Close Menu

    Subscribe to Updates

    Dapatkan informasi terbaru dari mayoritas.com

    Apa yang Viral?

    Mantan Asisten Jeffrey Epstein Bantah Tahu Kejahatannya, Sebut Bosnya “Manipulator Ulung”

    10/06/2026

    Kerusuhan Anti-Imigran Meletus di Irlandia Utara Usai Serangan Pisau, Rumah dan Kendaraan Dibakar

    10/06/2026

    AI yang Sempat Dianggap Terlalu Berbahaya untuk Publik Kini Dirilis, Anthropic Akui Risikonya

    10/06/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Home
    • POLITIK
      • Politik Amerika
      • Politik Asia
      • Politik Dunia
      • Politik Eropa
      • Politik Nasional
      • Politik Timur Tengah
    • Nasional

      Mantan Asisten Jeffrey Epstein Bantah Tahu Kejahatannya, Sebut Bosnya “Manipulator Ulung”

      10/06/2026

      Kerusuhan Anti-Imigran Meletus di Irlandia Utara Usai Serangan Pisau, Rumah dan Kendaraan Dibakar

      10/06/2026

      AI yang Sempat Dianggap Terlalu Berbahaya untuk Publik Kini Dirilis, Anthropic Akui Risikonya

      10/06/2026

      Inggris dan Sekutunya Jatuhkan Sanksi terhadap Jaringan Pendukung Kekerasan Pemukim Israel di Tepi Barat

      10/06/2026

      NASA Umumkan Kru Artemis III, Misi Kunci Menuju Kembalinya Manusia ke Bulan

      10/06/2026
    • TEKNOLOGI

      AI yang Sempat Dianggap Terlalu Berbahaya untuk Publik Kini Dirilis, Anthropic Akui Risikonya

      10/06/2026

      NASA Umumkan Kru Artemis III, Misi Kunci Menuju Kembalinya Manusia ke Bulan

      10/06/2026

      Raksasa Chip Dunia Buka Peluang Naikkan Harga, Biaya Produksi Terus Membengkak

      10/06/2026

      ‘Bola Kristal’ di Angkasa: Citra Baru Ungkap Keindahan Spektakuler Bintang yang Sedang Sekarat

      09/06/2026

      OpenAI Resmi Ajukan IPO, Siap Gelar Debut Pasar yang Bisa Jadi Terbesar dalam Sejarah Industri AI

      09/06/2026
    • Hiburan
    • Belanja Sekarang
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    Mayoritas.com
    Langganan Sekarang
    TOPIK PANAS
    • Olahraga
    • Ekonomi & Pasar
      • Bisnis
      • Ekonomi
      • Keuangan
    • Wisata & Kuliner
    • Belanja Sekarang
    Mayoritas.com
    Home»Ekonomi & Pasar»NASA Umumkan Kru Artemis III, Misi Kunci Menuju Kembalinya Manusia ke Bulan
    Ekonomi & Pasar

    NASA Umumkan Kru Artemis III, Misi Kunci Menuju Kembalinya Manusia ke Bulan

    joveBy jove10/06/2026No Comments6 Mins Read0 Views
    Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    NASA telah mengumumkan empat astronaut yang akan menjalankan misi Artemis III, yang dijadwalkan diluncurkan pada 2027.

    Meski menjadi salah satu tahapan paling penting dalam program eksplorasi Bulan Amerika Serikat, misi ini tidak akan mendarat di Bulan. Sebaliknya, para astronaut akan terbang ke orbit rendah Bumi dan melakukan pertemuan serta penyambungan (docking) dengan prototipe wahana pendarat Bulan sebagai latihan sebelum pendaratan manusia yang sesungguhnya.

    Misi Artemis IV yang dijadwalkan pada 2028 diharapkan menjadi momen kembalinya astronaut Amerika ke permukaan Bulan untuk pertama kalinya sejak 1972.

    Apa yang Akan Dilakukan Artemis III?

    Artemis III akan diluncurkan menggunakan roket Space Launch System (SLS) milik NASA dari Kennedy Space Center di Florida. Tanggal peluncuran resminya masih belum diumumkan.

    Keempat astronaut akan terbang menggunakan kapsul Orion, kendaraan yang sama yang digunakan dalam misi Artemis II pada April 2026.

    Berbeda dengan Artemis II, kapsul Orion dalam Artemis III tidak akan mengelilingi Bulan. Sebaliknya, wahana itu akan tetap berada di orbit rendah Bumi pada ketinggian sekitar 467 kilometer dari permukaan planet, atau sekitar 64 kilometer lebih tinggi daripada International Space Station (ISS).

    Di orbit tersebut, Orion akan bertemu dan melakukan docking dengan prototipe pendarat Bulan yang disebut pathfinder.

    Setidaknya satu anggota kru diperkirakan akan masuk ke dalam wahana pendarat untuk menguji sistem palka, koneksi pendukung kehidupan, dan baju antariksa baru buatan Axiom.

    Baju antariksa tersebut dirancang oleh rumah mode Italia Prada dan dikembangkan oleh Axiom Space yang berbasis di Houston.

    Axiom bertanggung jawab atas aspek teknis, termasuk sistem pendingin cadangan jika sistem utama gagal berfungsi.

    Sementara Prada mengembangkan lapisan pakaian bagian dalam yang dirancang untuk mendistribusikan air dingin ke seluruh tubuh astronaut selama aktivitas berjalan di Bulan yang dapat berlangsung hingga delapan jam dalam misi Artemis IV mendatang.

    Kru Artemis III akan berada di dalam Orion sedikit lebih lama dibandingkan sembilan hari yang dijalani kru Artemis II.

    Dalam perjalanan pulang, mereka juga akan menguji pelindung panas generasi terbaru saat kapsul memasuki kembali atmosfer Bumi dengan kecepatan sangat tinggi.

    Mengapa Artemis III Tidak Jadi Mendarat di Bulan?

    Awalnya, Artemis III dirancang sebagai misi pendaratan manusia pertama di Bulan sejak misi Apollo 17 pada 1972.

    Namun pada Februari 2026, NASA mengubah rencana tersebut.

    Penyebab utamanya adalah wahana pendarat Starship milik SpaceX yang akan digunakan untuk membawa astronaut ke permukaan Bulan belum siap digunakan.

    Selain itu, teknologi pengisian bahan bakar di orbit yang menjadi syarat utama operasi Starship juga belum pernah berhasil didemonstrasikan.

    Daripada terus menunda jadwal, NASA memutuskan mengubah Artemis III menjadi misi latihan docking berawak.

    Dengan demikian, saat wahana pendarat benar-benar siap digunakan nanti, prosedur docking dan penggunaan baju antariksa sudah lebih dulu diuji langsung oleh manusia.

    Laporan United States Government Accountability Office pada Maret 2026 menyebut SpaceX baru mencapai “kemajuan terbatas” dalam pengembangan teknologi pengisian bahan bakar di orbit.

    Demonstrasi pertama teknologi tersebut secara optimistis dijadwalkan berlangsung pada akhir 2026.

    Apa Tujuan Artemis IV dan Artemis V?

    NASA berharap Artemis IV pada 2028 menjadi pendaratan manusia pertama di Bulan pada era modern.

    Para astronaut diperkirakan akan mendarat di wilayah kutub selatan Bulan dan tinggal di sana selama sekitar satu minggu.

    Es air yang tersimpan di kawah-kawah yang selalu berada dalam bayangan diyakini dapat dimanfaatkan pada masa depan sebagai sumber air minum, oksigen, dan bahan bakar roket.

    Program Artemis memiliki tujuan yang jauh lebih besar daripada sekadar mendarat di Bulan.

    Melalui program Moon Base yang diperkenalkan Administrator NASA, Jared Isaacman, pada Mei 2026, badan antariksa tersebut menargetkan pembangunan kehadiran manusia jangka panjang di Bulan.

    Program itu dibagi menjadi tiga tahap:

    • Sebelum 2029: wahana robotik dan drone penjelajah akan memetakan wilayah kutub selatan Bulan serta mengirimkan instrumen ilmiah.
    • Mulai 2029: misi berawak berulang akan memperluas lokasi penelitian di Bulan.
    • Pertengahan 2030-an: NASA menargetkan pembangunan habitat semi permanen yang memungkinkan astronaut tinggal dalam jangka waktu panjang.

    Pangkalan semacam itu akan memungkinkan penelitian ilmiah berkelanjutan, pengujian teknologi untuk misi ke Mars, serta eksploitasi sumber daya Bulan.

    Selain itu, proyek tersebut juga dipandang sebagai upaya mempertahankan keunggulan Amerika Serikat dalam perlombaan antariksa baru melawan China.

    Mampukah Jadwal NASA Terpenuhi?

    Banyak pakar meragukan target ambisius NASA dapat tercapai sesuai jadwal.

    Kekhawatiran terbesar berpusat pada lambatnya pengembangan Starship milik SpaceX dan belum adanya uji coba pengisian bahan bakar di orbit.

    Tantangan lain muncul pada 28 Mei 2026 ketika satu-satunya landasan peluncuran milik Blue Origin di Cape Canaveral mengalami kerusakan serius setelah sebuah roket meledak saat pengujian mesin.

    Perbaikan fasilitas peluncuran New Glenn diperkirakan membutuhkan waktu berbulan-bulan.

    Situasi ini memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan Blue Origin menyediakan wahana pendarat Blue Moon Mk2 yang dibutuhkan untuk misi Artemis V.

    Menurut Dr. Simeon Barber dari Open University, bukan tidak mungkin China justru lebih dulu kembali ke Bulan.

    “Saya tidak akan terkejut jika China tiba di Bulan lebih dahulu,” katanya

    Menurut Barber, komponen paling sulit dalam keseluruhan program adalah wahana pendarat Bulan, yang justru berada di luar kendali langsung NASA.

    Apa yang Terjadi dalam Artemis II?

    Misi Artemis II diluncurkan pada 1 April 2026 dari Kennedy Space Center.

    Empat astronaut yang terlibat adalah Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan astronaut dari Canadian Space Agency, Jeremy Hansen.

    Mereka menjadi manusia pertama yang melakukan perjalanan melampaui orbit rendah Bumi sejak 1972.

    Selama sepuluh hari, Orion mengelilingi sisi jauh Bulan, melintas hingga sekitar 6.400 kilometer dari permukaannya, dan mencapai jarak maksimum sekitar 406.800 kilometer dari Bumi.

    Itu merupakan perjalanan manusia terjauh dalam sejarah.

    Kapsul kemudian mendarat dengan aman di lepas pantai San Diego pada 10 April 2026.

    Misi tersebut berhasil menguji sistem pendukung kehidupan, komunikasi, dan pelindung panas Orion selama perjalanan pulang dari Bulan.

    Namun, keberhasilan itu hanyalah langkah awal.

    Tantangan terbesar dalam program Artemis masih berada di depan.

    Kapan Terakhir Kali Manusia Menginjak Bulan?

    Misi manusia terakhir ke Bulan adalah Apollo 17 pada Desember 1972.

    Astronaut Eugene Cernan dan Harrison Schmitt menghabiskan tiga hari di permukaan Bulan di Lembah Taurus-Littrow.

    Sejak saat itu, tidak ada lagi manusia yang menginjakkan kaki di Bulan.

    Secara keseluruhan, 24 astronaut Amerika pernah melakukan perjalanan ke Bulan dan 12 di antaranya berjalan di permukaannya, seluruhnya dalam program Apollo.

    Negara Lain yang Ingin Mengirim Manusia ke Bulan

    China menargetkan pendaratan astronaut di Bulan sebelum 2030.

    Negara tersebut telah menguji kapsul Mengzhou dan wahana pendarat Lanyue serta sedang mengembangkan roket berat Long March 10.

    India juga menargetkan pengiriman manusia ke Bulan sekitar 2040 setelah keberhasilan misi Chandrayaan-3 mendarat di dekat kutub selatan Bulan pada 2023.

    Sementara itu, Rusia bergabung dalam proyek pembangunan pangkalan Bulan yang dipimpin China untuk pertengahan 2030-an, meskipun sanksi internasional, keterbatasan dana, dan masalah teknis membuat kontribusinya masih dipertanyakan.

    Astronaut dari Eropa dan Jepang juga diperkirakan akan terlibat dalam misi-misi Artemis berikutnya, menandai dimulainya era baru perlombaan menuju Bulan yang semakin kompetitif setelah lebih dari setengah abad vakum.

    artemis astronot bulan luar angkasa nasa penerbangan
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    jove
    • Website

    Related Posts

    Hukum Kriminal

    Mantan Asisten Jeffrey Epstein Bantah Tahu Kejahatannya, Sebut Bosnya “Manipulator Ulung”

    10/06/2026
    Hukum Kriminal

    Kerusuhan Anti-Imigran Meletus di Irlandia Utara Usai Serangan Pisau, Rumah dan Kendaraan Dibakar

    10/06/2026
    Ekonomi & Pasar

    AI yang Sempat Dianggap Terlalu Berbahaya untuk Publik Kini Dirilis, Anthropic Akui Risikonya

    10/06/2026
    Ekonomi & Pasar

    Inggris dan Sekutunya Jatuhkan Sanksi terhadap Jaringan Pendukung Kekerasan Pemukim Israel di Tepi Barat

    10/06/2026
    Hukum Kriminal

    Protes Langka Perempuan di Afghanistan Berujung Bentrok, Dua Orang Dilaporkan Tewas

    10/06/2026
    Hiburan

    Wasit Ditolak Masuk AS, Piala Dunia 2026 Memunculkan Pertanyaan Besar: Apakah FIFA Kehilangan Kendali?

    10/06/2026
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Langganan Berita

    Dapatkan berita olahraga terkini dari NewsSite tentang dunia, olahraga, dan politik.

    Pilihan Editor

    Mantan Asisten Jeffrey Epstein Bantah Tahu Kejahatannya, Sebut Bosnya “Manipulator Ulung”

    10/06/2026

    Kerusuhan Anti-Imigran Meletus di Irlandia Utara Usai Serangan Pisau, Rumah dan Kendaraan Dibakar

    10/06/2026

    AI yang Sempat Dianggap Terlalu Berbahaya untuk Publik Kini Dirilis, Anthropic Akui Risikonya

    10/06/2026

    Inggris dan Sekutunya Jatuhkan Sanksi terhadap Jaringan Pendukung Kekerasan Pemukim Israel di Tepi Barat

    10/06/2026
    Info Terbaru

    Apa Itu Lifestyle Sedentary? Menimbulkan Banyak Penyakit Hingga Dapat Terkena Kanker

    20/01/2021

    Pebasket Zhang Ziyu Setinggi 220M Menarik Perhatian Usai Mengalahkan Tim U-18 Indonesia

    15/01/2021

    Kronologi Atlet Bulu Tangkis China Zhang Zhi Jie Meninggal Di Ajang AJC 2024

    15/01/2021
    Advertisement
    LOGO_FOOTER_MAYORITAS
    Facebook X (Twitter) Pinterest Vimeo WhatsApp TikTok Instagram

    News

    • Ekonomi & Pasar
    • Olahraga
    • Opini
    • Otomotif
    • Wisata Kuliner
    • Video Unggulan
    • Kesehatan

    Company

    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Hak Cipta
    • Disclaimer
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Panduan Kebijakan

    Layanan

    • Toko
    • Customer Support
    • Karir
    • Tentang kami
    • Hubungi Kami
    • Akses login

    Langganan Updates

    Dapatkan informasi terkinni seputar fakta informasi dunia, anda bisa berlangganan melalui email anda

    © 2026 Mayoritas.com
    • Privacy Policy
    • Term of Service
    • Contact us

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.