kota negara bagian Tasmania, pada Jumat dini hari waktu setempat, sebelum mendarat di stasiun penelitian Amerika Serikat di Pulau Ross.
Skytraders tidak mengungkap identitas maupun kondisi medis pasien secara rinci, selain menyatakan bahwa yang bersangkutan kini tengah dalam proses pemulihan.
Mackay mengatakan perusahaannya meyakini penerbangan tersebut merupakan operasi pesawat sipil yang dilakukan paling dekat dengan titik balik matahari musim dingin (winter solstice), yang tahun ini jatuh pada 21 Juni.
“Skytraders sebelumnya memang pernah melaksanakan evakuasi medis pada musim dingin, tetapi belum pernah sedekat ini dengan titik balik matahari musim dingin,” ujarnya kepada surat kabar tersebut.
Ia menambahkan bahwa pendaratan pesawat di landasan es dalam kondisi gelap gulita dengan suhu minus 43 derajat Celsius membutuhkan pengalaman dan pemahaman yang sangat mendalam terhadap kondisi Antarktika.
Pilot pesawat, Kapten Al Wallach, mengatakan keberhasilan misi tersebut mencerminkan keahlian khusus seluruh tim, yang terdiri atas awak penerbangan, ahli meteorologi, perencana operasional, tim landasan pacu, serta tenaga medis.
“Setiap misi ke Antarktika menuntut tingkat presisi yang mutlak. Namun operasi pada musim dingin meningkatkan tingkat kerumitannya secara signifikan,” katanya.
“Kondisi yang kami hadapi benar-benar berada di batas kemampuan bahkan bagi pesawat yang dirancang khusus untuk operasi seperti ini.”
Skytraders sebelumnya juga pernah menjalankan misi serupa pada Maret 2020 ketika pemerintah Amerika Serikat meminta bantuan untuk mengevakuasi seorang anggota US Antarctic Program yang juga berada di McMurdo Station. Saat itu suhu udara sedikit lebih hangat, yakni sekitar minus 30 derajat Celsius.
