Ribuan mahasiswa, orang tua, aktivis, dan pemimpin politik dijadwalkan menggelar aksi long march menuju Gedung Parlemen India setelah Partai Cockroach Janta (Cockroach Janta Party/CJP) menyerukan reformasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan.
Para demonstran telah berkumpul di lokasi aksi di New Delhi sejak Minggu waktu setempat. Aparat kepolisian dan pasukan paramiliter juga dikerahkan dalam jumlah besar untuk mengamankan jalannya demonstrasi.
Ketegangan memuncak pada Sabtu ketika aktivis sekaligus pendidik Sonam Wangchuk, yang telah memasuki hari ke-21 mogok makan sebagai bentuk dukungan terhadap perjuangan CJP, dibawa paksa ke rumah sakit. Hingga kini ia masih melanjutkan aksi mogok makannya dari rumah sakit.
Didirikan oleh Abhijeet Dipke, CJP muncul pada Mei lalu sebagai gerakan satir di media daring untuk memprotes kebocoran soal ujian dan berbagai dugaan kecurangan dalam sistem evaluasi pendidikan. Dalam waktu singkat, gerakan tersebut berhasil menarik dukungan luas dari masyarakat.
Para peserta aksi menyebut diri mereka sebagai “kecoak” (cockroaches). Selama sebulan terakhir mereka menduduki kawasan Jantar Mantar, observatorium berusia sekitar 300 tahun di New Delhi, sebagai pusat demonstrasi. Sejumlah organisasi mahasiswa juga bergabung dengan Wangchuk dalam aksi mogok makan.
Aksi mogok makan Wangchuk di tengah suhu musim panas New Delhi yang menyengat menyita perhatian publik. Selama berpuasa, ia hanya mengonsumsi garam dan air. Berat badannya turun lebih dari 9 kilogram dan kondisinya dilaporkan mengalami kesakitan.
Meski kondisi fisiknya terus menurun, Wangchuk sebelumnya bertekad tetap ikut dalam long march menuju parlemen. Bahkan, ia sempat berkelakar kepada para pendukungnya bahwa jika dirinya meninggal, arwahnya akan tetap ikut berdemo.
Namun, situasi berubah drastis pada Sabtu sekitar pukul 07.30 waktu setempat ketika puluhan polisi dan personel paramiliter mendatangi panggung tempat Wangchuk berbaring. Para demonstran yang berusaha menghalangi petugas didorong menjauh.
Petugas kemudian menutupi tubuh Wangchuk dengan kain seprai sebelum mengangkatnya dari panggung. Ia dibawa menggunakan ambulans ke Rumah Sakit Safdarjung, rumah sakit milik pemerintah.
Istri Wangchuk, Gitanjali Angmo, mengatakan suaminya masih melanjutkan aksi mogok makan di rumah sakit dan tetap menolak makanan maupun minuman.
Pada Minggu, Angmo menyatakan bahwa Wangchuk bersedia mengakhiri aksi mogok makannya apabila para pemimpin politik datang menemuinya di rumah sakit dan memberikan jaminan bahwa isu akuntabilitas pendidikan akan menjadi agenda utama dalam sidang parlemen.
Meski Wangchuk tidak dapat mengikuti aksi, Abhijeet Dipke menegaskan long march pada Senin tetap akan dilaksanakan sesuai rencana.
“Kalau mereka mengira membawa Wangchuk pergi akan mengakhiri gerakan ini, mereka keliru. Kami akan tetap bertahan di sini dan akan berjalan menuju parlemen pada 20 Juli,” ujarnya.
Dipke juga memulai aksi mogok makan tanpa batas sejak Sabtu sebagai pengganti Wangchuk.
Ribuan orang telah menyatakan akan bergabung dalam aksi tersebut sebagai bentuk solidaritas terhadap para demonstran.
Aksi CJP berfokus pada tuntutan pembatalan sejumlah ujian penting yang diduga diwarnai kebocoran soal.
Pada awal Mei, ujian masuk fakultas kedokteran yang diikuti sekitar 2,28 juta peserta dibatalkan setelah muncul dugaan kebocoran soal. Ujian ulang kemudian digelar pada 21 Juni, tetapi menurut keluarga para korban, lebih dari 20 mahasiswa meninggal dunia akibat bunuh diri setelah kasus tersebut.
Salah satu tuntutan utama demonstran adalah agar Menteri Pendidikan India, Dharmendra Pradhan, mengundurkan diri. Mereka menilai Pradhan harus bertanggung jawab secara moral atas berbagai kasus kebocoran soal yang terjadi.
Pradhan menepis tuntutan tersebut dan menyebut CJP beserta para pendukungnya sebagai “tim B dari kelompok-kelompok yang bertujuan menciptakan kekacauan”. Hingga kini, pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi belum melakukan dialog dengan para demonstran.
Setelah insiden pembawaan paksa Wangchuk ke rumah sakit pada Sabtu, CJP memperluas tuntutannya dengan mendesak Narendra Modi ikut mengundurkan diri.
“Sebelumnya kami hanya menuntut pengunduran diri Dharmendra Pradhan. Namun setelah tindakan yang sangat memalukan ini, kini kami juga akan menuntut pengunduran diri Narendra Modi,” kata Dipke.
Anggota parlemen dari sejumlah partai oposisi mengecam tindakan aparat terhadap Wangchuk. Mereka menyebutnya sebagai “kekerasan koersif negara yang mengejutkan” sekaligus “serangan terhadap demokrasi”.
Dalam beberapa hari terakhir, tekanan dari partai-partai oposisi dan tokoh masyarakat sipil terhadap pemerintah terus meningkat agar segera membuka dialog dengan para demonstran.
Sejumlah tokoh telah mengunjungi Wangchuk selama menjalani mogok makan dan menyatakan bahwa tuntutan para demonstran memiliki dasar yang sah. Mereka mendesak pemerintah untuk berdialog secara langsung guna memahami berbagai persoalan yang diangkat dalam aksi tersebut.
