Sedikitnya 21 orang tewas, termasuk delapan anak, setelah sebuah bangunan yang rusak akibat perang runtuh di Jalur Gaza pada Rabu dini hari, menurut petugas penyelamat dan tenaga medis.
Saksi mata mengatakan bahwa bangunan enam lantai di kawasan Tal al-Hawa, Kota Gaza, telah miring secara berbahaya ke satu sisi setelah terkena serangan Israel lebih dari setahun lalu. Mereka mengatakan keluarga-keluarga yang mengungsi tetap tinggal di dalam bangunan tersebut karena tidak memiliki pilihan lain.
Tim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Mesir turut membantu pencarian korban selamat, yang berlangsung lambat karena minimnya peralatan. Pada awalnya, petugas dari badan Pertahanan Sipil yang dikelola Hamas bahkan harus menggunakan tangan kosong.
Pada Rabu sore, mereka mengatakan operasi pencarian telah dihentikan setelah 45 orang yang terluka dibawa ke rumah sakit.
Sherif, yang saudara perempuannya tewas dalam kejadian tersebut, mengatakan, “Mereka tidak bisa menemukan tenda atau tempat untuk tinggal.
“Ini adalah tempat terakhir yang bisa mereka datangi meski berbahaya. Mereka sadar bahwa situasi ini kemungkinan besar akan berakhir dengan tragedi. Keterbatasan sumber daya mendorong mereka menuju kematian yang sudah pasti.”
Seorang perempuan yang tinggal di tenda di dekat lokasi, Umm Mohammed Bakrun, mengatakan dirinya sedang berbicara dengan putranya ketika bangunan tersebut tiba-tiba runtuh pada Rabu dini hari.
“Rasanya seperti gempa bumi. Terdengar suara keras dan saya tidak bisa berdiri. Batu-batu berjatuhan menimpa kami dan ketika saya melihat ke luar, saya melihat banyak debu,” katanya. “Dalam hitungan menit, terdengar teriakan di mana-mana.”
Saksi lainnya, Mansour Abu Mohammed, mengatakan bangunan tersebut runtuh “dalam beberapa detik”.
“Setiap hari, satu batu atau beberapa batu akan jatuh darinya, tetapi orang-orang yang tinggal di dalamnya tidak punya tempat lain untuk tinggal. Saya dulu tinggal di sebelah bangunan itu dan terlihat jelas bahwa bangunan tersebut miring ke satu sisi.”
Citra satelit menunjukkan kawasan di sekitar bangunan tersebut menjadi sasaran serangan pada pekan-pekan awal perang, sementara kerusakan pada bangunan itu sendiri mulai terlihat pada 2024.
Kepala kantor Program Pembangunan PBB (UNDP) di Gaza, Alessandro Mrakic, mengatakan kepada wartawan di lokasi pada Rabu pagi bahwa “situasinya… tragis karena kami tidak memiliki peralatan dan mesin yang dibutuhkan”.
Ia juga memperingatkan bahwa sekitar 400 bangunan lain yang rusak akibat perang di Gaza berada dalam risiko segera runtuh, terutama menjelang datangnya musim dingin.
“Kami membutuhkan dukungan, terutama dalam bentuk mesin dan peralatan. Rekan-rekan kami di sini tidak memiliki [oli mesin] dan suku cadang untuk terus mengoperasikan semua peralatan yang masih berada di Gaza.”
Koordinator bantuan kemanusiaan PBB, Ramiz Alakbarov, mengatakan dirinya “hancur” mendengar laporan mengenai runtuhnya bangunan tersebut.
“Tidak seorang pun seharusnya mempertaruhkan nyawanya hanya untuk menemukan tempat yang aman untuk berlindung,” katanya.
Ia juga mendesak otoritas Israel menyetujui pengiriman alat berat ke Gaza untuk operasi penyelamatan, serta tenda, terpal, dan berbagai kebutuhan non-pangan lainnya bagi warga yang mengungsi menjelang hujan musim dingin.
Israel mengatakan pembatasan yang diberlakukannya bertujuan mencegah peralatan tersebut jatuh ke tangan kelompok bersenjata Palestina yang juga dapat menggunakannya untuk keperluan militer.
Menurut PBB, diperkirakan 80% dari seluruh bangunan di Gaza telah hancur atau rusak selama perang antara Israel dan Hamas.
Lebih dari 1,9 juta orang, sekitar 90% dari populasi wilayah tersebut, telah mengungsi. Banyak di antaranya terpaksa berpindah tempat berkali-kali, dan sekitar 1,2 juta orang saat ini tinggal di tenda atau tempat penampungan darurat, menurut PBB.
PBB memperingatkan bahwa situasi kemanusiaan di Gaza masih sangat buruk meskipun gencatan senjata yang disepakati pada Oktober tahun lalu. Serangan udara Israel dan serangan lainnya masih mengenai kawasan berpenduduk, menyebabkan korban jiwa dan kerusakan properti serta memaksa lebih banyak warga mengungsi.
Pada Selasa, serangan udara Israel menewaskan sedikitnya lima warga Palestina, termasuk dua anak dan seorang komandan Hamas, menurut pejabat kesehatan dan sumber dari Hamas.
Militer Israel mengatakan pihaknya menewaskan seorang komandan Hamas di Gaza selatan dan seorang pejuang lainnya di wilayah utara. Dalam kedua kejadian tersebut, seorang anak juga dilaporkan tewas.
Secara terpisah, badan amal Inggris Medical Aid for Palestinians mengatakan seorang pasien tewas akibat serangan pesawat nirawak Israel di sebuah pusat kesehatan yang mereka dukung di Jabalia, Gaza utara. Juru bicara militer Israel mengatakan bahwa pihaknya tidak mengetahui adanya insiden tersebut.
Perang di Gaza dipicu oleh serangan yang dipimpin Hamas terhadap Israel selatan pada 7 Oktober 2023. Sekitar 1.200 orang tewas dalam serangan tersebut dan 251 lainnya disandera.
Sejak saat itu, lebih dari 73.790 orang telah tewas di Gaza, menurut Kementerian Kesehatan wilayah tersebut yang dikelola Hamas. Angka tersebut dinilai dapat diandalkan oleh PBB.
