Aktivis Sikh asal Skotlandia yang telah ditahan di India selama hampir sembilan tahun tanpa dinyatakan bersalah akhirnya mendapat jaminan.
Jagtar Singh Johal, 39 tahun, dari Dumbarton, ditangkap dan ditahan pada 2017 terkait dugaan tindak pidana terorisme.
Pihak berwenang India menuduh Johal terlibat dalam serangkaian pembunuhan yang menargetkan tokoh agama dan politik.
Keluarganya mengatakan mereka masih menunggu rincian mengenai langkah selanjutnya, tetapi merasa “lega” atas keputusan pengadilan India tersebut.
Dokumen pengadilan menunjukkan Johal mendapat jaminan dari Pengadilan Tinggi Delhi.
Sebagai bagian dari syarat jaminan, Johal harus menyerahkan paspornya dan dilarang berbicara kepada media mengenai kasus tersebut.
Johal dibebaskan dari tuduhan tahun lalu dalam perkara yang menuduhnya memberikan dukungan finansial kepada kelompok teror Khalistan Liberation Force (KLF), yang telah melakukan serangan di wilayah Punjab.
Namun, ia masih menghadapi dakwaan federal yang diajukan oleh pihak berwenang India.
Penahanan Johal diakui sebagai penahanan sewenang-wenang oleh panel Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2022. Ia juga mengaku telah mengalami penyiksaan.
Pihak berwenang India sebelumnya membantah tuduhan penyiksaan tersebut dan berulang kali menyatakan bahwa proses hukum telah dijalankan sesuai prosedur.
Johal ditangkap di wilayah Punjab hanya beberapa pekan setelah menikah di negara tersebut.
Para pendukungnya mengatakan ia menjadi sasaran karena menulis blog mengenai dugaan pelanggaran hak asasi manusia terhadap komunitas Sikh di India. Mereka juga mengeklaim Johal dipaksa menandatangani pengakuan palsu terkait keterlibatannya dalam serangkaian pembunuhan tersebut.
Saudaranya, Gurpreet Singh Johal, telah melobi sejumlah pemerintahan Inggris secara bergantian untuk menyerukan pembebasan Johal.
“Ini benar-benar menjadi tonggak penting dalam perjuangan Jagtar,” kata Gurpreet
“Perjalanannya sangat panjang dan seperti rollercoaster yang mahal, tetapi komunitas dan masyarakat umum terus memberi saya kekuatan untuk berkampanye agar Jagtar bisa pulang.
“Ini akan menjadi kelegaan besar baginya.”
Gurpreet menambahkan, meski keputusan tersebut merupakan langkah besar dan keluarga merasa lega karena Jagtar kini dapat berada di luar tahanan, masih diperlukan upaya lebih lanjut untuk membawa saudaranya kembali ke Dumbarton.
“Ini adalah momen yang sangat berarti bagi keluarga. Istrinya menangis sejak pagi tadi,” kata Gurpreet.
“Semua orang sangat gembira. Anak-anak saya pergi ke sekolah sambil mengatakan bahwa mereka sudah tidak sabar bertemu paman mereka dan membawanya pulang.
“Ini baru langkah pertama, tetapi merupakan langkah ke arah yang benar.”
Sebelumnya, Gurpreet mendesak pemerintah Inggris memberikan “perwakilan diplomatik” untuk membantu membawa saudaranya pulang.
Seorang juru bicara pemerintah Inggris mengatakan: “Kami terus berhubungan dengan keluarga Mr Johal menyusul perkembangan hari ini.”
“Pemerintah Inggris terus menyampaikan kekhawatiran mengenai penahanan berkepanjangan terhadap Mr Johal pada setiap kesempatan yang tepat kepada Pemerintah India.
“Kami telah menegaskan bahwa kemajuan yang lebih cepat diperlukan untuk mencapai penyelesaian, termasuk penyelidikan penuh atas tuduhan penyiksaan yang disampaikan Mr Johal.”
Johal sebelumnya ditolak permohonan jaminannya pada 2024.
Keluarga Johal bersikeras bahwa tidak ada bukti konkret yang telah diajukan untuk menjeratnya.
Mereka mengatakan kasus tersebut dibangun berdasarkan kesaksian saksi yang tidak dapat diandalkan. Beberapa saksi disebut memberikan pernyataan yang memberatkan Johal, tetapi kemudian menarik kembali kesaksian tersebut di pengadilan.
Pengacara Johal di India, Jaspal Singh Manjhpur, mengatakan ia berharap kliennya dibebaskan dalam beberapa hari mendatang, kemungkinan pekan depan.
“Saya sangat bahagia. Ini sudah berlangsung sangat lama, masa yang sangat menyakitkan,” katanya.
“Proses hukum yang cacat”
Menteri Pertama Skotlandia John Swinney menyebut keputusan tersebut sebagai “perkembangan yang signifikan dan positif”.
“Saya berharap Mr Johal dibebaskan dari tahanan segera setelah prosedur yang diperlukan selesai. Saya juga terus menekankan pentingnya proses hukum yang adil, transparan, dan tepat waktu,” ujarnya.
Johal di Inggris diwakili oleh lembaga bantuan hukum Redress dan Reprieve, yang menyambut baik putusan tersebut.
Wakil direktur eksekutif Reprieve, Dan Dolan, mengatakan kabar tersebut patut disambut, tetapi Johal masih menghadapi ancaman hukuman mati atas “tuduhan yang dibuat-buat”.
“Kita sekarang harus mengawasi dengan saksama untuk memastikan perintah ini benar-benar dilaksanakan dan tidak dihalangi dengan cara apa pun,” katanya.
“Persyaratan yang menyertainya kemungkinan akan sangat berat.”
Penasihat hukum senior Redress, Chris Esdaile, mengatakan pemberian jaminan “tidak dapat menghapus penderitaan yang tidak dapat ditoleransi akibat sembilan tahun penahanan sewenang-wenang”.
Ia menambahkan: “Kebutuhan untuk meminta pertanggungjawaban atas tuduhan penyiksaan serta proses hukum yang sangat cacat terhadap Jagtar tetap mendesak.”
