Kapal tanker MT Honour 25 yang mengangkut 17 awak dilaporkan dibajak perompak di perairan Somalia. Empat di antaranya merupakan warga negara Indonesia (WNI), termasuk kapten kapal, Ashari Samadikun, asal Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
Insiden penyanderaan terjadi saat kapal berlayar dari Oman menuju Somalia pada Selasa malam (21/4). Istri Ashari, Santi Sanaya, mengungkapkan bahwa suaminya sempat mengirim pesan suara melalui WhatsApp sekitar pukul 19.30 Wita, memberi tahu bahwa kapal mereka dikepung oleh perompak.
Setelah menerima pesan tersebut, Santi segera mencoba menghubungi kembali, namun tidak mendapat respons. Beberapa jam kemudian, komunikasi benar-benar terputus.
“Selang beberapa jam, ponselnya sudah tidak aktif. Komunikasi saya benar-benar terputus dengan dia,” ujar Santi saat ditemui di kediamannya di Desa Pacellekang, Kecamatan Pattallassang, Gowa, Senin (27/4/2026).
Belakangan diketahui, ponsel seluruh awak kapal disita oleh perompak sejak hari pertama pembajakan. Baru pada Jumat (24/4), Ashari diberi kesempatan menggunakan telepon kapal untuk menghubungi perusahaan dan keluarganya.
Dalam komunikasi tersebut, Ashari menceritakan kondisi mencekam yang dialami selama penyergapan, termasuk beberapa kali ditodong senjata oleh perompak. Ia juga sempat berusaha meredakan situasi dengan mengaku sebagai seorang Muslim saat berhadapan langsung dengan para pelaku.
Menurut penuturan Santi, pendekatan itu sempat membuat situasi sedikit mereda. “Suami saya menyapa dengan ‘Assalamualaikum, jangan tembak saya. Saya Muslim’. Perompak kemudian merespons bahwa mereka juga Muslim,” katanya.
Kontak kembali terjadi pada Minggu malam (26/4). Saat itu, Ashari menyampaikan bahwa para perompak tengah bernegosiasi dengan pihak perusahaan untuk meminta tebusan. Ia juga meminta keluarga tidak lagi menghubungi nomor kapal demi menghindari risiko jika perangkat tersebut digunakan oleh perompak.
Selama hampir sepekan disandera, kondisi awak kapal dilaporkan masih stabil. Mereka tetap mendapatkan makanan dan diperbolehkan menjalankan ibadah. Namun, situasi di kapal kerap berubah menjadi tegang, terutama ketika para perompak merasa terancam.
“Kalau mereka merasa ada ancaman, situasinya langsung mencekam. Suami saya beberapa kali ditodong senjata,” ungkap Santi.
Saat ini, para sandera disebut telah dibawa mendekati markas perompak yang berjarak sekitar tiga mil dari garis pantai. Jumlah perompak yang mengawasi kapal diperkirakan mencapai 30 orang.
Dari total 17 awak kapal, empat di antaranya adalah WNI, yakni Ashari Samadikun sebagai kapten kapal asal Gowa, Adi Faizal (perwira kedua) asal Bulukumba, Wahudinanto (chief officer) asal Pemalang, dan Fiki Mutakin asal Bogor. Sementara itu, kru lainnya terdiri dari 11 warga Pakistan, satu warga Sri Lanka, dan satu warga India.
Upaya Penyelamatan Terus Dikoordinasikan
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan turut mengambil langkah cepat dalam menangani kasus ini. Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman, menyatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk memastikan keselamatan para korban.
Ia menyebut keluarga korban telah dihubungkan dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) dan Kementerian Luar Negeri. Pemerintah daerah berkomitmen terus memantau perkembangan hingga seluruh awak kapal dapat dievakuasi dengan selamat.
“Kami telah menghubungkan keluarga dengan Kementerian P2MI dan Kementerian Luar Negeri, dan akan terus memonitor perkembangan kasus ini,” ujarnya, Selasa (28/4).
Sementara itu, Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Sulsel, Jayadi Nas, telah mengunjungi keluarga korban di Desa Paccellekang, Gowa, pada Senin (27/4) malam atas arahan gubernur.
Kunjungan tersebut bertujuan memastikan pendampingan bagi keluarga sekaligus memperkuat koordinasi lintas instansi. Selain itu, pihaknya juga memfasilitasi komunikasi langsung antara keluarga korban dan Wakil Menteri P2MI guna memperoleh informasi terkini.
“Atas instruksi gubernur, kami bergerak cepat berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan menghubungkan keluarga korban dengan Wakil Menteri melalui sambungan telepon,” kata Jayadi.
