Bagi Presiden China Xi Jinping, Korea Utara adalah tetangga yang tidak bisa sepenuhnya dikendalikan, tetapi juga tidak boleh hilang dari pengaruh Beijing.
Selama puluhan tahun, kedua negara menggambarkan hubungan mereka sebagai persahabatan yang “ditempa dengan darah”, merujuk pada keterlibatan bersama dalam Perang Korea pada awal 1950-an.
Namun di balik retorika persahabatan itu, hubungan Beijing dan Pyongyang dalam beberapa tahun terakhir tidak selalu berjalan mulus. Kecurigaan dan perbedaan kepentingan sempat menciptakan jarak, sementara kedekatan Korea Utara dengan Rusia mulai menimbulkan kekhawatiran baru bagi China.
Karena itu, kunjungan Xi Jinping ke Pyongyang pekan ini dipandang banyak analis bukan sekadar simbol persahabatan, melainkan upaya memperkuat kembali pengaruh China terhadap mitra strategis yang semakin sulit diprediksi.
China Ingin Menjaga Pengaruhnya
Dari perspektif Beijing, Korea Utara memiliki nilai strategis yang sangat besar.
Negara itu berfungsi sebagai zona penyangga yang memisahkan China dari keberadaan pasukan Amerika Serikat di Korea Selatan. Namun pada saat yang sama, program nuklir dan uji coba rudal Pyongyang kerap menciptakan ketidakstabilan yang tidak diinginkan Beijing.
China menginginkan stabilitas di perbatasannya dan tetap memiliki pengaruh terhadap Kim Jong Un, tetapi tidak ingin terseret ke dalam krisis yang dipicu ambisi nuklir Korea Utara.
Karena itu, Xi kemungkinan datang dengan tujuan memperkuat posisi China di tengah perubahan dinamika geopolitik kawasan.
Kekhawatiran atas Kedekatan Pyongyang dan Moskow
Menurut sejumlah sumber diplomatik Barat, salah satu perhatian utama Beijing saat ini adalah semakin eratnya hubungan antara Korea Utara dan Rusia.
Sejak invasi Rusia ke Ukraina, kerja sama militer antara Pyongyang dan Moskow berkembang pesat. Puncaknya terjadi ketika Presiden Rusia Vladimir Putin mengunjungi Korea Utara pada 2024 dan menandatangani perjanjian pertahanan bersama dengan Kim Jong Un.
Korea Utara juga dituduh memasok amunisi bagi Rusia sebagai imbalan atas bantuan ekonomi dan energi.
Perkembangan tersebut membuat China khawatir kehilangan sebagian pengaruhnya terhadap Pyongyang.
Menurut analis kebijakan nuklir dari Carnegie Endowment for International Peace, Ankit Panda, Beijing ingin memastikan kepentingannya tetap terlindungi di tengah semakin dekatnya hubungan Rusia dan Korea Utara.
Hubungan yang Sempat Mendingin
Tanda-tanda hubungan yang kurang harmonis sebenarnya sudah terlihat beberapa tahun terakhir.
Perayaan 75 tahun hubungan diplomatik kedua negara pada Oktober 2024 berlangsung tanpa kemeriahan yang biasanya menyertai momen penting semacam itu. Pesan-pesan resmi yang disampaikan juga relatif terbatas.
Bahkan, Duta Besar China tidak menghadiri peringatan hari berdirinya Korea Utara pada bulan sebelumnya. Sepanjang tahun itu, hampir tidak ada pertukaran kunjungan tingkat tinggi antara kedua negara.
Situasi tersebut sangat kontras dengan intensitas hubungan Pyongyang dan Moskow yang terus meningkat.
China Tak Ingin Rusia Menjadi Mitra Dominan
Secara formal, Korea Utara merupakan satu-satunya negara yang memiliki perjanjian pertahanan dengan China.
Karena itu, Beijing tentu tidak ingin melihat Rusia menjadi mitra yang lebih berpengaruh dibanding dirinya di Pyongyang.
Semakin mandiri Kim Jong Un dan semakin kecil ketergantungannya kepada China, semakin berkurang pula daya tawar Beijing.
Sebagai respons, Xi mulai berupaya memperbaiki hubungan. Pada akhir tahun lalu, ia mengundang Kim menghadiri parade militer di Beijing dan menempatkannya di posisi terhormat bersama Putin.
Pertemuan tersebut menjadi pertemuan formal pertama Xi dan Kim dalam enam tahun terakhir.
Dilema China terhadap Program Nuklir Korea Utara
China berada dalam posisi yang tidak mudah terkait program nuklir Korea Utara.
Di satu sisi, Beijing tidak mendukung pengembangan senjata nuklir Pyongyang karena dapat memicu peningkatan kehadiran militer Amerika Serikat di Asia Timur serta memperkuat kerja sama keamanan antara AS, Jepang, dan Korea Selatan.
Namun di sisi lain, China juga enggan memberikan tekanan terlalu keras kepada Korea Utara.
Pada 2022, China bersama Rusia memveto resolusi Dewan Keamanan PBB yang dipimpin Amerika Serikat untuk menjatuhkan sanksi baru terhadap Pyongyang akibat uji coba rudalnya.
Menurut Victor Cha dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), jika China terlalu keras terhadap Korea Utara, hal itu justru dapat mendorong Kim semakin dekat kepada Putin.
Kim Jong Un Juga Membutuhkan China
Meski semakin akrab dengan Rusia, Korea Utara tetap tidak bisa mengabaikan China.
Data perdagangan menunjukkan ekspor China ke Korea Utara mencapai sekitar 2,3 miliar dolar AS pada tahun lalu, tertinggi dalam enam tahun terakhir.
Layanan kereta penumpang antara Beijing dan Pyongyang yang sempat berhenti selama enam tahun juga kembali beroperasi tahun ini.
Bagi Kim Jong Un, mempertahankan hubungan baik dengan China merupakan pilihan yang rasional.
Jika perang Ukraina suatu saat berakhir, kebutuhan Rusia terhadap dukungan Korea Utara kemungkinan akan berkurang. Dalam situasi tersebut, Pyongyang tidak ingin terlalu bergantung pada satu mitra saja.
Hubungan yang Didasarkan pada Kepentingan
Hubungan Xi dan Kim sebenarnya tidak selalu harmonis.
Pada awal masa kekuasaannya, Kim Jong Un mempercepat program nuklir Korea Utara dan melakukan puluhan uji coba rudal balistik. Langkah itu membuat Beijing khawatir.
Ketegangan semakin meningkat setelah eksekusi Jang Song Thaek, paman Kim yang dianggap China sebagai figur moderat dan stabilisator dalam hubungan kedua negara.
Xi bahkan sempat mengirim sinyal ketidaksenangan dengan mengunjungi Korea Selatan pada 2014 sebelum pernah bertemu Kim, sebuah langkah yang dianggap sebagai bentuk teguran diplomatik.
Sebagai balasan, media Korea Utara pernah menyebut China sebagai “pengkhianat” dan “musuh”.
Namun sejak 2018, ketika tekanan sanksi internasional mulai berdampak besar terhadap ekonomi Korea Utara, Kim mulai memperbaiki hubungan dengan Beijing. Ia melakukan perjalanan luar negeri pertamanya sebagai pemimpin ke China menggunakan kereta lapis baja khasnya.
Sejak saat itu, hubungan kedua negara perlahan kembali menghangat.
Saling Membutuhkan Meski Tidak Saling Percaya
Saat ini, Korea Utara tetap menjadi aset strategis sekaligus sumber masalah bagi China.
Negara itu membantu menjaga jarak antara wilayah China dan kehadiran militer Amerika Serikat di Semenanjung Korea, tetapi juga sering menciptakan ketegangan melalui uji coba senjata.
Sementara itu, Kim Jong Un membutuhkan perlindungan dan dukungan ekonomi dari China, tetapi tidak ingin berada di bawah kendali penuh Beijing.
Kedua pemimpin mungkin tidak sepenuhnya saling percaya. Namun dalam kondisi geopolitik saat ini, baik Xi maupun Kim sama-sama menyadari bahwa mereka masih membutuhkan satu sama lain.
Dan untuk saat ini, kesadaran itulah yang cukup untuk menjaga hubungan mereka tetap berjalan.
