Mahkamah Pidana Internasional (ICC) menghadapi sorotan tajam ketika negara-negara anggotanya bersiap memberikan suara bulan ini untuk menentukan apakah Jaksa Agung ICC, Karim Khan, harus dicopot dari jabatannya menyusul penyelidikan atas dugaan pelanggaran seksual.
Selama berbulan-bulan, lembaga pengawas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyelidiki laporan yang diajukan oleh seorang pegawai perempuan ICC yang bekerja sebagai asisten langsung Khan. Berdasarkan salinan rahasia laporan investigasi PBB yang bocor dan diperoleh, perempuan tersebut menuduh Khan melakukan pelecehan seksual serta berulang kali melakukan tindakan seksual tanpa persetujuan, termasuk meraba tubuh, mencoba menciumnya, hingga melakukan penetrasi menggunakan jari dan alat kelamin.
Karim Khan berulang kali membantah seluruh tuduhan tersebut.
Tuduhan terhadap Khan pertama kali mencuat pada 2024. Namun, perempuan yang menggunakan nama Sarah itu baru kini berbicara kepada publik. Sarah, seorang pengacara asal Malaysia yang telah bekerja di ICC sejak 2017, mengatakan dirinya tidak pernah menginginkan berada dalam situasi seperti ini dan mengaku merasa “dipermalukan”. Atas permintaannya, Kita hanya menyebut nama depannya.
“Saya tidak tahu bagaimana lagi menggambarkannya selain bahwa semua itu merupakan eskalasi dari berbagai upaya,” kata Sarah, yang hingga kini masih bekerja di ICC, mengenai dugaan pelecehan seksual yang menurutnya berlangsung selama sekitar satu tahun sejak ia menjadi asisten Khan pada Februari 2023.
“Awalnya berupa sentuhan-sentuhan, kontak fisik. Namun itu tidak langsung terjadi begitu saja. Semua dimulai dari pelanggaran batas secara perlahan, bukan hanya secara fisik tetapi juga emosional,” ujarnya dalam wawancara eksklusif dengan jurnalis, Christiane Amanpour.
Sarah mengaku beberapa kali hanya bisa membeku dan takut mengatakan “tidak” terhadap sejumlah tindakan Khan karena khawatir kehilangan pekerjaan, sumber penghasilan, serta izin tinggal yang memungkinkannya menetap di Belanda bersama suami dan anaknya.
“Tidak mungkin ada hubungan yang benar-benar berdasarkan persetujuan jika terdapat ketimpangan kekuasaan sebesar itu. Banyak orang tidak memahami bahwa Tuan Khan bukan hanya atasan saya, tetapi juga atasan semua orang,” kata Sarah.
“Karena itu, hubungan tersebut tidak mungkin dianggap berdasarkan persetujuan.”
Khan Diskors, Negara Anggota ICC Akan Menentukan Nasibnya
Badan pengawas ICC telah menskors Khan pada Juni lalu selama proses disipliner berlangsung. Kini, proses tersebut telah diserahkan kepada 125 negara anggota ICC.
Perwakilan setiap negara dijadwalkan mengambil keputusan pada 24 Juli mengenai apakah skorsing terhadap Khan akan dipertahankan dan sanksi disipliner apa yang akan dijatuhkan, jika memang dianggap perlu.
Khan dan sejumlah pihak yang membelanya menilai tuduhan tersebut merupakan bagian dari upaya merusak reputasinya setelah ia mengajukan permohonan surat perintah penangkapan terhadap sejumlah pejabat Israel atas dugaan kejahatan perang.
Menanggapi pertanyaan mengenai tuduhan tersebut, kuasa hukum utama Khan, Sareta Ashraph, mengatakan:
“Tuduhan ini sangat serius sehingga memang harus ditangani secara serius, diselidiki secara serius, dan melalui proses penilaian hukum yang serius. Dan itulah yang telah dilakukan.”
Ashraph menambahkan bahwa Khan “telah membantah dan tetap membantah seluruh tuduhan tersebut, termasuk adanya hubungan seksual dalam bentuk apa pun, baik berdasarkan persetujuan maupun tidak, dengan pelapor.”
Laporan PBB Temukan Dasar Faktual
Berdasarkan salinan laporan Kantor Pengawasan Internal PBB (OIOS) yang diedarkan secara internal pada Desember lalu.
Laporan tersebut menyatakan terdapat bukti yang menunjukkan adanya “dasar faktual” terhadap tuduhan Sarah berdasarkan wawancara dengan dirinya, rekan-rekan kerja, serta sejumlah saksi lainnya.
Dalam dokumen itu, identitas Sarah disamarkan dan hanya disebut sebagai “V01.”
Namun, pada Maret lalu, panel ahli hukum independen yang dibentuk ICC menyimpulkan bahwa “tidak terdapat bukti yang cukup untuk mendukung temuan pelanggaran berdasarkan standar pembuktian tanpa keraguan yang wajar.”
Panel tersebut menilai temuan faktual dari investigasi PBB belum cukup untuk membuktikan adanya pelanggaran atau pengingkaran terhadap kewajiban jabatan.
Awal bulan ini, The New York Times melaporkan adanya laporan internal ICC lain yang menyimpulkan Khan melakukan pelecehan seksual terhadap seorang staf junior, merujuk kepada Sarah.
Laporan itu juga menyebut Khan pada awalnya tidak secara tegas membantah adanya hubungan seksual dengan bawahannya, dan kemudian berupaya membujuk pelapor agar tidak melanjutkan pengaduannya.
Kami belum dapat memverifikasi secara independen isi laporan tersebut karena belum dipublikasikan.
Menurut Ashraph, laporan OIOS tidak memiliki kedudukan hukum yang sama dengan panel hakim.
“Laporan itu tidak menerapkan standar pembuktian. Tugas investigasi PBB hanyalah mengumpulkan fakta, dan dalam prosesnya muncul berbagai versi cerita yang saling bertentangan,” katanya.
Dugaan Pelecehan Semakin Meningkat
Dalam wawancara, Sarah menceritakan bahwa perilaku Khan yang membuatnya tidak nyaman dimulai sejak awal mereka bekerja bersama.
Ia mengatakan tindakan tersebut kemudian meningkat menjadi lebih agresif, termasuk ketika Khan datang ke kamar hotelnya larut malam saat perjalanan dinas.
Dalam salah satu kejadian, Sarah mengaku Khan memaksa ikut “tidur siang” bersamanya dan meraba tubuhnya dari luar legging ketika ia berpura-pura tertidur.
Dalam wawancara sebelumnya dengan jurnalis Mehdi Hasan, Khan membantah pernah memiliki hubungan apa pun dengan staf tersebut.
Ia mengatakan kepada penyelidik PBB bahwa dirinya “sepenuhnya membantah telah melakukan pelecehan, penyalahgunaan wewenang, ataupun perilaku tidak pantas dalam bentuk apa pun.”
Namun, laporan PBB mencatat Khan tidak pernah secara tegas mengonfirmasi ataupun menyangkal apakah pernah memiliki hubungan seksual dengan Sarah.
Ia hanya menyatakan bahwa dirinya tidak pernah melakukan tindakan yang dapat dianggap “tidak pantas, tidak diinginkan, atau bersifat menyalahgunakan.”
Khan juga mengatakan kepada penyelidik bahwa pengamanan ketat yang mengikutinya saat perjalanan dinas membuatnya hampir mustahil keluar dari kamar hotel tanpa diketahui petugas keamanan.
Sarah membantah anggapan tersebut dan mengatakan pengamanan itu tidak membatasi pergerakan Khan.
Laporan OIOS juga memuat dugaan pelecehan seksual lainnya yang disebut terjadi di rumah Khan, di kantornya, maupun selama perjalanan dinas ke luar negeri. Sarah menegaskan seluruh tindakan itu dilakukan tanpa persetujuannya.
Menurut laporan tersebut, setelah beberapa insiden Khan terkadang menanyakan apakah Sarah merasa tidak nyaman.
Saat ditanya mengenai hal itu, Sarah membenarkan bahwa kejadian tersebut memang pernah terjadi.
“Namun jika mengenal Tuan Khan, Anda tahu bahwa dia sebenarnya tidak mengharapkan jawaban. Dia melakukan apa yang dia inginkan,” ujarnya.
Tekanan untuk Mencabut Tuduhan
Menurut Sarah, ia tetap berusaha menjalankan pekerjaannya dan menghindari perhatian publik agar prospek kariernya tidak hancur.
Pada suatu kesempatan, ia mengaku pernah mengatakan kepada Khan bahwa jika perilaku tersebut terus berlanjut, ia khawatir akan melukai dirinya sendiri.
Ashraph menyatakan Khan tidak mengingat pernah menerima informasi tersebut dan menyebut tidak ada bukti medis yang disampaikan kepada penyelidik PBB.
Laporan OIOS mencatat bahwa Sarah kemudian sempat ditempatkan dalam pengawasan khusus terkait risiko bunuh diri berdasarkan keterangan suaminya.
Setelah sejumlah rekan kerja mulai mengkhawatirkan kondisi mentalnya, Sarah akhirnya menceritakan dugaan pelecehan seksual tersebut kepada mereka.
Dalam beberapa bulan berikutnya, ia mengaku mendapat tekanan dari Khan dan seorang staf senior lainnya agar menulis surat yang menyatakan bahwa tuduhan tersebut tidak benar atau bahwa dirinya sebenarnya tidak memiliki keluhan.
Khan membantah pernah meminta Sarah membuat surat semacam itu ataupun memerintahkan penasihatnya melakukan hal tersebut.
Bantah Dikaitkan dengan Israel
Kasus ini muncul ketika ICC sedang menjadi pusat perhatian internasional.
Beberapa bulan sebelum tuduhan tersebut dipublikasikan media, Khan mengumumkan dalam wawancara eksklusif dengan Christiane Amanpour bahwa ICC mengajukan permohonan surat perintah penangkapan terhadap sejumlah pemimpin Hamas serta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan terkait serangan 7 Oktober 2023 dan perang di Gaza.
Waktu kemunculan tuduhan tersebut memicu spekulasi bahwa Sarah merupakan bagian dari upaya yang didukung negara Israel untuk mendiskreditkan Khan.
Laporan OIOS mencatat Khan juga menyampaikan dugaan serupa kepada para penyelidik.
Namun Sarah dengan tegas membantah tuduhan tersebut.
“Saya rasa banyak pihak mencampuradukkan dua persoalan ini demi kepentingan mereka sendiri. Hal itu justru mengalihkan perhatian dari substansi pengaduan saya,” katanya.
Ia menambahkan bahwa dirinya telah menjalani pemeriksaan keamanan dengan tingkat tertinggi selama bekerja di ICC, baik pada masa Khan maupun pendahulunya, Fatou Bensouda.
“Kalau memang ada sedikit saja kecurigaan bahwa saya adalah agen negara mana pun, saya pasti sudah diberhentikan,” ujarnya.
Sarah mengatakan salah satu alasan dirinya akhirnya berbicara kepada publik adalah karena anonimitas justru membuat banyak pihak membangun narasi mengenai dirinya sesuai kepentingan masing-masing.
Meski menolak mengomentari perkara spesifik yang sedang ditangani ICC, ia menegaskan dirinya sepenuhnya mendukung seluruh proses penyelidikan yang dilakukan pengadilan tersebut.
Perempuan Kedua Juga Melontarkan Tuduhan
Laporan OIOS juga memuat kesaksian seorang perempuan lain yang disamarkan dengan nama “Patricia.”
Ia merupakan mantan peserta magang tanpa bayaran di tim Khan pada 2009.
Dalam wawancara dengan Christiane Amanpour, Patricia mengatakan Khan kerap meminta timnya bekerja dari rumahnya.
“Setiap kali saya berada di sana, dia terus-menerus mendekati saya, meraba tubuh saya, memegang saya, mencium wajah saya, menyentuh rambut saya, dan berusaha membuat saya melakukan aktivitas intim, yang terus saya tolak,” ujarnya.
Ia juga mengaku pernah mengalami kejadian ketika Khan berdiri di belakangnya dan meraba payudaranya saat dirinya sedang duduk bekerja.
“Saat itu saya merasa membeku dan tidak mampu melawan ataupun menghentikannya,” katanya.
Ashraph kembali membantah seluruh tuduhan tersebut.
“Tuduhan ini bukan hal baru. Semuanya sudah menjadi bagian dari keseluruhan bukti yang diperiksa bersama kesaksian lebih dari 30 saksi serta keterangan Tuan Khan sendiri. Keseluruhan bukti justru menunjukkan gambaran yang sangat berbeda,” ujarnya.
Patricia mengatakan dirinya terdorong untuk berbicara setelah membaca berbagai pemberitaan mengenai tuduhan terhadap Khan.
“Ketika itu terjadi pada saya, saya merasa sangat sendirian. Seperti banyak korban lainnya, saya berpikir mungkin hanya saya yang mengalami perilaku seperti itu,” katanya.
Menurut Patricia, selama bertahun-tahun Khan justru semakin memiliki kekuasaan yang besar dan menjadi semakin berani.
Menanti Keputusan Negara-Negara Anggota ICC
Hampir dua tahun telah berlalu sejak tuduhan pertama kali muncul di media internasional.
Proses penyelidikan tersebut menuai kritik, baik dari Khan maupun pihak lain, karena dianggap berlarut-larut dan rumit.
Dalam pernyataannya, badan pengawas ICC mengatakan keputusan menskors Khan didasarkan pada laporan investigasi OIOS, bukti pendukung, masukan panel ahli hukum ad hoc, serta dokumen tertulis lainnya.
Sementara itu, Khan dan tim hukumnya menilai proses investigasi tidak adil karena melibatkan mekanisme dan aturan baru yang menurut mereka tidak semestinya diterapkan.
Khan juga berpendapat bahwa hanya Independent Oversight Mechanism (IOM) milik ICC yang berwenang menyelidiki pengaduan terhadap pejabat pengadilan, sehingga investigasi OIOS seharusnya dihentikan karena dianggap memiliki cacat prosedur.
Menjelang keputusan negara-negara anggota ICC mengenai masa depan Khan, Sarah mengaku langkahnya melaporkan dugaan pelecehan tersebut telah merusak reputasi dan membuat masa depannya tidak menentu.
“Saya sangat gugup dan merasa dipermalukan. Saya tahu akan menghadapi banyak serangan setelah ini dipublikasikan. Ini bukan sesuatu yang mudah,” katanya.
“Saya telah menghabiskan seluruh tabungan saya. Jika dipikir-pikir, saya benar-benar telah merusak prospek karier saya sendiri. Tetapi saya juga percaya bahwa ini sangat penting.”
Sarah menegaskan hasil pemungutan suara nanti tidak akan mengubah apa yang telah dialaminya.
“Saya bekerja di ICC karena saya percaya pada misi lembaga ini. Justru itulah alasan saya begitu lama tidak berbicara, karena saya takut tindakan saya akan memengaruhi pekerjaan pengadilan.”
“Jauh sebelum saya bergabung, ICC sudah menghadapi berbagai tekanan, bahkan sejak masa Jaksa Fatou Bensouda. Kritik akan selalu ada. Namun saya tidak percaya legitimasi pengadilan ini seharusnya bergantung pada reputasi satu orang saja.”
