Hari itu seharusnya menjadi hari biasa bagi Nure Jannat Yusha, siswi kelas enam di Bangladesh. Namun, semuanya berubah ketika sebuah pesawat tempur milik Angkatan Udara Bangladesh jatuh menimpa sekolahnya di ibu kota Dhaka, menewaskan 36 orang, sebagian besar merupakan anak-anak.
Dalam hitungan menit, Milestone School and College, sebuah sekolah swasta yang sebelumnya dipenuhi aktivitas para siswa, berubah menjadi lautan api dan kepanikan.
Peristiwa tersebut menjadi kecelakaan penerbangan paling mematikan yang terjadi di Bangladesh dalam beberapa dekade terakhir.
Pekan ini, keluarga korban dan para penyintas berkumpul untuk memperingati satu tahun tragedi itu. Banyak di antara mereka merupakan siswa yang mengaku masih kesulitan menjalani kehidupan seperti semula, termasuk Yusha.
“Hingga sekarang, kalau saya pergi ke sekolah dan melihat pesawat, saya langsung ketakutan. Saya tidak bisa tidur pada malam hari. Dalam mimpi, saya merasa ada yang melempar saya ke dalam api,” tutur Yusha
Yusha merupakan salah satu dari lebih dari 160 orang yang mengalami luka-luka dalam insiden di Milestone School. Ia juga hadir dalam acara peringatan yang digelar di sebuah rumah sakit di Dhaka pada Selasa waktu setempat, tempat keluarga korban kembali menyampaikan bahwa mereka masih menunggu kejelasan mengenai penyebab kecelakaan tersebut.
Ibu Yusha, Yasin Akter, mengatakan putrinya dulu bercita-cita menjadi penari. Namun, impian itu kini telah sirna.
“Anak saya terus berteriak sepanjang hari dan selalu ketakutan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa Yusha kini hidup dalam kecemasan berlebihan dan terus dihantui ketakutan pesawat akan kembali jatuh dari langit.
“Dulu dia sangat bersemangat belajar. Sekarang dia sudah tidak ingin belajar lagi.”
“Tidak Ada yang Bisa Menjamin Pesawat Tidak Akan Jatuh Lagi”
Pada 21 Juli 2025 sekitar pukul 13.00 waktu setempat, sebuah pesawat latih milik Angkatan Udara Bangladesh lepas landas dari pangkalan udara di Dhaka sebelum akhirnya jatuh tidak lama kemudian di kawasan Uttara.
Foto-foto dari lokasi beberapa jam setelah kejadian memperlihatkan puluhan petugas penyelamat menyisir puing-puing bangunan yang hangus terbakar untuk mencari korban yang masih bisa diselamatkan.
Pemerintah kemudian mengumumkan pembentukan tim investigasi untuk menyelidiki penyebab kecelakaan. Namun, dalam beberapa hari berikutnya, ratusan mahasiswa dan pelajar turun ke jalan dan bentrok dengan aparat kepolisian. Mereka menuntut pertanggungjawaban atas tragedi tersebut sekaligus mendesak perubahan aturan penerbangan latihan militer.
Laporan hasil investigasi yang disebut telah diserahkan kepada pemerintah pada November tahun lalu hingga kini belum dipublikasikan.
Salinan laporan lengkap yang diperoleh mengungkap sejumlah temuan penting, termasuk pelanggaran aturan bangunan oleh Milestone School. Laporan tersebut juga menemukan lebih dari 600 bangunan, termasuk sekolah dan rumah sakit, yang berada di sekitar bandara internasional Dhaka melanggar ketentuan batas ketinggian bangunan.
Laporan itu juga menyimpulkan bahwa pilot tidak memiliki pelatihan terbang yang memadai serta tidak mendapat pengawasan yang layak dari petugas di darat. Selain itu, investigasi menyatakan tidak ditemukan kerusakan teknis pada pesawat, bertolak belakang dengan pernyataan awal militer Bangladesh yang sebelumnya menyebut pesawat mengalami gangguan mekanis sesaat setelah lepas landas.
Hingga berita ini ditulis, Angkatan Bersenjata Bangladesh belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar mengenai temuan tersebut.
“Tidak ada seorang pun yang bisa menjamin pesawat lain tidak akan kembali jatuh ke sekolah ini pada masa mendatang,” kata Mansur Helal, suami salah satu korban, saat berbicara dalam acara peringatan tersebut. Pernyataannya merujuk pada dokumenter yang mengulas isi laporan investigasi.
“Ini benar-benar situasi yang mengerikan. Setiap hari sekitar 2.500 hingga 3.000 siswa belajar di sekolah itu.”
Istri Helal, Mahreen Chowdhury, yang merupakan seorang guru di sekolah tersebut, meninggal dunia di rumah sakit akibat luka bakar parah yang dideritanya saat berusaha menyelamatkan para murid.
“Bangunan tempat kecelakaan itu terjadi hanya memiliki satu pintu keluar. Bagaimana mungkin gedung yang menampung 800 hingga 900 siswa hanya memiliki satu pintu?” tambah Helal.
Helal bersama keluarga korban lainnya mendesak pemerintah segera membuka laporan investigasi secara penuh kepada publik.
Mereka juga meminta pemerintah memberikan dukungan yang lebih baik bagi para penyintas yang masih menjalani pengobatan serta menyalurkan kompensasi kepada korban selamat maupun keluarga korban meninggal. Rekomendasi tersebut sebenarnya sudah tercantum dalam laporan tim investigasi, tetapi hingga kini belum direalisasikan.
Menteri Kesehatan Bangladesh, Sardar Sakhawat Hossain, yang menghadiri acara tersebut pada Selasa, mengatakan pemerintah akan terus membantu para penyintas yang masih memerlukan perawatan medis.
Sementara itu, Zubaida Rahman, istri Perdana Menteri Tarique Rahman, memuji keberanian para penyintas dan menyebut mereka sebagai “sumber inspirasi bagi bangsa.”
Meski demikian, banyak siswa yang menghadiri acara peringatan pekan ini, dengan bekas luka bakar masih terlihat di tubuh mereka, mengaku masih berjuang menghadapi kenyataan baru dalam hidup.
Mehreen, siswi kelas lima, mengatakan dirinya sudah tidak mampu lagi bersekolah karena cedera yang dialaminya.
“Kalau terkena sedikit sinar matahari saja, seluruh tubuh saya terasa terbakar. Karena itu saya sudah tidak bersekolah lagi.”
Cedera yang dialaminya juga memengaruhi kualitas tidur dan kemampuan belajarnya.
“Dulu saya bisa menghafal sesuatu hanya dalam dua menit. Sekarang, menghafal satu baris saja bisa membutuhkan waktu dua jam.”
“Saya juga tidak bisa tidur pada malam hari. Kalaupun tertidur, saya sering bermimpi aneh. Sampai sekarang saya masih belum bisa melupakan kejadian itu.”
