Setiap musim panas, Seoul berubah menjadi hamparan hijau pekat, dengan pepohonan tumbuh rimbun di bawah langit yang lembap.
Namun tahun ini, satu pohon terlihat jelas sedang sekarat.
“Daun-daun hijaunya berguguran ke tanah, padahal seharusnya itu tidak terjadi pada waktu tersebut,” kenang Jung, yang tinggal di dekat pohon ginkgo di tepi jalan kawasan Buam-dong, sebuah lingkungan yang sebagian besar merupakan permukiman di utara Seoul.
Pohon itu sangat dicintai warga setempat. Mereka meyakini pohon tersebut telah berdiri di tempat itu selama lebih dari 100 tahun. Karena itu, Jung tidak bisa mengabaikan apa yang dilihatnya. Hari demi hari, rasa penasarannya berubah menjadi kekhawatiran.
Karpet daun berbentuk kipas yang membusuk segera menyelimuti sekitar pohon. Pemandangan itu begitu mengkhawatirkan hingga Jung dan para tetangganya membentuk kelompok detektif amatir untuk memecahkan misteri: apa yang sebenarnya membuat ginkgo yang selama ini dikenal kuat itu sakit?
Misteri tersebut menyita perhatian warga Buam-dong dan menarik perhatian masyarakat Korea Selatan hingga menjadi berita utama nasional. Namun perhatian publik justru membuat Jung tidak nyaman. Ia merupakan penggagas kampanye penyelamatan pohon tersebut, tetapi kemudian meminta identitasnya dirahasiakan. menggunakan nama samaran untuknya.
“Bayangkan seorang kakek yang setiap hari diam-diam memeluk Anda, mendengarkan Anda, dan selalu kuat serta penuh kehidupan,” katanya. “Tiba-tiba, dia mulai sekarat.
“Betapa memilukannya hal itu?”
Demikianlah perjuangan sebuah komunitas dimulai untuk menyelamatkan simbol lingkungan mereka yang sangat dicintai. Musuh yang mereka yakini melakukan serangan secara diam-diam ternyata adalah sebuah museum yang dibangun untuk menghormati seorang seniman Korea yang dikenal sebagai pelopor dan pencinta alam.
Siapa yang membunuh “Kakek Ginkgo”?
Terletak di antara dua gunung, Buam-dong direkomendasikan para pelancong dan warga setempat karena pemandangannya yang indah, galeri seni, serta kafe-kafe yang nyaman, menjadi tempat pelarian dari hiruk-pikuk Seoul.
Karena lokasinya dekat dengan Blue House, kediaman resmi presiden Korea Selatan, pembangunan perkotaan di kawasan tersebut dibatasi sehingga Buam-dong mampu mempertahankan pesona khasnya.
Jung mengatakan, di tempat yang biasanya hanya memiliki pohon ginkgo di halaman rumah pribadi atau hutan liar, pohon ini istimewa karena tumbuh subur di pinggir jalan. Baginya, pohon itu adalah “Kakek Ginkgo”.
“Saya melewati pohon ini setiap kali pulang. Saya akan berkata, ‘Kakek, saya sudah pulang.’ Atau ‘Kakek, saya mau pergi sekarang.'”
Jung baru pindah ke kawasan tersebut empat tahun lalu, tetapi pohon tua itu merupakan hal pertama yang menarik perhatiannya dan kemudian membuatnya jatuh hati.
“Ini satu-satunya pohon di lingkungan ini yang menjadi milik semua orang.”
Bagi Park Jeon-hee, yang hampir sepanjang 74 tahun hidupnya tinggal di kawasan tersebut, pohon ginkgo itu adalah “teman tertuanya”.
Hal serupa dirasakan Kim On, bocah berusia 10 tahun yang setiap hari melewati pohon tersebut dalam perjalanan ke sekolah. Kim mengatakan pohon itu sudah berdiri sebelum dirinya lahir dan “membayangkan pohon itu mungkin tumbang membuat saya sedih”.
Karena itu, tidak mengherankan jika Jung segera menemukan sekutu di tengah masyarakat yang juga memperhatikan daun-daun ginkgo tersebut mulai mengering.
Mereka kemudian mulai mencurigai 10 corong plastik putih yang terlihat menyembul dari balik batang pohon. Awalnya Jung mengira corong tersebut digunakan untuk memberikan nutrisi, tetapi kemudian ia mulai bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang lebih mencurigakan.
Jung dan para tetangganya menyisir rekaman kamera keamanan dari sebuah rumah di dekat lokasi. Mereka akhirnya menemukan sesuatu yang janggal. Pada suatu pagi di akhir April, kamera merekam dua pria mengenakan sarung tangan putih yang berjongkok di pangkal pohon sambil membawa bor.
Apakah kedua pria tersebut memasang corong-corong itu? Jung dan warga lainnya tidak dapat memastikannya hanya dari rekaman tersebut.
Namun mereka kemudian teringat sesuatu yang pernah disampaikan pemerintah daerah kepada mereka: sebuah museum sebelumnya telah meminta izin kepada pemilik lahan di kawasan itu untuk memindahkan pohon tersebut.
Museum Whanki disebut beralasan bahwa tembok bata bagian luarnya, yang berdiri hanya beberapa sentimeter dari pohon ginkgo, mendapat tekanan akibat akar pohon.
Warga kemudian mencurigai corong-corong tersebut berisi sejenis herbisida yang secara perlahan membunuh pohon. Kecurigaan itu juga disampaikan sejumlah ahli arborikultur yang datang untuk memeriksa pohon tersebut. Mereka meyakini Museum Whanki berada di balik tindakan itu.
Pada hari mereka melihat rekaman tersebut, sekelompok warga Buam-dong mendatangi museum dengan membawa empat polisi. Ketika dikonfrontasi, seorang pegawai museum “pada dasarnya mengakui” bahwa pihak museum telah melakukan sesuatu terhadap pohon tersebut, demikian tudingan Jung dan salah seorang tetangganya.
“Begitu mereka mengatakannya, sebenarnya tidak ada cara untuk menarik kembali perkataan itu,” kata tetangga tersebut
Museum tersebut tidak pernah secara terbuka mengonfirmasi maupun menyangkal bahwa mereka menyuntikkan herbisida ke pohon itu dan tidak menanggapi pertanyaan
Namun pada Mei, museum menerbitkan pernyataan yang mengatakan tembok kompleks mereka “runtuh akibat akar pohon ginkgo”. Museum menyatakan telah mengirim surat kepada lebih dari 40 pemilik properti “untuk meminta solusi”.
Karena tidak mendapat tanggapan, staf museum “berupaya menyelesaikan situasi tersebut”, kata pernyataan itu. Museum tidak menjelaskan tindakan apa yang mereka lakukan.
Seorang perwakilan pemerintah daerah mengatakan bahwa pemeriksaan tahun lalu menemukan “tidak ada hubungan yang berarti” antara pohon ginkgo dan kerusakan pada tembok museum. Jika memang terdapat masalah, “kami akan mengambil tindakan yang sesuai dan memberi tahu pihak-pihak terkait”, tambah pejabat tersebut.
Warga yang tetap meyakini Museum Whanki memasang corong-corong tersebut meminta pihak museum mengungkapkan apa yang ada di dalamnya agar para ahli dapat memberikan perawatan kepada pohon ginkgo. Mereka telah melaporkan direktur museum kepada polisi. Para pejabat mengatakan polisi sedang menyelidiki kasus tersebut, tetapi kepolisian menolak memberikan informasi lebih lanjut
“Di tangan Tuhan”
Dibuka pada 1992, museum tersebut didedikasikan untuk mendiang Kim Whanki, seorang pelukis dan seniman abstrak ternama yang oleh banyak orang dijuluki “Picasso dari Korea”.
Di situs web museum, arsitek Woo Kyusung menjelaskan bahwa ia ingin menciptakan ruang bagi karya-karya Kim “yang menyatu dengan unsur-unsur alam, bulan, gunung, awan, batu, dan pepohonan, yang begitu penting dalam karya seninya”.
Kim bahkan menulis esai menggunakan nama pena Su-wha, yang berarti “percakapan dengan pepohonan”.
Ironi tersebut tidak luput dari perhatian warga Buam-dong yang geram. Puluhan tahun setelah kematian Kim, museum yang dibangun untuk menghormatinya kini dituduh berusaha mematikan sebuah pohon. Terlebih lagi, pohon tersebut adalah ginkgo, jenis pohon yang memiliki arti penting di Korea dan melambangkan umur panjang serta ketahanan.
“Memperlakukan kehidupan seperti itu adalah bentuk ketidaktahuan dan tidak pernah ada permintaan maaf,” kata Jung.
Warga menggunakan nama pena puitis Kim, “Su-wha”, untuk menyebut pohon mereka yang sekarat. Mereka juga menggandeng sebuah kelompok aktivis lingkungan yang meluncurkan petisi agar warga diberi kewenangan sebagai penjaga pohon-pohon di kawasan perkotaan.
“Ketika pertama kali mendengar bahwa sebuah pohon di sebelah museum telah diracun dengan herbisida dan sedang sekarat, saya benar-benar tidak percaya,” kata aktivis Choi Jin-woo.
Namun setelah melihat ginkgo tersebut semakin mengering, ia “menyadari bahwa sesuatu yang mengerikan seperti ini benar-benar bisa terjadi di masyarakat kita”.
Jika ada sisi positif dari penderitaan pohon ginkgo tersebut, kampanye untuk mempertahankan hidupnya telah membuat warga Buam-dong semakin dekat satu sama lain.
Selama menghabiskan hari-harinya mencari dukungan, Jung kerap pulang dan mendapati makanan rumahan yang ditinggalkan tetangga di depan pintunya. Sebaliknya, ia membuat sup sayuran untuk tetangga yang sebelumnya bahkan belum pernah ditemuinya.
Seiring musim panas berlalu, mereka semua menyaksikan dahan-dahan ginkgo tersebut semakin gundul dan berubah kecokelatan. Seorang ahli arborikultur yang memeriksanya mengatakan pohon itu sudah “90% menuju kematian”, kata Choi.
Kini nasib pohon tersebut “ada di tangan Tuhan”, kata Jung dengan pasrah. “Mungkin yang bisa saya lakukan hanyalah tetap berada di sampingnya dan berdoa.”
Selama berminggu-minggu, sekitar 20 warga secara rutin berkumpul di depan pohon untuk mendoakan kesembuhannya. Sebagian membacakan esai karya Whanki, sementara seorang dukun lokal melakukan “ritual penyembuhan”. Catatan berisi doa dan harapan bergoyang tertiup angin di batang pohon, sementara musik mengalun dan kelompok tersebut bergandengan tangan sambil bergerak bersama dalam sebuah “tarian elm”, yang diyakini sejumlah pencinta alam dan aktivis dapat membantu pohon pulih.
“Jika seseorang benar-benar memahami bahwa pohon ini sangat dicintai, mereka mungkin tidak akan mengambil keputusan untuk menyuntikkan herbisida,” kata Kim Min-joo, yang telah tinggal di Buam-dong selama lebih dari satu dekade.
Belakangan, Jung menyadari bahwa hari-hari yang ia habiskan berjuang menyelamatkan ginkgo tersebut merupakan masa paling aktif dalam hidupnya sejak ia jatuh sakit musim dingin lalu.
Ia kesulitan berjalan dan sering mengamati pohon tersebut dari rumah. Pada hari-hari ketika kondisinya lebih baik, ia berjalan menghampirinya, bahkan memeluk batang pohon yang kasar dan menghirup aroma tanah untuk membangkitkan semangatnya.
“Saya merasa sangat tertekan dan putus asa, tetapi perasaan itu menghilang. Saya memasuki keadaan seperti pohon.”
Ia mengaku masih belum bisa banyak berjalan, tetapi “pohon itu membantu saya kembali menjalani kehidupan. Ironisnya, itu terjadi karena pohon tersebut jatuh sakit.”
“Meski sangat memilukan, ada juga momen-momen yang sangat mengharukan,” kata Jung saat mengenang kembali kejadian tersebut. “Lingkungan ini bersatu, saling peduli, dan saling menjaga.”
Ketika Seoul mulai berubah menjadi berbagai nuansa kuning menyambut datangnya musim gugur, daun-daun ginkgo yang dahulu menjadi kebanggaan Buam-dong kini berwarna cokelat kering.
Warga lingkungan tersebut masih berharap akan keajaiban.
Sebab mereka tidak dapat membayangkan musim gugur tanpa berhenti sejenak untuk mengagumi ginkgo itu dalam kondisi terbaiknya, ketika seluruh tubuhnya diselimuti dedaunan keemasan yang menyerupai bulu.
