Selama bertahun-tahun, parade Hari Kemenangan Rusia menjadi simbol kekuatan dan superioritas militer negara itu, dengan pertunjukan besar alat utama sistem persenjataan berat serta deretan pemimpin dunia yang hadir sebagai tamu kehormatan.
Namun tahun ini, situasinya akan terlihat sangat berbeda. Presiden Rusia Vladimir Putin akan menggelar parade berskala lebih kecil di Lapangan Merah, tanpa menampilkan persenjataan militer apa pun akibat “situasi operasional saat ini,” menurut Kementerian Pertahanan Rusia. Jumlah pemimpin asing yang hadir juga lebih sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya, sementara sebagian besar media internasional kini harus mengandalkan tayangan media pemerintah Rusia untuk meliput acara tersebut.
Sebagai tanda meningkatnya kekhawatiran keamanan di Kremlin, banyak jurnalis internasional diberitahu bahwa mereka tidak dapat menghadiri parade yang memperingati kemenangan Uni Soviet atas Nazi Jerman dalam Perang Dunia II itu.
“Putin suka terlihat memegang kendali dan ingin negara Rusia tampak kuat, dan itu bukan pesan yang disampaikan situasi ini. Ini mengirimkan pesan yang biasanya tidak ingin ia tunjukkan,” kata Sam Greene, profesor politik Rusia di King’s College London. Ia menilai kondisi tersebut “tidak biasa” bagi pemimpin Rusia itu.
Tahun ini, Kremlin tampaknya lebih memprioritaskan keamanan dibanding pertunjukan kekuatan militer tradisional. Parade digelar di tengah meningkatnya serangan Ukraina jauh ke wilayah Rusia, terutama terhadap kilang minyak. Dalam serangan yang lebih bersifat simbolis karena tidak menimbulkan korban jiwa, sebuah drone menghantam gedung apartemen bertingkat tinggi di kawasan elite Moskow bagian barat-tengah pada Senin lalu. Insiden itu turut memicu pengetatan pengamanan.
Pada Jumat, sehari sebelum parade, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa Rusia dan Ukraina telah menyepakati gencatan senjata selama tiga hari pada 9-11 Mei, yang mencakup penghentian pertempuran serta pertukaran tahanan skala besar. Kabar tersebut dikonfirmasi baik oleh Kremlin maupun Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Zelensky mengatakan pertukaran tahanan akan dilakukan “dalam format 1.000 banding 1.000.”
“Lapangan Merah kurang penting bagi kami dibanding nyawa para tahanan Ukraina yang bisa dipulangkan,” ujar Zelensky.
Meski begitu, isu keamanan tetap menjadi perhatian utama. Di tengah dekorasi tradisional berwarna merah, putih, dan biru khas bendera Rusia yang menghiasi jalan-jalan Moskow, serta pita hitam-oranye St. George — simbol militer Rusia — yang banyak terlihat di etalase toko, sistem pertahanan udara juga tampak ditempatkan di berbagai titik sekitar ibu kota.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov pada Jumat membantah bahwa akreditasi jurnalis internasional dicabut. Ia mengatakan jumlah jurnalis yang diizinkan hadir memang dibatasi karena format parade tahun ini diperkecil.
“Tahun ini, karena keseluruhan upacara agak dibatasi, jumlah jurnalis yang diizinkan hadir juga dibatasi,” kata Peskov. Ia menambahkan, “tidak ada satu pun kasus pencabutan akreditasi.”
Namun demikian, sejumlah jurnalis internasional, yang sebelumnya telah memperoleh akreditasi untuk menghadiri parade, diberitahu oleh Kremlin pada Kamis bahwa mereka tidak lagi dapat meliput langsung acara tersebut. hanya diberi tahu bahwa “penyiar tuan rumah” yang akan menghadiri perayaan tahun ini.
Berbeda dengan peringatan tahun 2025 yang menghadirkan Presiden China Xi Jinping sebagai tamu kehormatan bersama puluhan pemimpin dunia lainnya, daftar undangan tahun ini juga jauh lebih terbatas. Sekutu utama Putin, Presiden Belarus Alexander Lukashenko, Raja Malaysia Sultan Ibrahim Iskandar, dan Presiden Laos Thongloun Sisoulith dijadwalkan hadir. Sementara Perdana Menteri Slovakia Robert Fico, yang berasal dari negara anggota NATO dan Uni Eropa, akan berada di Moskow untuk pertemuan bilateral dengan Putin, tetapi menyatakan tidak akan menghadiri parade.
Parade yang dipangkas itu berlangsung di tengah meningkatnya kekhawatiran di Rusia terkait perlambatan ekonomi dan pembatasan internet yang semakin ketat hingga mengganggu kehidupan sehari-hari. Meski demikian, Putin menyebut langkah tersebut diperlukan demi keselamatan publik.
Pada Jumat, salah satu operator telekomunikasi terbesar Rusia memperingatkan warga Moskow bahwa mereka mungkin menghadapi pembatasan internet seluler dan layanan pesan singkat di sekitar ibu kota “untuk memastikan keamanan selama acara perayaan,” menurut pesan yang dilihat
Suasana di kalangan warga Moskow juga tampak lebih suram. Mikhail, yang hanya menyebut nama depannya, mengatakan bahwa perang sudah seharusnya diakhiri.
“Sudah waktunya,” katanya. Ia menambahkan, “Orang-orang meninggal, keuangan habis, dan berbagai pembatasan terus diberlakukan. Jelas ini tidak menyenangkan. Perang tidak pernah baik.”
Nina Khrushcheva, profesor hubungan internasional di New School yang baru-baru ini dicap sebagai agen asing oleh otoritas Rusia, mengatakan bahwa Putin dan aparat keamanan kemungkinan terguncang oleh berbagai peristiwa internasional terbaru, ditambah rentetan drone Ukraina yang terus memasuki wilayah Rusia.
“Ada paranoia di setiap sudut,” ujarnya. “Putin benar-benar terguncang melihat apa yang terjadi pada kepemimpinan di Iran, Venezuela, bahkan penembakan yang menargetkan Presiden AS Donald Trump. Ditambah lagi, ada ratusan drone yang diluncurkan Ukraina setiap hari.”
Sebelumnya pada Jumat, Ukraina dan Rusia saling menuduh melanggar gencatan senjata yang telah diumumkan menjelang perayaan Hari Kemenangan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia bahkan mengeluarkan peringatan keras kepada misi diplomatik untuk mengevakuasi staf mereka dari Kyiv apabila pemerintah Ukraina menyerang perayaan Hari Kemenangan 9 Mei, yang dapat memicu serangan besar-besaran dari Moskow. Namun, setelah pengumuman gencatan senjata oleh Trump, serangan balasan kini tampak kecil kemungkinan terjadi. Dalam apa yang dianggap sebagai sindiran tajam terhadap Kremlin, Zelensky mengeluarkan dekret yang “mengizinkan” parade di Moskow tetap berlangsung.
Galina, warga Novoazovsk di Donbas yang diduduki Rusia, sedang berada di Moskow bersama suaminya untuk berwisata. ia mengatakan telah merasakan dampak perang sejak 2014 — setelah aneksasi Crimea oleh Rusia dan pecahnya perang antara separatis pro-Rusia dan pasukan Ukraina.
Meski mengenakan pita St. George, Galina mengaku berharap perang segera berakhir.
“Yang menderita adalah rakyat,” katanya, seraya menambahkan, “perang buruk bagi semua orang.”
