David Attenborough, yang kini berusia 100 tahun, dikenal sebagai suara tenang dan tepercaya bagi dunia alam.
Namun perjalanan kariernya selama 70 tahun memperlihatkan sosok penyiar yang berulang kali mengambil risiko, mendukung teknologi baru, dan menjelajahi tempat-tempat terpencil yang sering kali berbahaya.
Dari peluncuran televisi berwarna hingga penyelaman pemecah rekor di Great Barrier Reef pada usia 89 tahun, ia terus mencari cara baru untuk memperlihatkan planet ini beserta penghuninya.
Melalui rekaman dan foto-foto langka, kisah ini menelusuri berbagai terobosan penyiaran yang membantu mengubah pemahaman manusia tentang kehidupan di Bumi.
Kini, ia dikenal sebagai naturalis paling dihormati di dunia.
Namun rasa ingin tahunya telah membentuk cara baru dalam bercerita selama puluhan tahun.
Sebelum menerima berbagai penghargaan, ia hanyalah produser muda yang sedang mencari jalannya sendiri. Dari sanalah semuanya bermula.
Alam liar masuk ke rumah-rumah manusia
David Attenborough muda mulai merasa bosan dengan pekerjaannya menyunting buku sains anak-anak ketika ia memutuskan melamar pekerjaan di radio BBC.
Lamarannya ditolak, tetapi beberapa minggu kemudian ia menerima surat yang menanyakan apakah dirinya tertarik bekerja di layanan televisi baru
Awalnya ia ragu dan khawatir meninggalkan pekerjaan tetap demi kontrak tiga bulan, terutama karena harus menghidupi keluarga. Namun akhirnya ia diyakinkan untuk bergabung sebagai produser untuk berbagai program faktual.
Program-program pada masa itu hampir seluruhnya disiarkan langsung. Namun Attenborough segera melahirkan ide revolusioner bernama Zoo Quest: serial pertama yang menggabungkan presentasi studio langsung dengan rekaman sejarah alam yang diambil langsung di lapangan.
Attenborough sendiri ikut dalam ekspedisi mencari hewan langka di alam liar dan membawanya kembali ke Kebun Binatang London — sesuatu yang ia akui tidak akan lagi dilakukan saat ini.
“Saat pertama kali melihat fauna hutan hujan Afrika, kelimpahannya benar-benar luar biasa dan menakjubkan,” katanya.
“Dulu kami menganggap dunia alam sehat dan penuh hewan. Jika seekor hewan mati di kebun binatang, Anda tinggal keluar dan mencari yang baru. Sekarang tentu tidak lagi seperti itu.”
Perjalanan-perjalanan tersebut juga menjadi kesempatan pertamanya menjelajahi keajaiban alam — tanda awal dari puluhan tahun petualangan keliling dunia yang akan datang.
Attenborough dan timnya menjadi orang pertama yang merekam burung langka seperti white-necked rockfowl dan komodo, kadal raksasa yang saat itu nyaris belum pernah dilihat orang non-pribumi.
Revolusi televisi berwarna
Attenborough bahkan belum memiliki televisi ketika bergabung dengan BBC pada 1952. Namun dalam waktu kurang dari 15 tahun, ia menjadi pengendali BBC Two — satu dari hanya tiga saluran televisi di Inggris saat itu.
Dalam wawancaranya di program radio Desert Island Discs, ia mengenang kesempatan tersebut.
“Rasanya luar biasa ketika diberi tahu: ‘Ini ada beberapa juta poundsterling. Anda pasti bisa memikirkan beberapa program, bukan?’”
Salah satu pencapaian awalnya adalah meluncurkan televisi berwarna.
“Saya sangat ingin kami menjadi yang pertama di Eropa — dan pesaing kami saat itu adalah Jerman,” ujarnya.
Sebuah revolusi penyiaran pun dimulai.
“Kami memulainya saat Wimbledon berlangsung, dan hanya dengan empat kamera warna kami bisa mengatakan: ‘Kami telah memulai siaran berwarna.’ Orang-orang Jerman sangat marah.”
Dua tahun kemudian, pada 1969, Attenborough memanfaatkan teknologi definisi tinggi baru lewat program yang bertujuan “menemukan hal-hal paling indah yang diciptakan peradaban selama 2.000 tahun terakhir dan menampilkannya di layar”.
Program tersebut adalah serial monumental Civilisation yang ditulis dan dipandu sejarawan seni Kenneth Clark. Acara itu menjadi dokumenter beranggaran besar pertama dalam format baru dan menetapkan standar bagi penyiar di seluruh dunia.
Tak lama kemudian hadir serial besar lain, The Ascent of Man, di mana Jacob Bronowski menelusuri sejarah pemikiran ilmiah dan penemuan manusia.
Kembali di depan kamera
“Saya adalah orang program. Itu yang saya nikmati,” kata Attenborough setelah meninggalkan jabatan eksekutifnya dan menjadi pekerja lepas.
Gagasan membuat serial seperti Civilisation tetapi tentang dunia alam sebenarnya sudah lama ada di pikirannya.
Pada 1997 ia berkata: “Jika seseorang datang kepada saya ketika saya masih di BBC Two atau sebagai direktur program dan berkata: ‘Kami punya ide hebat — bagaimana kalau membuat survei dunia alam?’, tidak mungkin saya mengatakan tidak.”
Beruntung baginya, tidak ada orang lain yang memunculkan ide tersebut sehingga ia bisa mengembangkannya sendiri. Proses pengambilan gambar berlangsung selama empat tahun. Hasilnya adalah Life on Earth.
Serial itu direkam di lebih dari 100 lokasi dan mengeksplorasi bagaimana evolusi membentuk keajaiban dunia alam.
Setiap episodenya menggunakan beragam ekosistem untuk menunjukkan bagaimana hewan beradaptasi dengan lingkungannya.
Skala produksinya belum pernah terjadi sebelumnya, dengan serial tersebut menjadi dokumenter alam pertama yang menelan biaya lebih dari £1 juta.
Setelah debutnya pada 1979, kesuksesan serial itu membuka jalan bagi generasi baru program dokumenter alam berskala besar.
Serial tersebut juga menghadirkan salah satu momen televisi paling ikonik ketika Attenborough didekati dengan rasa ingin tahu oleh sekelompok gorila gunung di Rwanda.
“Pertemuan saya dengan gorila terasa berlangsung selamanya. Saya seperti berada di surga dan kehilangan seluruh rasa waktu,” katanya.
Serial lanjutan seperti The Living Planet dan The Blue Planet kemudian menyusul, membentuk ensiklopedia lengkap dunia alam.
Secara bersamaan, ia menjadi suara utama sejarah alam BBC dengan mengisi narasi lebih dari 300 episode untuk program seperti Wildlife on One dan Natural World.
Mendorong batas untuk generasi baru
Sepanjang kariernya, Attenborough memanfaatkan teknologi baru untuk menampilkan kompleksitas alam secara lebih rinci.
Dalam The Blue Planet pada 2001 — yang dianggap sebagai serial komprehensif pertama tentang lautan dunia — kamera cahaya rendah berhasil memperlihatkan makhluk laut dalam yang belum pernah terlihat sebelumnya, seperti gurita Dumbo dan hairy anglerfish.
Planet Earth pada 2006 menjadi dokumenter alam termahal yang pernah diproduksi BBC dan serial satwa liar BBC pertama yang direkam dalam definisi tinggi.
Menggunakan penyangga kamera stabilisasi kelas militer, kru mampu merekam dari helikopter di ketinggian tinggi untuk menangkap skala migrasi dan perburuan hewan tanpa mengganggu mereka.
Attenborough juga menjadi satu-satunya orang yang memenangkan penghargaan British Academy Television Awards untuk program hitam-putih, berwarna, definisi tinggi, 3D, hingga 4K.
Didorong ambisi teknis, ia melakukan penyelaman menggunakan kapal selam mini sedalam 1.000 kaki atau sekitar 300 meter di Great Barrier Reef pada 2015. Pada usia 89 tahun, ia menjadi orang tertua yang mencapai kedalaman tersebut.
Penyelaman itu direkam untuk serial televisi baru dan pengalaman realitas virtual yang dikembangkan bersama Natural History Museum.
Karya Attenborough kini mencakup hampir seluruh perubahan teknologi besar dalam sejarah penyiaran, termasuk VR, yang kembali memberinya penghargaan Bafta.
Namanya diabadikan dalam dunia sains
Pada 1990-an, setelah empat dekade berkarya, pengaruh Attenborough menjadi bagian penting komunitas ilmiah.
“Saya sering datang ke departemen zoologi dan universitas di seluruh dunia, lalu profesor-profesor berkata kepada saya: ‘Saya mendapat jabatan profesor ini karena menonton Life on Earth,’” kenangnya.
Lebih dari 50 spesies — mulai dari katak, kumbang, tanaman karnivora hingga kupu-kupu tropis — kini menggunakan namanya dalam klasifikasi ilmiah resmi.
Penghormatan itu termasuk fosil “burung aneh” dari China dan, terbaru, jamur yang dinamai menurut dirinya pada 2025.
Spesies pertama yang menggunakan namanya ditemukan pada 1993: fosil reptil laut yang ditemukan di Jurassic Coast, Inggris.
“Itu sangat istimewa bagi saya,” katanya.
“Ada cukup banyak spesies attenboroughi, dan itu menyenangkan. Tapi jika sebuah genus dinamai menggunakan nama Anda, itu benar-benar sesuatu yang berbeda.”
Menjadi suara bagi penyelamatan alam
Meski sepanjang hidupnya mendukung konservasi, baru setelah memasuki milenium baru dokumenter-dokumenternya mulai secara langsung membahas dampak manusia terhadap lingkungan — yang pada akhirnya berubah menjadi seruan mendesak terkait perubahan iklim.
Pada 2006, Attenborough membawakan dua dokumenter untuk musim Climate Chaos milik BBC, menandai perubahan sikap publiknya.
“Saya dulu skeptis terhadap perubahan iklim. Saya berhati-hati agar tidak terlalu cepat membunyikan alarm,” katanya saat peluncuran program.
“Tapi sekarang saya tidak lagi skeptis. Saya sama sekali tidak ragu. Saya pikir perubahan iklim adalah tantangan terbesar yang dihadapi dunia.”
Pada 2019, di usia 93 tahun, Attenborough membawa pesan lingkungannya ke ekosistem baru lainnya: Glastonbury Festival.
Setelah festival itu melarang plastik sekali pakai, ia merasakan momen bak bintang rock pertamanya di Pyramid Stage, berbicara di hadapan lebih dari 100.000 penonton yang memujanya.
Bagi sebagian besar orang, Attenborough telah menjadi sosok yang selalu hadir — diam-diam, dan terkadang dengan suara lantang, memperjuangkan dunia alam.
Baik berbicara kepada lautan penonton festival, auditorium berisi politisi internasional, maupun seorang bocah berusia empat tahun bernama Otis, ia terus mengingatkan manusia untuk bertanggung jawab dan meyakinkan bahwa belum terlambat untuk membuat perubahan.
Dalam surat kepada Attenborough, Otis bertanya apakah manusia suatu hari nanti akan punah seperti dinosaurus.
Attenborough menjawab:
“Kita tidak harus punah, selama kita menjaga planet ini dengan baik.”
