Militer Israel menyatakan telah memulai gelombang serangan baru di berbagai wilayah Lebanon setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengumumkan negaranya akan meningkatkan intensitas serangan terhadap Hizbullah.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan mereka melancarkan serangan ke target-target Hizbullah di Lembah Bekaa, Lebanon timur, serta sejumlah wilayah lain di negara tersebut.
Hizbullah menyatakan telah membalas dengan meluncurkan 22 serangan drone dan roket yang menargetkan tentara Israel, tank, barak militer, dan sejumlah bangunan.
Awal bulan ini, Lebanon dan Israel sepakat memperpanjang gencatan senjata selama 45 hari, meski bentrokan sporadis masih terus terjadi.
Dalam pernyataan video pada Senin malam, Netanyahu mengatakan Israel “sedang berperang melawan Hizbullah” dan militer telah diperintahkan untuk “memberikan pukulan telak”.
Netanyahu juga mengklaim operasi militer Israel terhadap Hizbullah telah “melenyapkan lebih dari 600 teroris”.
“Namun yang kini dibutuhkan adalah meningkatkan serangan dan meningkatkan intensitasnya,” ujar Netanyahu.
Dua menteri sayap kanan Israel, Bezalel Smotrich dan Itamar Ben Gvir, turut mendesak perluasan operasi militer, termasuk hingga ke Beirut.
Hizbullah mengatakan mereka menggunakan drone dan roket untuk menyerang sejumlah lokasi di Lebanon selatan dan Israel utara pada Senin, sebagai respons atas apa yang mereka sebut sebagai “pelanggaran gencatan senjata” oleh Israel.
Pejabat Lebanon dan Israel — yang tidak memiliki hubungan diplomatik resmi — dijadwalkan melanjutkan negosiasi di Washington pekan depan.
Presiden Lebanon Joseph Aoun menuntut penarikan penuh pasukan Israel dari Lebanon selatan.
Sejak kesepakatan gencatan senjata ditandatangani pada 16 April, serangan Israel sebagian besar terfokus di wilayah selatan Lebanon, tempat pasukan Israel masih bertahan dan yang menurut Israel menjadi lokasi peluncuran drone serta roket.
Lembah Bekaa yang menjadi sasaran serangan pada Senin malam berada di Lebanon timur, dekat perbatasan Suriah.
Perluasan operasi Israel terjadi di tengah desakan pemerintah Iran agar kesepakatan damai yang tengah dirintis dengan Amerika Serikat mencakup gencatan senjata penuh di seluruh front konflik regional.
Pemerintah Israel sendiri menolak penghentian perang melawan Hizbullah.
Sejak gencatan senjata awal disepakati, 10 tentara Israel dilaporkan tewas. Sementara itu, lebih dari 400 orang di Lebanon meninggal akibat bombardir besar-besaran Israel dalam periode yang sama, termasuk banyak petugas medis dan pekerja layanan darurat.
Israel juga hampir setiap hari mengeluarkan perintah evakuasi bagi warga Lebanon di wilayah-wilayah baru di selatan negara itu, menambah jumlah pengungsi yang kini telah melampaui satu juta orang.
Lebanon terseret ke dalam putaran konflik terbaru setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari. Hizbullah, sekutu Iran, kemudian menembakkan roket ke Israel sebagai balasan atas serangan Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Israel merespons dengan kampanye serangan udara di seluruh Lebanon serta invasi darat. Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, lebih dari 3.000 orang tewas akibat serangan Israel.
Pemerintah Lebanon saat ini terus berupaya melucuti persenjataan Hizbullah, tetapi menegaskan bahwa gencatan senjata diperlukan agar proses yang mereka sebut rumit itu dapat diselesaikan.
