Serangan udara Israel di Jalur Gaza menewaskan sedikitnya delapan orang, termasuk seorang anak berusia empat tahun, menurut laporan sejumlah rumah sakit setempat. Serangan tersebut terjadi meskipun gencatan senjata telah diberlakukan sejak setahun lalu.
Di Gaza City, wilayah utara Jalur Gaza, pejabat rumah sakit mengatakan sebuah rudal menghantam sekelompok warga sipil di dekat Sekolah Kairo, kawasan Al-Rimal. Serangan itu menewaskan tiga orang, termasuk seorang anak laki-laki berusia empat tahun.
Sementara itu, di Khan Younis, wilayah selatan Gaza, Kementerian Dalam Negeri yang dikelola Hamas menyatakan sebuah serangan drone menargetkan sekelompok petugas kepolisian di kawasan Al-Mawasi. Lima polisi tewas ketika sedang menjalankan tugas rutin mereka.
Militer Israel mengatakan telah melancarkan dua serangan terhadap pihak-pihak yang disebutnya sebagai personel militer. Namun, militer belum memberikan bukti maupun informasi lebih lanjut mengenai operasi tersebut.
Rekaman video di luar Rumah Sakit Shifa di Gaza City memperlihatkan sekelompok pria berkumpul untuk berdoa di samping dua kantong jenazah dan tubuh kecil seorang anak yang dibungkus handuk putih.
“Putra saya dan anaknya telah gugur. Mereka sedang duduk di dalam tenda, tidak mengganggu siapa pun, dan tidak ada kejadian apa pun di sekitar lokasi ketika tiba-tiba sebuah rudal menghantam mereka hingga keduanya gugur,” kata Ali Oweis kepada kantor berita AFP.
“Tidak ada gencatan senjata. Perang masih berlangsung, tidakkah kalian melihatnya?” ujarnya.
Di Rumah Sakit Nasser, Khan Younis, rekaman video memperlihatkan sejumlah perempuan menangis dan berduka ketika kantong-kantong jenazah tergeletak di lantai.
Kementerian Dalam Negeri Gaza mengumumkan identitas lima petugas kepolisian yang tewas. Mereka berusia antara 23 hingga 53 tahun. Kementerian tersebut menyebut serangan itu sebagai “pembantaian yang mengerikan”.
Gencatan senjata di Gaza mulai berlaku pada Oktober tahun lalu. Namun, serangan udara Israel dilaporkan terus berlangsung hampir setiap hari.
Sejak gencatan senjata diberlakukan, sebanyak 1.580 orang dilaporkan tewas, menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas. Data kementerian tersebut dinilai dapat diandalkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Israel menyatakan serangan-serangannya menargetkan Hamas. Namun, warga sipil kerap ikut menjadi korban dalam operasi militer tersebut.
Sementara itu, rencana perdamaian untuk Gaza yang dimediasi pemerintahan Presiden AS Donald Trump masih mengalami kebuntuan.
Kesepakatan gencatan senjata tersebut sebelumnya mencakup pembebasan ribuan warga Palestina yang ditahan Israel sebagai imbalan atas pembebasan seluruh 48 sandera yang masih ditahan di Gaza, serta kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Konflik tersebut bermula dari serangan yang dipimpin Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023. Serangan itu menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyebabkan 251 orang lainnya disandera.
Sejak perang dimulai, sebanyak 74.594 orang telah tewas di Jalur Gaza, menurut data Kementerian Kesehatan wilayah tersebut.
