NASA telah mengumumkan empat astronaut yang akan menjalankan misi Artemis III, yang dijadwalkan diluncurkan pada 2027.
Meski menjadi salah satu tahapan paling penting dalam program eksplorasi Bulan Amerika Serikat, misi ini tidak akan mendarat di Bulan. Sebaliknya, para astronaut akan terbang ke orbit rendah Bumi dan melakukan pertemuan serta penyambungan (docking) dengan prototipe wahana pendarat Bulan sebagai latihan sebelum pendaratan manusia yang sesungguhnya.
Misi Artemis IV yang dijadwalkan pada 2028 diharapkan menjadi momen kembalinya astronaut Amerika ke permukaan Bulan untuk pertama kalinya sejak 1972.
Apa yang Akan Dilakukan Artemis III?
Artemis III akan diluncurkan menggunakan roket Space Launch System (SLS) milik NASA dari Kennedy Space Center di Florida. Tanggal peluncuran resminya masih belum diumumkan.
Keempat astronaut akan terbang menggunakan kapsul Orion, kendaraan yang sama yang digunakan dalam misi Artemis II pada April 2026.
Berbeda dengan Artemis II, kapsul Orion dalam Artemis III tidak akan mengelilingi Bulan. Sebaliknya, wahana itu akan tetap berada di orbit rendah Bumi pada ketinggian sekitar 467 kilometer dari permukaan planet, atau sekitar 64 kilometer lebih tinggi daripada International Space Station (ISS).
Di orbit tersebut, Orion akan bertemu dan melakukan docking dengan prototipe pendarat Bulan yang disebut pathfinder.
Setidaknya satu anggota kru diperkirakan akan masuk ke dalam wahana pendarat untuk menguji sistem palka, koneksi pendukung kehidupan, dan baju antariksa baru buatan Axiom.
Baju antariksa tersebut dirancang oleh rumah mode Italia Prada dan dikembangkan oleh Axiom Space yang berbasis di Houston.
Axiom bertanggung jawab atas aspek teknis, termasuk sistem pendingin cadangan jika sistem utama gagal berfungsi.
Sementara Prada mengembangkan lapisan pakaian bagian dalam yang dirancang untuk mendistribusikan air dingin ke seluruh tubuh astronaut selama aktivitas berjalan di Bulan yang dapat berlangsung hingga delapan jam dalam misi Artemis IV mendatang.
Kru Artemis III akan berada di dalam Orion sedikit lebih lama dibandingkan sembilan hari yang dijalani kru Artemis II.
Dalam perjalanan pulang, mereka juga akan menguji pelindung panas generasi terbaru saat kapsul memasuki kembali atmosfer Bumi dengan kecepatan sangat tinggi.
Mengapa Artemis III Tidak Jadi Mendarat di Bulan?
Awalnya, Artemis III dirancang sebagai misi pendaratan manusia pertama di Bulan sejak misi Apollo 17 pada 1972.
Namun pada Februari 2026, NASA mengubah rencana tersebut.
Penyebab utamanya adalah wahana pendarat Starship milik SpaceX yang akan digunakan untuk membawa astronaut ke permukaan Bulan belum siap digunakan.
Selain itu, teknologi pengisian bahan bakar di orbit yang menjadi syarat utama operasi Starship juga belum pernah berhasil didemonstrasikan.
Daripada terus menunda jadwal, NASA memutuskan mengubah Artemis III menjadi misi latihan docking berawak.
Dengan demikian, saat wahana pendarat benar-benar siap digunakan nanti, prosedur docking dan penggunaan baju antariksa sudah lebih dulu diuji langsung oleh manusia.
Laporan United States Government Accountability Office pada Maret 2026 menyebut SpaceX baru mencapai “kemajuan terbatas” dalam pengembangan teknologi pengisian bahan bakar di orbit.
Demonstrasi pertama teknologi tersebut secara optimistis dijadwalkan berlangsung pada akhir 2026.
Apa Tujuan Artemis IV dan Artemis V?
NASA berharap Artemis IV pada 2028 menjadi pendaratan manusia pertama di Bulan pada era modern.
Para astronaut diperkirakan akan mendarat di wilayah kutub selatan Bulan dan tinggal di sana selama sekitar satu minggu.
Es air yang tersimpan di kawah-kawah yang selalu berada dalam bayangan diyakini dapat dimanfaatkan pada masa depan sebagai sumber air minum, oksigen, dan bahan bakar roket.
Program Artemis memiliki tujuan yang jauh lebih besar daripada sekadar mendarat di Bulan.
Melalui program Moon Base yang diperkenalkan Administrator NASA, Jared Isaacman, pada Mei 2026, badan antariksa tersebut menargetkan pembangunan kehadiran manusia jangka panjang di Bulan.
Program itu dibagi menjadi tiga tahap:
- Sebelum 2029: wahana robotik dan drone penjelajah akan memetakan wilayah kutub selatan Bulan serta mengirimkan instrumen ilmiah.
- Mulai 2029: misi berawak berulang akan memperluas lokasi penelitian di Bulan.
- Pertengahan 2030-an: NASA menargetkan pembangunan habitat semi permanen yang memungkinkan astronaut tinggal dalam jangka waktu panjang.
Pangkalan semacam itu akan memungkinkan penelitian ilmiah berkelanjutan, pengujian teknologi untuk misi ke Mars, serta eksploitasi sumber daya Bulan.
Selain itu, proyek tersebut juga dipandang sebagai upaya mempertahankan keunggulan Amerika Serikat dalam perlombaan antariksa baru melawan China.
Mampukah Jadwal NASA Terpenuhi?
Banyak pakar meragukan target ambisius NASA dapat tercapai sesuai jadwal.
Kekhawatiran terbesar berpusat pada lambatnya pengembangan Starship milik SpaceX dan belum adanya uji coba pengisian bahan bakar di orbit.
Tantangan lain muncul pada 28 Mei 2026 ketika satu-satunya landasan peluncuran milik Blue Origin di Cape Canaveral mengalami kerusakan serius setelah sebuah roket meledak saat pengujian mesin.
Perbaikan fasilitas peluncuran New Glenn diperkirakan membutuhkan waktu berbulan-bulan.
Situasi ini memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan Blue Origin menyediakan wahana pendarat Blue Moon Mk2 yang dibutuhkan untuk misi Artemis V.
Menurut Dr. Simeon Barber dari Open University, bukan tidak mungkin China justru lebih dulu kembali ke Bulan.
“Saya tidak akan terkejut jika China tiba di Bulan lebih dahulu,” katanya
Menurut Barber, komponen paling sulit dalam keseluruhan program adalah wahana pendarat Bulan, yang justru berada di luar kendali langsung NASA.
Apa yang Terjadi dalam Artemis II?
Misi Artemis II diluncurkan pada 1 April 2026 dari Kennedy Space Center.
Empat astronaut yang terlibat adalah Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan astronaut dari Canadian Space Agency, Jeremy Hansen.
Mereka menjadi manusia pertama yang melakukan perjalanan melampaui orbit rendah Bumi sejak 1972.
Selama sepuluh hari, Orion mengelilingi sisi jauh Bulan, melintas hingga sekitar 6.400 kilometer dari permukaannya, dan mencapai jarak maksimum sekitar 406.800 kilometer dari Bumi.
Itu merupakan perjalanan manusia terjauh dalam sejarah.
Kapsul kemudian mendarat dengan aman di lepas pantai San Diego pada 10 April 2026.
Misi tersebut berhasil menguji sistem pendukung kehidupan, komunikasi, dan pelindung panas Orion selama perjalanan pulang dari Bulan.
Namun, keberhasilan itu hanyalah langkah awal.
Tantangan terbesar dalam program Artemis masih berada di depan.
Kapan Terakhir Kali Manusia Menginjak Bulan?
Misi manusia terakhir ke Bulan adalah Apollo 17 pada Desember 1972.
Astronaut Eugene Cernan dan Harrison Schmitt menghabiskan tiga hari di permukaan Bulan di Lembah Taurus-Littrow.
Sejak saat itu, tidak ada lagi manusia yang menginjakkan kaki di Bulan.
Secara keseluruhan, 24 astronaut Amerika pernah melakukan perjalanan ke Bulan dan 12 di antaranya berjalan di permukaannya, seluruhnya dalam program Apollo.
Negara Lain yang Ingin Mengirim Manusia ke Bulan
China menargetkan pendaratan astronaut di Bulan sebelum 2030.
Negara tersebut telah menguji kapsul Mengzhou dan wahana pendarat Lanyue serta sedang mengembangkan roket berat Long March 10.
India juga menargetkan pengiriman manusia ke Bulan sekitar 2040 setelah keberhasilan misi Chandrayaan-3 mendarat di dekat kutub selatan Bulan pada 2023.
Sementara itu, Rusia bergabung dalam proyek pembangunan pangkalan Bulan yang dipimpin China untuk pertengahan 2030-an, meskipun sanksi internasional, keterbatasan dana, dan masalah teknis membuat kontribusinya masih dipertanyakan.
Astronaut dari Eropa dan Jepang juga diperkirakan akan terlibat dalam misi-misi Artemis berikutnya, menandai dimulainya era baru perlombaan menuju Bulan yang semakin kompetitif setelah lebih dari setengah abad vakum.
