Sebuah restoran berbintang dua Michelin di Seoul, Korea Selatan, didenda karena menggunakan semut sebagai hiasan pada hidangan penutup.
Pemilik Evett di ibu kota Korea Selatan tersebut didenda 15 juta won (sekitar £8.144 atau US$10.965), sementara perusahaan yang mengoperasikan restoran itu didenda 10 juta won karena melanggar Undang-Undang Sanitasi Makanan, menurut laporan media setempat.
Semut tidak termasuk dalam 10 spesies serangga yang disetujui untuk dikonsumsi manusia di Korea Selatan. Daftar tersebut mencakup belalang, belalang sembah tertentu, serta beberapa jenis ulat sutra.
Jaksa sebelumnya menuntut hukuman penjara satu tahun bagi pemilik restoran serta denda 20 juta won. Namun, hakim mempertimbangkan pengakuan pemilik atas dakwaan tersebut dan fakta bahwa ia tidak memiliki catatan kriminal sebelumnya.
Meski demikian, hakim dilaporkan mengatakan bahwa selain melanggar standar keamanan pangan, pengujian terhadap semut tersebut juga menemukan kandungan logam berat yang melebihi batas standar. Karena itu, hakim menilai “tingkat kesalahannya tidak ringan”.
Pemilik restoran disebut tidak mengetahui bahwa menyajikan semut sebagai makanan dilarang di Korea Selatan karena serangga tersebut dikonsumsi sebagai makanan di sejumlah negara lain.
Penggunaan semut sebagai topping sorbet di Evett terungkap setelah Kementerian Keamanan Pangan dan Obat-obatan Korea Selatan menemukan ulasan daring yang disertai foto.
Kementerian tersebut mengatakan pemilik restoran menaburkan tiga hingga lima ekor semut pada hidangan tertentu untuk memberikan “rasa asam”, selama hampir empat tahun. Jumlahnya mencapai sekitar 49.000 ekor semut yang digunakan sebagai hiasan hidangan.
Sebagian besar semut tersebut diimpor dari Amerika Serikat, sementara sebagian lainnya berasal dari Thailand, kata kementerian.
Pemilik restoran beralasan bahwa semut hanya digunakan pada “bagian kecil” dari menu 15 hidangan yang disajikan restoran. Para pelanggan juga diberi tahu bahwa mereka dapat memilih topping alternatif tanpa semut.
Semut dikonsumsi dan bahkan dianggap sebagai hidangan istimewa dalam sejumlah budaya di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Semut rangrang beserta telurnya digunakan dalam masakan Thailand dan Kamboja, sementara di Kolombia, semut ratu dihargai layaknya kaviar.
Menurut Michelin Guide, restoran bintang dua merupakan tempat yang menyajikan “masakan yang sangat baik” dan “layak dikunjungi meski harus memutar perjalanan”.
