Penjabat Jaksa Agung Amerika Serikat, Todd Blanche, menghadapi sidang konfirmasi yang berlangsung sengit di Capitol Hill ketika berupaya memperoleh persetujuan untuk secara permanen memimpin Departemen Kehakiman AS.
Dalam sidang tersebut, Blanche mendapat pertanyaan dari anggota Senat dari Partai Republik maupun Demokrat mengenai hubungannya dengan Presiden Donald Trump, penanganan dokumen kasus Jeffrey Epstein, serta kesepakatan kontroversial antara Trump dan Internal Revenue Service (IRS) atau otoritas pajak Amerika Serikat yang dibatalkan hakim federal pekan ini.
Blanche memimpin Departemen Kehakiman untuk sementara setelah Trump mencopot Jaksa Agung sebelumnya, Pam Bondi, di tengah kontroversi politik terkait proses pembukaan dokumen kasus Epstein.
Berikut sejumlah momen penting dalam sidang konfirmasi tersebut.
Ditanya Apakah Berteman dengan Donald Trump
Menjelang sidang, Blanche menghadapi sorotan mengenai kemampuannya menjaga independensi dari Trump, yang pada masa jabatan keduanya berulang kali menyatakan akan melakukan “pembalasan” terhadap lawan-lawan politiknya.
Trump juga diketahui mendorong Departemen Kehakiman untuk menindak sejumlah pengkritiknya, termasuk mantan Direktur FBI James Comey dan Jaksa Agung Negara Bagian New York Letitia James.
Sebelum menjabat di pemerintahan, Blanche merupakan pengacara pribadi Trump dalam tiga dari empat perkara pidana besar yang dihadapi presiden tersebut menjelang Pemilu AS 2024. Ia juga memimpin tim pembela Trump dalam persidangan pidana di New York.
Senator Partai Republik dari Louisiana, John Kennedy, menanyakan secara langsung apakah Blanche merupakan “teman” Trump.
“Saya adalah pengacaranya, dulu pengacaranya. Sekarang saya menjabat sebagai Wakil Jaksa Agung,” jawab Blanche.
“Saya mengenalnya sebagai pengacara pembela pidananya. Saya rasa tidak banyak orang yang menyebut pengacara pidananya sebagai teman,” tambahnya.
Dana “Anti-Penyalahgunaan Kekuasaan” Jadi Sorotan
Sehari sebelum sidang konfirmasi berlangsung, seorang hakim federal membatalkan kesepakatan antara Trump, keluarga serta perusahaannya dengan IRS.
Kesepakatan itu mencakup kekebalan dari pemeriksaan pajak di masa mendatang serta pembentukan dana senilai US$1,7 miliar (sekitar Rp27,7 triliun) yang disebut sebagai anti-weaponisation fund atau dana anti-penyalahgunaan kekuasaan bagi mereka yang merasa menjadi sasaran perlakuan tidak adil pemerintah.
Kesepakatan tersebut memicu kritik dari anggota Kongres lintas partai.
Senator Republik Mike Lee meminta Blanche memastikan bahwa dana tersebut benar-benar tidak akan direalisasikan.
“Anda tidak memiliki alasan untuk meyakini bahwa dana yang disebut dana anti-penyalahgunaan kekuasaan itu akan tetap berjalan setelah kesepakatan tersebut dibatalkan, benar?” tanya Lee.
“Saya yakin dana itu tidak akan berjalan,” jawab Blanche.
Senator Republik lainnya, Thom Tillis, juga menegaskan bahwa dana tersebut “tidak boleh pernah dicairkan” dan meminta pemerintah mengeluarkan pernyataan resmi yang menyatakan program itu telah dibatalkan sepenuhnya.
Blanche Minta Maaf atas “Kesalahan” Penanganan Dokumen Epstein
Kasus dokumen Jeffrey Epstein menjadi isu terbesar yang dihadapi Departemen Kehakiman sejak Trump kembali menjabat sebagai presiden.
Setelah mendapat tekanan publik, Kongres mewajibkan Departemen Kehakiman membuka jutaan dokumen terkait penyelidikan terhadap Jeffrey Epstein, pelaku kejahatan seksual yang telah meninggal dunia.
Namun, lambatnya proses publikasi serta banyaknya bagian dokumen yang disensor memicu kritik dari anggota parlemen maupun para penyintas.
Sekitar belasan perempuan menghadiri sidang dengan mengenakan kaus bergambar salinan dokumen Epstein yang telah disunting sebagai bentuk protes.
Ketua Komite Kehakiman Senat dari Partai Republik, Chuck Grassley, mempertanyakan banyaknya penyensoran, kurangnya tindak lanjut terhadap petunjuk penyelidikan, penolakan bertemu para korban, hingga keputusan memindahkan Ghislaine Maxwell ke penjara dengan tingkat keamanan lebih rendah.
Blanche menjelaskan bahwa proses menyunting dan menerbitkan sekitar enam juta halaman dokumen dalam waktu singkat merupakan pekerjaan yang “sangat besar”.
“Ada kesalahan yang memang terjadi. Sekitar satu persen dari penyensoran dokumen harus diperbaiki. Kami menugaskan puluhan pengacara untuk mengerjakannya,” ujarnya.
Ketika Senator Demokrat Richard Blumenthal bertanya apakah ia bersedia meminta maaf kepada para korban Epstein atas kesalahan tersebut, Blanche menjawab tegas.
“Saya benar-benar mengatakan bahwa kesalahan apa pun yang kami lakukan seharusnya tidak terjadi. Dan saya sungguh, sungguh meminta maaf,” katanya.
Tegaskan Trump Tidak Bisa Maju untuk Masa Jabatan Ketiga
Senator Demokrat Chris Coons juga meminta Blanche memberikan pandangannya mengenai kemungkinan Trump kembali mencalonkan diri pada Pemilu Presiden 2028, meskipun Konstitusi Amerika Serikat membatasi masa jabatan presiden maksimal dua periode.
“Apakah Presiden Trump memenuhi syarat secara konstitusional untuk mencalonkan diri lagi pada 2028?” tanya Coons.
“Saya tidak percaya beliau memenuhi syarat,” jawab Blanche.
Trump sendiri pernah mengatakan bahwa ia “akan senang” jika dapat menjabat untuk periode ketiga, meskipun kemudian mengesampingkan kemungkinan mencalonkan diri sebagai wakil presiden untuk menghindari pembatasan konstitusi.
Trump juga sempat memuji Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio sebagai tokoh yang berpotensi menjadi calon presiden dari Partai Republik pada masa mendatang.
Sidang Berlangsung Memanas
Sebagian besar pertanyaan dijawab Blanche dengan pendekatan yang teknis dan bernuansa hukum. Namun, dalam beberapa kesempatan ia menunjukkan gaya konfrontatif yang mengingatkan pada perannya sebagai pengacara pembela Trump.
Saat Senator Demokrat Sheldon Whitehouse mempertanyakan kelayakan Direktur FBI Kash Patel memimpin biro tersebut, Blanche menanggapi dengan nada keras.
“Itu pertanyaan yang luar biasa tidak pantas, Senator,” katanya.
Ketegangan kembali muncul ketika Senator Demokrat Cory Booker mengajukan serangkaian pertanyaan cepat mengenai usulan merger antara dua perusahaan media besar, Paramount dan Warner Bros. Discovery.
Saat Booker langsung menyela sebelum Blanche selesai menjawab, Blanche bereaksi.
“Anda bahkan tidak memberi saya kesempatan untuk menjawab, Bung,” ujarnya.
Dukungan Senat Belum Sepenuhnya Aman
Untuk memperoleh jabatan Jaksa Agung secara permanen, Blanche memerlukan dukungan seluruh anggota Partai Republik di Komite Kehakiman Senat.
Namun, Senator Republik John Cornyn dari Texas hingga kini belum memastikan dukungannya.
Setelah sidang, Cornyn mengatakan bahwa dirinya “masih memiliki beberapa kekhawatiran” dan belum akan mengambil keputusan.
Sementara itu, Thom Tillis, yang sebelumnya dianggap sebagai salah satu suara Republik yang belum pasti, mengisyaratkan kemungkinan akan mendukung Blanche setelah memperoleh kepastian bahwa dana anti-weaponisation fund tidak akan dilanjutkan.
Selanjutnya, Komite Kehakiman Senat akan melakukan pemungutan suara untuk menentukan apakah pencalonan Blanche diteruskan ke sidang pleno Senat.
Apabila lolos, seluruh anggota Senat akan memberikan suara untuk memutuskan apakah Todd Blanche resmi dikukuhkan sebagai Jaksa Agung Amerika Serikat atau tidak.
