Pria yang melepaskan tembakan di luar Gedung Putih hingga melukai seorang warga sebelum akhirnya ditembak mati oleh Dinas Rahasia Amerika Serikat (Secret Service), ternyata sebelumnya pernah beberapa kali berurusan dengan aparat di lokasi yang sama, menurut dokumen pengadilan.
Kepolisian Metropolitan Washington DC mengidentifikasi pria tersebut sebagai Nasire Best.
Dokumen pengadilan menunjukkan bahwa pada Juni 2025, Best sempat menghalangi jalur masuk Gedung Putih dan mengatakan kepada agen Secret Service bahwa dirinya adalah Yesus Kristus.
Setelah insiden itu, ia dikirim untuk menjalani evaluasi kesehatan mental.
Best dituduh melepaskan tembakan di luar kediaman presiden sekitar pukul 18.00 waktu setempat (23.00 GMT) pada Sabtu malam. Para jurnalis yang tengah melakukan peliputan di lokasi terlihat membungkuk dan berlari mencari perlindungan ke dalam gedung.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berada di Gedung Putih saat kejadian berlangsung, tetapi tidak mengalami luka.
Dokumen pengadilan juga mengungkap bahwa dalam insiden Juni 2025 tersebut, Best yang berasal dari Dundalk, Maryland, mengatakan kepada agen Secret Service bahwa ia ingin ditangkap.
Meski telah menjalani evaluasi mental, sebulan kemudian pada Juli 2025, ia kembali mencoba memasuki area Gedung Putih.
Best kemudian ditangkap agen Secret Service dan didakwa memasuki properti federal secara ilegal, menurut catatan pengadilan.
Ia sempat dibebaskan setelah menjalani sidang dakwaan terkait pelanggaran tersebut. Namun pada Agustus 2025, ia gagal menghadiri sidang lanjutan, sehingga pengadilan mengeluarkan surat perintah penangkapan tanpa jaminan yang memungkinkan aparat langsung menangkapnya.
Kurang dari setahun kemudian, tepatnya pada Sabtu lalu, Best kembali muncul di luar Gedung Putih dan mulai menembaki pos pemeriksaan Secret Service di persimpangan 17th Street dan Pennsylvania Avenue NW, dekat Gedung Eisenhower Executive Office.
Petugas Secret Service yang berjaga di lokasi membalas tembakan dan mengenai pelaku. Best kemudian dilarikan ke rumah sakit sebelum dinyatakan meninggal dunia.
Seorang warga sipil juga terkena tembakan dan mengalami luka serius, namun kondisinya dilaporkan stabil hingga Minggu. Belum diketahui secara pasti bagaimana korban sipil tersebut tertembak.
Tidak ada petugas yang terluka dalam insiden itu.
Trump berada di Gedung Putih saat penembakan terjadi, tetapi pejabat setempat memastikan tidak ada “orang yang dilindungi” maupun operasi keamanan yang terdampak.
“Terima kasih kepada Secret Service dan aparat penegak hukum kami atas tindakan cepat dan profesional malam ini terhadap pria bersenjata di dekat Gedung Putih,” tulis Trump di media sosial.
Insiden ini terjadi sebulan setelah seorang pria bersenjata melepaskan tembakan saat acara White House Correspondents’ Dinner, yang memaksa acara dihentikan lebih awal dan membuat Trump dievakuasi oleh Secret Service ketika ratusan tamu panik meninggalkan lokasi.
